01 ;

41 12 0
                                        




Bas membanting handphonenya ke atas kasur dengan sangat teramat muak. Kamarnya kali ini lebih pantas di sebut gudang dari pada kamar tidur, barang-barang yang berserakan di atas lantai, baju yang tak tersusun di sembarang tempat. Bungkus makanan yang hampir berjamur di bawah kolong. Satu lagi, lantunan musik yang mampu membuat tetangga sebelah untuk mengumpat di teras bawah.

12 jam sehari itu mampu membuat gendang telinga siapapun pecah.

Tangannya mencomot benda lipat berwarna hitam dari dalam tasnya sebelum akhirnya ia lempar lagi setelah melihat isinya yang kosong. Sial seharusnya ia meminta transferan kepada ibunya sebelum dompetnya kosong melompong, akhir-akhir ini hidupnya jauh lebih boros dari sebelumnya.

Dua belas juta raib dalam sekali ketuk.

Terjerumus.

Tulisan sensasional setan itu membawanya semakin tamak untuk mendapatkan kemenangan yang lebih besar lagi, tapi sialannya saldonya bukan bertambah malah ludes tak tersisa, tekhnik yang membuat penasaran itu memang pantas untuk di acungi jempol.

Layar di ponselnya masih menyala menampilkan layarnya yang masih terhubung dengan permainan yang baru saja ia buka, saldonya tampak kosong. Permainannya sudah kalah dari semenit lalu. Namun Bas belum puas, ia memutar otak untuk bisa bermain lagi.










"RIN"


Teriakan Teresa nyaris menghentikan kegiatan beberapa siswa di loker Guna Bangsa. Gadis itu berlari cukup kencang dari arah berlawanan. Hal pertama yang bisa Rin ungkap adalah saat penampilannya yang berbeda dari terakhir kali Rin lihat. Rambut pendek sebahu dengan sedikit poni berjatuhan di dahi. Potongan rambut baru.

Hari ini hari sabtu tepat sudah terhitung dua pekan Rin tidak masuk sekolah karena di rawat di rumah sakit, pastinya Tere teman sebangkunya itu sudah cukup rindu kepadanya.

Seperti biasa hari sabtu dan minggu SMA Guna Bangsa libur, tapi beberapa siswa datang ke sekolah sekedar untuk membereskan loker dan mengambil beberapa pakaian bekas olaha raga untuk di cuci atau mengikuti ekstrakulikuler seperti Tere, gadis itu menyukai club majalah ia bahkan mendaftarkan diri enam bulan lalu hanya untuk mengungkap terror-terror aneh yang menyeret nama beberapa siswa Guna Bangsa. Terror misterius yang lagi lagi mulai muncul belakangan ini.

"Gue kangen" Ucapnya menggelayut di leher Rin setelah berlari.

"Lo nggak kangen?"

Pertanyaan Tere disambut tak kalah antusias oleh Rin. "Kangen, kangen banget malah" Angguk Rin mengeratkan pelukannya.

"Lo udah beneran gapapa kan Rin?, gue khawatir banget tau" Gadis itu melepas pelukannya meneliti beberapa kali wajah Rin.

Rin mengangguk gemas. "Aman, semuanya aman"

Gadis itu berdecak tidak percaya.
"Ni bekas luka" Tunjuknya di lengan kanan. "Tuh lutut masih di perban" Bibirnya monyong ke arah kaki.

Rin menggeleng. "Gapapa segini doang mah santai"

"Dih si sok kuat masih sempat-sempatnya bilang gapapa setelah di culik" Omel Tere.

Rin menoyor kepala Tere. "Dih malah ngatain"

Tere memelas memegangi sisi kepalanya yang habis di toyor sementara Rin tersenyum sebelum akhirnya tawa keduanya pecah di tengah-tengah siswa lainnya.

Zero Attention Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang