ꕥ Hal paling berharga dalam hidup saat engkau memiliki sahabat yang tulus ꕥ
Ayanha kini harus berhati-hati pasalnya dia sudah melakukan kesalahan dan jika itu berulang maka dia akan langsung keluar dari permainan ini. Ayanha menghela nafas memandangi hologram ilusi disekelilingnya, dia merasa akan tenggelam oleh ilusi itu.
Namun apa boleh dikata hari ini pun pasti akan ada yang tereliminasi, dan mungkin itu adalah dirinya.
Pion ular tangganya kini turun dari yang semula peringkat ke 31 dan kini pionnya berada pada bidak ke 25. Ayanha masih terpaku, matanya nanar melihat pionnya yang semakin jauh dari posisi aman. Jantungnya berdetak cepat, semakin meresap kenyataan bahwa hanya sedikit kesalahan lagi, dan dia akan tersingkir.
Kini dadu kedua muncul dan dengan segera Gerhana menekan option yes.
Tiba-tiba, lampu sorot beralih pada Gerhana yang sedang bersiap menjawab pertanyaan nalar. Wajahnya tetap tenang dan penuh konsentrasi, sementara layar holografis di hadapannya mulai memproyeksikan pertanyaan.
Permainan ini jelas berbahaya jika sang penjawab pertanyaan bernilai benar maka mereka yang akan ditenggelamkan perlahan oleh hologram. Namun jika penjawab pertanyaan salah maka dia mengorbankan dirinya sendiri.
Gerhana maju selangkah ke depan, cahaya biru dari hologram permainan menyinari wajahnya. Sorakan dari penonton perlahan memudar saat layar holografis menampilkan soal baru. Kali ini bukan soal sains, melainkan pertanyaan penalaran analitis. Ayanha yang berdiri tak jauh dari situ menatap tajam, berharap ada celah yang bisa ia manfaatkan.
Suara mekanis sistem permainan mengumumkan dengan nada tegas, “Giliran Gerhana. Pertanyaanmu adalah penalaran analitis. Berikut soalmu.
Di sebuah pesta, terdapat lima orang yang saling berjabat tangan. Jika setiap orang hanya bisa berjabat tangan dengan orang lain satu kali dan tidak bisa berjabat tangan dengan diri sendiri, berapa jumlah total jabat tangan yang terjadi di pesta tersebut?
Ayanha merasa lega sejenak. Ini bukan soal yang membutuhkan pengetahuan teknis yang rumit, tapi memerlukan logika yang tajam. Dia tahu Gerhana mahir dalam penalaran, tapi mungkin kali ini akan ada peluang baginya jika Gerhana lengah.
Gerhana tersenyum tipis, tanda bahwa ia sudah memahami pertanyaannya. "Jadi," katanya pelan, "ada lima orang di pesta. Setiap orang bisa berjabat tangan dengan orang lain satu kali. Jika orang pertama berjabat tangan dengan empat orang lainnya, itu adalah empat jabat tangan. Orang kedua sudah berjabat dengan orang pertama, jadi dia hanya berjabat dengan tiga orang lagi. Orang ketiga sudah berjabat dengan dua orang, jadi dia hanya perlu berjabat dengan dua orang lagi, dan begitu seterusnya."
Gerhana mulai menghitung dalam pikirannya. "Jumlah totalnya adalah 4 ditambah 3, ditambah 2, ditambah 1. Hasilnya adalah 10 jabat tangan total."
Hening sejenak, lalu suara sistem permainan mengumumkan, “Jawaban benar."
pion Gerhana maju beberapa langkah di papan permainan. Ayanha memandang pionnya sendiri yang masih terpuruk di peringkat bawah. Sementara itu, Gerhana berdiri tegak dengan senyum penuh kemenangan, siap menghadapi tantangan berikutnya.
Pertarungan masih belum selesai, soal-soal yang lebih menantang kini berdiri dihadapan mata. Dan probabilitas kelolosan kini jauh lebih sempit. Setiap kemungkinan bisa terjadi.
Ayanha mengamati kondisinya sekali lagi. Sangat berkemungkinan untuk tereliminasi.
Soal ketiga muncul dan kini Caroline yang menekan option yes. Pertanyaan tak terduga muncul yang menentukan nasib bidak ular tangga miliknya ke depan. Soal ketiga muncul di layar, kali ini Caroline yang menekan opsi "Yes" tanpa ragu. Dia tahu inilah saatnya; semua akan bergantung pada jawabannya. Saat layar menampilkan pertanyaan, alisnya mengerut—pertanyaan ini jauh lebih rumit dan analitis dari yang ia duga.
Jika kamu berada di persimpangan, dengan satu jalur menuju tangga yang cepat namun berisiko, dan jalur lainnya aman namun lambat, apa yang akan kamu prioritaskan? Pilihan mana yang paling strategis, dan mengapa?
Caroline membaca ulang pertanyaan itu, merasakan ketegangan di sekelilingnya. Ini bukan hanya soal cepat atau lambat, ini soal strategi dan pemahaman tentang permainan. Dia tahu, pilihannya tidak hanya menentukan nasib bidaknya, tetapi juga ritme permainan ke depan.
Dia berpikir keras. Jalur cepat jelas menggoda, tapi risiko tertelan ular terlalu besar. Sebuah langkah gegabah bisa mengirimnya jauh kembali ke dasar. Di sisi lain, jalur lambat memberi lebih banyak waktu untuk memperhitungkan langkah-langkah lawan dan meminimalkan risiko. Namun, terlalu lambat juga bisa membuatnya kalah bersaing dengan pemain lain.
Pandangannya beralih ke papan, matanya mengikuti jalur-jalur itu dengan teliti. Setiap gerak bidak memiliki konsekuensi. "Kecepatan tanpa kontrol adalah kekalahan," ia berbisik pada dirinya sendiri.
Tangannya berhenti di atas mouse, dia menulis jawabannya dengan mantap:
"Saya akan memilih jalur lambat yang aman karena permainan ini tidak hanya tentang mencapai puncak dengan cepat, tetapi juga memastikan tidak tergelincir kembali ke dasar. Langkah-langkah kecil yang konsisten lebih bernilai daripada langkah cepat yang penuh risiko."
Dia mengklik *submit*. Detik-detik menegangkan terasa panjang, tetapi ketika hasilnya muncul di layar, sebuah pesan kemenangan mengonfirmasi: "Jawabanmu benar. Keputusan strategismu menunjukkan pemahaman mendalam tentang permainan ini."
Caroline tersenyum kecil, bidaknya maju dengan pasti. Tidak terburu-buru, tapi jelas di jalan menuju kemenangan. Posisi terburuk kini berada di bidak Ayanha, bidaknya telah jauh tertinggal bahkan sekarang dia berada di posisi paling akhir dan dengan kondisi tubuhnya setengah tenggelam oleh layar hologram.
Jika pertanyaan selanjutnya dia gagal dalam menjawab atau tidak punya kesempatan dalam menjawab maka tamat sudah riwayat Ayanha. Dia akan tenggelam dalam hologram dan kemudian terlempar di tempat yang sebenarnya, ruangan tanpa ilusi hologram dan meninggalkan permainan dengan pulang sebagai sosok pecundang.
______TBC_______
KAMU SEDANG MEMBACA
The University
FanficJudul lama "University War" 𝚂𝚎𝚚𝚞𝚎𝚕 𝙶𝚎𝚗𝚒𝚞𝚜 𝚑𝚒𝚐𝚑 𝚜𝚌𝚑𝚘𝚘𝚕. 𝙳𝚒𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗𝚔𝚊𝚗 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝙶𝚎𝚗𝚒𝚞𝚜 𝙷𝚒𝚐𝚑 𝚂𝚌𝚑𝚘𝚘𝚕 𝚝𝚎𝚛𝚕𝚎𝚋𝚒𝚑 𝚍𝚊𝚑𝚞𝚕𝚞. 𝓤𝓷𝓲𝓿𝓮𝓻𝓼𝓲𝓽𝔂 𝓦𝓪𝓻 Hari pertama memasuki universitas Ayanha...
