~ •03• ~

3K 180 4
                                        

❦Hanya karena jalanku berbeda bukan berarti Aku tersesat❦

Helena sungguh geram mendengar seluruh lontaran yang perempuan itu ucapkan rasanya ia ingin menjahit mulut brengsek nya itu. entah mengapa kehadiran mereka membuat gadis itu sangat tidak terima memang kenapa kalau mereka pernah menjadi bagian di GHS padahal sekolah itu dahulu adalah sekolah terbaik.

"Jadi orang seperti apa yang kau maksud untuk pantas berada di sini?" tanya Ayanha entah mengapa dirinya juga sudah mulai kesal pada gadis itu gadis yang menginjak pulpen nya tempo hari.

Perempuan itu tersenyum miring.
"Yang jelas bukan seperti kalian yang pernah menjadi bagian dari sekolah terkutuk itu," ucapnya, perdebatan mereka tak lepas dari perhatian orang-orang yang berada di sana sedikit tertarik mungkin.

"Sepertinya kau lupa sesuatu, bahwa GHS adalah sekolah menengah atas terbaik dan tersohor yang setiap lulusannya mendapat jaminan untuk memilih universitas apapun apalagi kami yang menjadi bagian dari genius class," ungkap Ayanha dengan tenang dan orang-orang disana akui bahwa sampai saat ini lulusan GHS adalah orang-orang genius apalagi waktu itu mereka dengar bahwa setiap murid genius class memiliki iq diatas rata-rata.

"Terlepas dari sisi negatifnya kau tidak bisa menyangkal bahwa GHS masih menjadi yang terbaik, andai kasus seperti itu tidak terjadi maka semua ucapan mu itu tidak akan pernah ada. dan kalian semua pasti berlomba-lomba untuk menjadi bagian dari genius high school." lanjut Ayanha berhasil membuat gadis itu terdiam dengan tangan yang mengepal.

Melihat situasi yang semakin tegang akhirnya sang rektor angkat bicara dan menjelaskan kembali bahwa siapapun yang berhasil melewati tes seleksi untuk lolos ke Universitas ini, terlepas dari Alumni Sekolah manapun maka mereka berhak menjadi bagian dari University War.

acara pembukaan itu telah selesai satu persatu meninggalkan tempat nya untuk keluar menuju ruangan mereka. Ayanha berjalan menuju perempuan tadi bunyi sepatu flatshoes nya menyatu dengan lantai.
"Caroline lewlyn," ucap Ayanha membaca nametag gadis di hadapan nya ini.

"GHS adalah topik yang sensitif untuk kami jika kau mengungkit itu maka kau baru saja membuka luka lama, jadi jangan pernah membahas hal yang bukan bagianmu," peringat Ayanha memandang gadis berambut panjang bergelombang itu.

Caroline melangkah maju lalu menginjak salah satu kaki Ayanha.
"Jangan memerintahku," tekannya sembari terus menginjak kaki Ayanha lalu pergi begitu saja dengan sedikit menabrak Ayanha.

Ayanha melanjutkan langkahnya untuk turun dari podium aula itu namun sebuah suara menghentikan langkahnya.
"Apa yang spesial dari lulusan genius high School?" ungkap laki-laki dengan wajah tampan blasteran dan bertubuh atletis itu.

Ayanha menukik alisnya bingung orang itu adalah orang yang menabraknya tadi pagi, tidak mau ambil pusing Ayanha memilih melanjutkan langkahnya yang tertunda namun sebuah pulpen menghantam belakang kepalanya.
"What are you doing?"  kesal Ayanha memandang laki-laki itu.

"Jawab," balas laki-laki berwajah blasteran itu.

"Membahas GHS pada orang asing seperti mu hanya akan membuang waktu." jawab Ayanha.

Laki-laki itu tersenyum miring.
"Perspektif masyarakat ternyata benar," ucapnya membuat Ayanha memandang nya bingung.

"Bahwa kalian sudah mendapatkan cairan penambah iq itu," imbuhnya menatap Ayanha angkuh.

"Kau tidak mengetahui apapun tentang itu jadi jangan bersikap seakan-akan kau mengetahuinya!" ungkap Ayanha sembari menunjuk wajah laki-laki di depan nya ini.

"Jelaskan apa yang tidak ku ketahui," balasnya lalu duduk di salah satu kursi disana dengan menyilangkan satu kakinya sembari menatap Ayanha menunggu penjelasan.

Ayanha menarik nafas dalam-dalam kenapa orang di hadapan nya ini sangat menyebalkan.
"Tidak semua murid GHS mendapatkan cairan penambah IQ itu, hanya murid yang mendapat nilai rendah pada dua try out berturut-turut yang mendapatkan cairan itu dan kami bagian dari genius class tidak pernah remedial," jelas Ayanha menekan beberapa kalimat akhir.

"Jadi maksud mu adalah bahwa semua bagian dari genius class adalah orang-orang yang genius?" tanyanya dengan terkekeh sinis.

"Tidak ada yang mengatakan seperti itu, kau yang menyimpulkannya sendiri." balas Ayanha.

"Sejenius apa kalian? ," ungkap nya pada Ayanha.

Ayanha tersenyum miring mendengar hal itu.
"Yang jelas kami lebih dari apa yang kau pikirkan," balas Ayanha sombong.

"Ayanha Clevalandria Denver," ucapnya membaca nametag Ayanha.

"Bunga abadi arti nama yang indah," lanjutnya yang membuat Ayanha menatap dirinya dengan tatapan yang sulit diartikan, kalimat itu terasa dejavu baginya.

"Apa yang kau inginkan?" tanya Ayanha to the point.

"Nothing," ucapnya lalu berjalan pergi, saat melewati Ayanha ia menempelkan sesuatu di pipi Ayanha membuat Ayanha menggeram marah.

Ayanha mengambil sticky note di pipinya itu
Kemudian membacanya.
"Gerhana kyler Apollo," gumam Ayanha membaca tulisan di sticky note itu. apakah itu nama laki-laki tadi pikir Ayanha.

"Very unique and so annoying,"  gumam Ayanha.

Ayanha saat ini memilih berjalan-jalan mengitari area universitas ini banyak tempat  yang masih belum ia tahu. universitas ini benar-benar luas, panas matahari semakin terik dirinya memilih untuk duduk dibangku panjang yang berada dibawah pohon rindang itu.

"What are you doing here?" ucap laki-laki yang baru saja datang. Ayanha memandangnya dengan senang orang di hadapan nya ini adalah orang yang menemaninya di masa-masa sulit dan orang yang memberikan peony padanya saat ia merasa sedih seperti saat ia berada di pemakaman Angkara dan Selatan.

"Nothing," jawab Ayanha lalu menyenderkan kepalanya kepundak laki-laki itu.

"Fernando how's your day?" tanya Ayanha.

"Not bad and you?" balasnya, Fernando adalah sahabat Ayanha atau lebih tepatnya Ayanha yang menganggapnya sahabat karena sedari dulu ia menyimpan rasa pada gadis cantik disamping nya ini namun biarlah hubungan mereka seperti ini pikirnya, karena asal Ayanha bahagia itu sudah lebih dari cukup.

"Menyebalkan, dan sangat sangat menyebalkan," adu Ayanha pada Fernando membuat laki-laki itu terkekeh.

"Tentang pernyataan gadis tadi?" ungkap Fernando lalu diangguki Ayanha.

"Empat puluh persen itu, enam puluh persennya lagi ada hal lain," balas Ayanha kesal mengingat laki-laki yang bernama fenomena alam itu.

"What?" tanya Fernando sedikit penasaran dengan hal lain yang dimaksud Ayanha.

"Intinya sangat menyebalkan," ucap Ayanha.

"Whatever you want," balas Fernando.

Jadwal pelajaran hari ini belum terlalu padat hanya perkenalan singkat dari dosen yang mengajar dan sepertinya besok Ayanha harus keperpustakan universitas ini banyak hal yang ingin ia kejar dan ingin ia tahu.
ruangannya berada di lantai tiga dimana lantai dua untuk prodi astronomi.

Ayanha keluar dari kelas lalu berjalan menuju lift ia harus antri karena banyaknya maba yang baru selesai kelas. Ayanha masuk kesalah satu lift yang kosong namun pada saat pintu lift itu perlahan menutup sebuah uluran kaki membuat pintu lift itu tidak jadi tertutup. Ayanha melihat orang itu adalah Caroline dengan tangan yang bersidekap dada memandang Ayanha angkuh. kemudian ia masuk kedalam lift itu dan menekan tombol angka satu.

______TBC______

The UniversityTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang