"Ibu keluar dulu seperti biasa, jaga rumah ya. Kalau mau keluar rumah kunci pintu dan matiin lampu ya!" Ibuku melambaikan tangannya. Ibuku berpenampilan seperti biasanya, dari dulu sudah begini. Aku tidak tahu ibu sebenarnya pergi kemana.
"Iya bu, hati-hati ya." Aku melambaikan tanganku padanya. Ibuku menutup pintu itu luar meninggalkan rumah ini. Hari yang benar-benar membosankan. Aku tidak bisa melakukan apapun di rumah, mungkin aku lebih baik keluar rumah saja kalau begitu.
Aku menutup beberapa jendela yang terbuka, mematikan beberapa lampu di rumah. Setelah itu, aku membuka pintu utama dengan kunci candangan lalu kembali menguncinya dari luar.
Aku memasukkan kunci ke dalam kantong baju. Memakai sepasang sepatu dan berjalan pergi. Memang hari yang menyenangkan adalah berjalan-jalan di siang hari. Cuaca yang sungguh cerah bukan? Memang hari yang indah itu berjalan-jalan.
Aku berjalan di pinggir jalan, aku dapat melihat beberapa pot bunga terpajang di pinggir jalan. "Halo Ser, mau ke mana?" Apir menyapaku di dekat toko bunga.
"Cari angin sih, nonarie ke mana? biasanya dia suka muncul," Aku bertanya kepada Apir. Apir dengan terkejut memalingkan wajahnya. Wajahnya sedikit memerah.
"Nonarie? Dia ada di dalam toko. Aku nungguin dari luar. Dia lagi cari bunga baru buat hiasan di rumah," Apir menggaruk kepalanya.
lagi pendekatan ternyata... Ada-ada aja anak sekolah. "Kalau begitu, aku pergi dulu ya!" Aku melambaikan tanganku kepada Apir, berjalan pergi. Di perjalanan, aku merasakan angin yang kencang hari ini. Tiba-tiba saja koran terbang menuju wajahku. Aku mengambil koran itu, membawa berita tentang anak yang telah hilang hari ini. Kini sudah lima anak sekolah yang menghilang kemarin.
"Koran dari mana ini?" aku melipat koran itu, membawanya pergi bersamaku. Aku berjalan menuju jembatan, aku melihat perempuan yang bersandar di dekat pagar jembatan. Ia terlihat seperti memegang kamera yang terlihat tidak asing. Seperti punya Nonarie.
"Halo, lagi apa?" Aku bertanya kepada perempuan. Perempuan itu mengeluarkan asap dari mulutnya, Ia menoleh kepadaku. Me
"Kamu anak sekolah ya? Kok ngerokok?" Aku bertanya kepadanya, aku tak biasa melihat anak sekolah merokok. Lagipula merokok hanya untuk orang dewasa bukan? "Aku tidak peduli, lagipula hidup tak akan lama." Ia mengambil sebatang rokok itu dan menyalakannya dengan korek api di tangannya. "Oh ya, koran itu. Terima kasih ya, tadi korannya terbang," Ia mengambil koran itu dari tanganku, membuka lipatan koran itu.
"Kamu siapa?" tanyaku.
"Aku Julia, kakak dari arie. Kamu tahu nonarie kan? Nama asli dia itu nona arie. Di sini aku sedang merenungkan sesuatu," ucapnya, matanya terfokus pada koran.
"Akhir-akhir ini, terdapat tujuh anak sekolah yang menghilang, entah mati atau selamat. Itu benar-benar menyedihkan karna orang tua mereka tidak tahu hal itu," Julia terkekeh, kembali mengeluarkan asap dari mulutnya.
"Julia, siapa itu Rafaela?" Aku bertanya kepada Julia, perempuan itu menoleh kepadaku kemudian Ia tertawa kecil.
"Rafaela? Dia itu perempuan yang pindah ke sini, nama panjang dia itu Rafaela Masbeth. Tapi aku merasakan hal yang janggal padanya. Nama terakhirnya mirip dengan salah satu anak sekolah yang hilang seminggu yang lalu itu. Nama terakhir dia Basbeth, dia juga temanku, aku khawatir sekarang," Julia menggelengkan kepalanya. Membuang rokok itu ke sembarang tempat.
"Persetan korban-korban itu di culik, aku lebih percaya bahwa mereka itu di bunuh. Itu rasanya seperti pembohongan bagiku. Aku bisa kok buktiin hal itu," Julia menunjuk ke arah foto-foto anak hilang dari koran. "Sebenarnya aja, semuanya itu dari sekolah yang sama. Mungkin ada satu orang yang mencurigakan-" Sebelum Julia dapat menyelesaikan kalimatnya, seseorang menyentuh pundaknya dari belakang. Julia langsung menoleh ke belakang.
"Kalian lagi bicara soal apa? Aku ingin tahu cerita kalian!" Rafaela berada di belakang Julia. Julia langsung menutup mulutnya, karena kemungkinan besar Ia tidak mau orang lain mencium bau asap dari mulutnya. "Rafaela, kamu ke mana aja? Aku jarang lihat kamu loh!" Aku mendekat kepada Rafaela, memeluk lengan kiri Rafaela.
"Kamu bisa aja, aku boleh panggil kamu Zita?" Rafaela bertanya kepadaku.
"Zita? Boleh kok!" Aku terkekeh.
Rafaela juga tertawa, tak lama kemudian ia melepaskan tangannya dariku. "Aku pergi dulu ya, nanti aku mau ke rumah kamu." Rafaela melambaikan tangannya kepadaku, berjalan pergi dari jembatan.
"Menyeramkan...," ucap Julia dengan nada bicara yang bergetar.
"Kenapa?" Aku bertanya pada Julia.
"Lupakan saja apa yang tadi aku bilang. Mau coba sebatang rokok? Zita?" Julia memberiku sebatang rokok.
"Aku tidak tertarik. Rokok itu bisa merusak paru-paru, dan aku tidak mau mati konyol," Aku memalingkan wajahku darinya. Julia menundukkan kepalanya, memasukkan sebatang rokok itu ke dalam kotak rokok. "Padahal seharusnya kita bisa berteman dengan rokok, tapi lagipula aku memang ingin meninggalkan dunia ini,"
Perkataannya tidak masuk akal, memangnya ada yang ingin mati karena rokok? Terdengar lucu. "Kamu kan anak sekolah, dan kamu ga seharusnya merokok. Itu tidak baik, bagaimana dengan keluarga kamu?" Aku memperingati Julia tentang itu, dan pada dasarnya memang tidak seharusnya anak sekolah merokok.
"Aku rasa mereka tidak peduli, tapi arie...," Julia menghela napasnya. "Kalau begitu, aku ingin coba berhenti merokok," ujar Julia, melemparkan kotak rokok ke bawah jembatan.
"Kamu ga seharusnya buang rokok itu sembarangan..." Aku mencubit pipi Julia dengan kuat.
***
Aku berjalan pergi menuju rumah. Di tengah perjalanan, aku tanpa sengaja menabrak seseorang di depanku. "Aduh! Aku jatuh, kamu sih jalannya ga bener!" Perempuan itu dengan keras berbicara kepadaku dengan kasar.
Aku bangkit dari jatuh, melihat ke perempuan itu. "Emang aku pikirin kamu?" Aku menjulurkan lidahku, pergi begitu saja dari orang itu. Padahal dia juga salah tapi ga mau bilang. Menyebalkan.
Akhirnya aku pulang, namun aku tanpa sengaja melihat kertas yang berada di bawah pintu. Aku mengambil kertas itu. Membuka lipatan kertas untuk melihat isi di dalamnya. Kertas itu berbau tidak sedap, dan terdapat tulisan berwarna merah. 'Belajarlah dengan ku besok, temui aku di pantai! -Sandra'
"Tulisannya jelek. Tapi aku penasaran, apa Ia nulis dengan pena? Aku tidak yakin kalau dia menulis dengan pena. Kertasnya mau bangkai, dia nulis pakai darah kambing kah?!" Aku merobek kertas itu dan membuangnya ke tempat sampah di dekat rumahku.
Aku mengambil kunci dan membuka pintu rumah, aku memasuki rumah dan duduk sejenak di sofa. "Melelahkan, tadi ngeliat orang lagi pendekatan, terus ketemu anak sekolah perokok, dan aku tanpa sengaja menabrak perempuan cerewet." Aku menghela napas panjang.
Tak lama kemudian, ibuku mengetuk pintu yang terbuka. "Halo, ibu pulang!"
---
Halo! Apa kabar? Semoga kalian sehat-sehat aja ya!! Maaf kalau Author upload lama karena kebetulan lagi sakit hehe.
Review bab ini supaya Author bisa improve!!
KAMU SEDANG MEMBACA
Siapa itu Rafaela?
Short Story"Kamu siapa?" menceritakan tentang perempuan bernama Zita yang bertemu dengan orang baru, orang baru itu terkenal pula di kota itu pula. Tetapi orang itu mengingatkan Zita tentang orang yang pernah Ia temui. Sebenarnya apa yang sedang terjadi. Kita...
