~ •14• ~

2.2K 126 5
                                        

Tidak apa-apa untuk merayakan kesuksesan tapi lebih penting untuk memperhatikan pelajaran tentang kegagalan

Pada dasarnya keinginan sejati untuk bertahan hidup dari seleksi alam yang menyakitkan adalah mutlak hal setiap makhluk. namun sebuah sistem piramida adalah mutlak milik semesta,
yang paling berkuasa sampai dari yang paling terlemah.

hal itulah yang menjadi seleksi alam menyakitkan di University War.
dimana sebuah sistem piramida alam diterapkan yang dibalut dengan nama Triangle Hierarki.

Gerhana begitu berambisius untuk mendapatkan posisi puncak itu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Gerhana begitu berambisius untuk mendapatkan posisi puncak itu. ada hal yang akan bisa ia dapatkan dengan mudah jika memegang penuh kendali pada posisi teratas Triangle Hierarki.

Untuk menjadi yang pertama memerlukan sebuah usaha yang ekstra dan Gerhana akan melakukan apapun cara itu. namun satu hal yang sampai saat ini menjadi misteri yaitu tujuan Gerhana.

Layar iPad yang sedari tadi menampilkan sketsa susunan triangle hierarki itu seketika mati saat Gerhana melihat Ayanha turun dari taxi yang ditumpangi nya. Gerhana merogoh sesuatu dibalik saku jaket nya. sebuah hiasan pita yang akan ia kembalikan pada sang pemilik.

Iringan langkah kaki yang perlahan mendekati tujuan itu terus berjalan.
Ayanha mengernyit bingung saat tiba-tiba melihat Gerhana yang berada di hadapannya, Ayanha jadi berpikir apakah Gerhana akan melakukan sebuah trik sulap lagi dan jika itu benar sayang sekali Ayanha saat ini sedang tidak membawa uang cash.

"Ay coba lihat kebelakang." perintah Gerhana yang langsung dilakukan Ayanha dengan spontan. namun melihat tidak ada sesuatu yang menarik Ayanha kembali menoleh dan mendapati sebuah hiasan pita yang Gerhana sodorkan.

Ayanha mengambil hiasan pita itu lalu mengamatinya dengan saksama.
"Ini hiasan pita milik ku kenapa bisa ada di tangan mu?"

"Malam itu jatuh." jelas Gerhana singkat dan padat.

"Ini tidak disabotase kan?" tanya Ayanha.

Gerhana mengernyit bingung.
"Menurut mu? "

"Tidak mungkin. lagipula hal yang mustahil jika kau mengsabotase pita ini apalagi misalnya taruh kamera tersembunyi di dalam." balas Ayanha.

"Pemikiran yang berlebihan." komentar Gerhana dengan menyentil pelan pelipis Ayanha.

"Ckk. kalau benar bagaimana? ternyata ada kamera tersembunyi di pita ini."

"apa aku sebejat itu Ay?"

"Brengsek atau tidaknya seseorang. tidak bisa dinilai dari sudut pandang diri sendiri." ungkap Ayanha.

"By the way makasih untuk pita nya dan ak harus belajar." Ayanha berjalan pergi dan berbalik melambai pada Gerhana.

"Pertahankan selalu sifat tidak peka mu Ayanha." gumam Gerhana tersenyum tipis.

University War❦

Helaian rambut terus berjatuhan di atas lantai keramik itu. suara potongan gunting yang terus memangkas rambut itu terdengar nyaring di ruangan penuh kesunyian ini. senyuman puas terlihat dari wajah sang pemangkas rambut iu.
saat memandangi hasil karyanya yang tidak pernah mengecewakan.

Namun raut wajahnya berbanding terbalik dengan raut wajah seseorang yang menjadi client nya hari ini. hanya ada tangisan yang terpendam dan sorot mata penuh ketakutan benar-benar ekspresi yang tidak dia harapkan. harusnya client nya ini berbahagia untuk rambut barunya namun malah sebaliknya.

Hal itu membuat Caroline merasa kecewa. bersusah payah dia memangkas rambut panjang itu menjadi pendek namun hanya ada tatapan terluka yang ia dapatkan. Caroline menarik dengan kuat rambut itu. suara ringisan kesakitan keluar dari mulut yang menjadi korbannya hari ini. entah sudah keberapa kali ringisan kesakitan itu dikeluarkannya.

"Harusnya kau berterimakasih padaku. karena usahaku kau tidak perlu repot untuk ke salon." geram Caroline yang semakin memperkuat cengkeramannya.

"Tapi semua manusia memang seperti itu. tidak tahu caranya berterimakasih." Caroline menghempaskan cengkeramannya. lalu mengambil sesuatu dibalik saku seragamnya.

"Kau tahu? aku suka sekali dengan
yang namanya nail art jadi aku akan nenghias kuku mu dengan sangat
indah." Caroline membuka cat kuku itu. Tidak, atau lebih tepatnya korek api yang dibalut dengan desain seperti cat kuku. lalu dia merogoh pada saku seragamnya lagi mengambil sebatang rokok didalamnya.

Caroline menyalakan rokok itu. menghisap penuh nikmat batang nikotin itu. asap rokok itu ia arahkan pada wajah gadis yang saat ini sedang terikat di kursi dan membuat gadis itu terbatuk. inilah seni yang Caroline maksud. saat puntung rokok miliknya ia tekan ke telapak tangan gadis malang itu dan membuat nya menjerit.

sensasi terbakar sudah gadis malang itu rasakan. hanya ada tangisan dan jeritan kesakitan. namun apa peduli Caroline dia hanya sibuk pada batang nikotin yang menjadi candunya.
Caroline melempar puntung rokok itu lalu menginjak nya.

Dirinya tersenyum manis pada gadis malang yang saat ini tak berdaya.
"Kau tahu, aku bisa saja melukaimu lebih dari ini. tapi saat ini tidaklah bersikap berhati-hati itu jauh lebih baik."

"Berbahagialah karena kau selamat hari ini." Caroline bertepuk tangan dengan gembira.

Caroline melepaskan ikatan gadis itu.
Saat ini ada sesuatu yang jauh lebih penting yang harus ia targetkan dan melepaskan mangsa empuk di depan matanya saat ini. namun Caroline tetaplah Caroline gadis pembully.

Satu kakinya ia letakan diatas paha gadis yang saat ini masih terduduk di kursi itu. menekannya dengan kuat agar meninggalkan cinderamata.
"Ingat ini baik-baik. aku Caroline Lewlyn dan tidak ada seorang pun yang boleh melaporkan ku." ancam nya.

Membully dan membuat seseorang menderita adalah hal yang paling Caroline sukai. kebahagiaan yang hakiki saat Caroline mampu membuat mereka bertekuk lutut dan menangis di bawah kakinya.

Satu hal yang menjadi ciri khas Caroline setelah membully korbannya adalah dia akan memberikan bahkan melemparkan beberapa dolar pada si korban entah apa tujuannya tapi hal itulah yang seringkali Caroline lakukan.

Setelah melemparkan beberapa dolar pada gadis itu Caroline melenggang pergi seolah tak terjadi apapun. berbeda dengan korbannya yang terus menerus mengeluarkan liquid bening dengan tersedu-sedu sembari mengumpulkan helaian rambutnya yang berserakan di lantai.

_____TBC_____

The UniversityCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang