Dengung di telinga Rin semakin menyebar hingga terasa memenuhi seluruh rongga di dalam kepalanya. Dua jam, tidak ada fokus pelajaran yang bisa ia serap sama sekali saat Bu Sri menjelaskan pelajaran terakhir.
Tere bicara penuh kepanikan di bangku sebelah. Mencoba membujuk Rin lagi.
"Ke UKS aja yuk"
Rin menggeleng kesekian kali, yakin tidak akan kenapa napa.
"Tapi muka lo udah pucet banget. Obat lo mana, udah di minum belum?"
Gadis itu menggeledah tas Rin tanpa izin, menarik sebungkus obat Erythropoietin yang selalu tersimpan di dalam sana, tidak lupa juga menarik sebotol air yang ditaruh di tempatnya.
"Nih minum dulu" Titahnya panik. "Apa sih yang lo lakuin sampai bisa kayak gini?"
Rin mendorong tubuhnya terduduk tegak, mengambil sebutir kapsul berukuran sedang itu dari tangan Tere dan langsung meminumnya. Tatapannya buyar di telapak tangan yang gemetar.
"Ree.."
Suara Rin pecah.
"Sepertinya dugaan lo benar, gue pengin kasus itu ada jalan terangnya"
Tere mengangkat wajah, dari yang sebelumnya fokus pada obat yang di masukannya lagi ke dalam tas, kini beralih menatap Rin penuh pertanyaan.
"Maksud lo?"
"Lo mau bantu gue?"
Tere menautkan alis. "Bantu apa?"
"Gue mau bantu lo di club buat selesein kasus sekolah ini"
.
Rin berjalan sedikit tertatih di gapura sekolah, Tere sudah memohon maaf sebesar besarnya karena tidak bisa mengantar pulang karena ada rapat dadakan dengan Club majalah, tapi Rin memakluminya, lagipula Tere akan membantunya untuk memecahkan kasus itu.
Denyut di kepala Rin belum juga menghilang setelah minum obat, tapi setidaknya nyerinya tidak sesakit tadi. Sekelebat Bayangan-bayangan itu masih tetap berputar, entah bagimana cara menghilangkannya.
Gadis itu memijat pelipis sebelum berjongkok, tapi seseorang dengan motor Stylo 160 berhenti persis di sampingnya.
"Rin?"
Rin mengerjap sadar. Seorang laki-laki dalam balutan jaket putih menyapa dari atas motor.
"Lo nggak apa-apa?"
Rin mengangguk. "Eh Aga, iyaa aman kok, gue nggapapa"
Laki-laki itu mengernyitkan alis. "Lo pulang sendiri?"
Rin mengangguk sekali lagi.
"Bareng gue aja"
Rin melirik motor Stylo warna glam beigi di depannya. Pikirannya teralih. Jam segini biasanya ibu masih banyak kerjaan di ruangannya dan akan pulang sore atau tidak malam hari, jadi Rin berpikir mungkin tidak ada salahnya menerima ajakan Aga untuk pulang bersama, jalan rumah mereka juga searah, dari pada Rin semakin pusing kalau menunggu angkutan umum di depan sekolah yang sesak dengan siswa lain yang akan pulang.
"Mau bareng nggak?" Tanya Aga sekali lagi.
Rin mengangkat wajah. "Emang boleh?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Zero Attention
Teen FictionSetelah kejadian penculikan yang menimpa dirinya di Guna Bangsa, serta ingatan di hari kejadian yang tiba-tiba menghilang. Arinanda Ginantari semakin banyak mengalami masalah terutama dengan murid bergelar gifted seperti Baskara, Di bantu oleh Saty...
