"Wah! Kamu bisa keluarin bunga itu dari mulut kamu!"
"Namaku Serafine Zita, ini mawar buat kamu. Biar kamu ga sedih lagi, haha,"
"Tapi apa itu sakit, Zita? Lidah kamu berdarah...,"
"Ini bukan apa-apa, aku kuat!"
"Aku Arunika, terima kasih ya!"
Rekaman suara itu pun berhenti, aku mengeluarkan kaset itu dari radio milik Sandra. Kaset terakhir yang telah aku putar. "Aku sudah lama tinggal di sini. tidak punya tempat tinggal, sekarang inilah tempat satu-satunya." Aku sudah tinggal di sini dua tahun yang lalu, diriku sekarang hanyalah kriminal yang di cari-cari oleh polisi. Aku berdiri dari duduk, merapihkan semua kaset itu dan meletakkan di tempat yang seharusnya.
Aku mengambil sapu. Menyapu setiap ruangan dari rumah kayu ini. Rumahnya terasa bau karena terdapat bangkai yang masih saja tersimpan di sini. Menjijikan. Aku membuka kembali ruangan yang di mana aku bertemu dengan Kimo. Darah yang membekas di lantai benar-benar menjijikan. Aku pergi ke kamar mandi untuk mengambil kain pel dan mengisi ember dengan air bersih lalu memberikan sabur cair ke dalam air itu. Aku kembali ke ruangan itu lagi, aku membasahi kain pel dan mengepel lantai kayu itu dengan kain pel itu.
Aku tidak lupa pula untuk membersihkan debu yang menempel di setiap sudut ruangan itu. Setelah itu, aku membersihkan seluruh ruangan dari kamar itu, memastikan semuanya bersih tanpa noda kotor sekalipun. Aku melihat satu toples pil itu, ya. Pil yang membuat semua orang menjadi kacau. Kalau aku mengetahui seberapa bahaya pil itu, aku tidak akan meminumnya. Sandra memang binatang, aku membencinya seumur hidupku. Tapi apa yang harus aku perbuat sekarang? Semuanya telah berlalu.
Aku mengambil toples yang berisikan pil itu. Membawanya ke dapur untuk aku masukkan ke dalam tempat sampah. Setelah semuanya bersih, aku pergi ke luar rumah. Aku mengambil kantong sampah yang ada di sebelah pintu utama rumah itu.
"Aku tidak mau di tangkap. Mau tidak mau aku harus tinggal di tempat ini dan mengambil alih pekerjaannya." Aku bertutur pada diriku sendiri. Aku berjalan menuju pantai yang biasanya sering aku kunjungi, kini menjadi tempat tinggalku sekarang. Aku mengambil beberapa sampah yang berserakan di sekitar pantai. Mengambilnya satu per satu. Ternyata ini yang di sebut pekerjaan yang sebenarnya, lebih baik daripada aku harus masuk penjara.
Di tengah mengerjakan tugas, aku sering sekali bertemu dengan beberapa orang di pantai. Aku menyapanya atau membantu mereka melakukan sesuatu yang mereka butuhkan, walau hanya di beri sedikit uang sekalipun.
Setelah mengumpulkan semua sampah yang ada, aku mengikat plastik itu dan bertemu dengan seseorang yang sering aku datangi untuk memperjual belikan sampah. Aku memberikannya sampah dan Ia memberiku sepuluh lembaran uang. Aku menghirup aroma lembaran uang itu dengan rasa bersyukur. Dan memasukkannya ke dalam kantong bajuku.
Aku berjalan lagi, kali ini aku bertemu dengan seseorang yang sedang duduk di atas pasir, Ia terlihat sedang menangis karena suatu hal. Aku mendekati orang itu dan menepuk pundaknya.
"Kenapa kamu nangis di sini? Kamu boleh cerita kok sama aku." ucapku tersenyum, akhirnya aku dapat membuka diriku pada yang lain walau sebenarnya. Aku masih takut bagaimana kalau akan takut padaku.
"Kak, aku pergi dari rumah. Dan aku merasa Ibu sudah ga sayang lagi sama aku ...." ucap anak perempuan itu dengan tangisan yang tak kunjung habis. Aku hanya bisa menggelengkan kepala, menepuk pundaknya.
"Gapapa kok kalau kamu merasa seperti itu. Tapi nanti pulang lagi ya? Kasian nanti kalau ibu kamu nyariin kamu." jawabku dengan suara lembut, berdesis lembut untuk menenangkannya. Anak perempuan itu mengusap air matanya, dan menatap padaku.
"Tapi nanti kalau ibu marah gimana?" tanya perempuan itu, masih meragukan saran dariku.
"Ga akan. Ibu kamu ga akan marah." jawabku dengan tersenyum lebar. Anak itu berdiri dan melambaikan tangannya, berjalan jauh di sekitar pantai ini. Aku berdiri tegak dan tanpa ku sadari sekarang sudah menuju senja. Waktu begitu cepat ya? Aku berjalan, memanjat bebatuan besar dan berdiri di atasnya. Senja kali ini begitu indah.
Aku selalu mengingatnya, Rafaela. Perempuan yang menghilang begitu saja ketika aku mengetahui kematian Arunika. Nonaria yang mati di tangan sepupuku yang seperti binatang, dan ibuku yang pergi dari dunia ini. Dunia sekejam itu ya? Aku tertawa karena mengalami hal gila itu semua. Aku melihat ke bawah, lautan yang indah. Dan angin yang menyegarkan.
Aku sudah tidak punya apapun lagi, aku tersenyum lebar. Aku mengeluarkan uang dari kantong baju dan meletakkannya di sebelahku. Hari yang bagus, dan aku harap semua akan kembali seperti semula.
"Aku benci dunia, dan apa yang lebih aku benci dari dunia? Diriku sendiri." Aku menjatuhkan diriku dari atas bebatuan. Jatuh dan masuk ke dalam laut yang dalam itu, namun aku tidak bisa melakukan apapun sekarang. Aku tidak ingat bagaimana caranya untuk berenang. Tapi itulah yang aku inginkan, tenggelam di dalam lautan indah ini.
---
KAMU SEDANG MEMBACA
Siapa itu Rafaela?
Historia Corta"Kamu siapa?" menceritakan tentang perempuan bernama Zita yang bertemu dengan orang baru, orang baru itu terkenal pula di kota itu pula. Tetapi orang itu mengingatkan Zita tentang orang yang pernah Ia temui. Sebenarnya apa yang sedang terjadi. Kita...
