"Sabuk ini?" Aku tanpa sengaja melihat sabuk di dalam lemari ayahku. Sabuk itu berdekatan seragam hijau. Aku mengambil sabuk itu, sabuk itu memiliki garing yang berwarna kuning, hijau dan coklat. Sabuk ini bisa membuat orang yang memakainya terlihat gagah, banyak sekali orang berbicara seperti itu.
Aku memasuk bajuku ke dalam celana, lalu memasangkannya sabuk di sekitar pinggangku. "Keren juga ya celana ini, cocok sama aku." Bibirku melengkung ke atas, melihat ke arah cermin. Aku menyisir rambutku dan mengikat rambutku ke bawah dengan tali berwarna biru. "Terlihat berwibawa bukan?" Aku menyisir rambut atasku dengan jari.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar. Mungkin itu adalah tamu, Aku keluar dari kamar. Berjalan pergi menuju pintu luar, aku membuka pintu itu. Aku melihat Rafaela yang berdiri di depan pintu. "Halo," Rafaela melambaikan tangannya.
"Oh, hai! Ayo masuk ke dalam" Aku mempersilahkan Rafaela untuk masuk ke dalam rumah. Aku menyuruhnya untuk duduk sejenak di kursi sementara aku akan membuatkannya teh.
Aku kembali dengan membawakan dua cangkir dan teko. Aku meletakkannya di meja. Menuangkan teh ke dalam dua cangkir itu. "Silahkan," Aku duduk di kursi sebelahnya. Mengambil secangkir teh dan meneguknya.
Rafaela meneguk teh itu sampai habis. "Zita, apa boleh aku minum teh dari teko secara langsung?" Pertanyaan Rafaela membuatku batuk karena tersedak. "T-tapi kan teh dari teko itu panas banget, kamu ga takut apa kalau nanti lidah kamu kepanasan?!" Aku bertanya kepadanya, suaraku tergagap.
"Boleh ya?" Rafaela mengambil teko itu. Meneguk teh di dalam teko itu sampai habis. Aku bahkan tidak melihat ekspresi Rafaela yang menunjukkan bahwa lidahnya kesakitan.
"Rafaela!" Aku langsung berdiri dari kursi. Mengambil teko itu dan meletakkannya di meja. Rafaela memiringkan kepalanya, terlihat sedang kebingungan. "Ada apa?" Rafaela bertanya kepadaku dengan wajah yang kebingungan.
"Oh..!" Aku berjalan mundur, berlari ke dapur. Ini gila ini gila ini gila! Rafaela itu manusia atau hantu?! Ah! Atau itu sebenarnya hantu dan bukan Rafaela?!
"Zita!" Rafaela pergi ke dapur dengan membawa dua cangkir teh dan teko, meletakkannya di meja. Rafaela menggerakkan salah satu kursi di meja makan untuk duduk.
"Sabuk yang kamu pakai itu bagus, apa itu punya kamu?" Rafaela memuji sabuk yang sedang aku pakai.
"Oh, ini punya ayahku. Udah lama aku ga pakai celana, keren ga?" Aku bertanya kepadanya, berharap Ia akan memujiku sekali lagi. Rafaela menganggukkan kepala, Ia bersandar di kursi. "Ya, itu terlihat berwibawa." ucapnya dengan senyuman.
Aku mengeringkan kedua tanganku dengan handuk. Aku berjalan mendekati radio yang terletak di sebelah lemari piring di meja kecil, aku menyalakan radio itu dan duduk di salah satu kursi yang berada di meja makan.
"Selamat pagi semuanya, di berita kali ini kami akan mengakui bahwa sesungguhnya hilangnya anak tujuh anak tersebut bukan karena diculik, melainkan di bunuh secara tragis. Terdapat lima korban yang di bunuh di tempat yang berbeda, dan sisanya masih belum dapat di temukan. Dan kami akan memberi tahu ciri-ciri sang pelaku, yakni berjenis kelamin laki-laki, memiliki tahi lalat di mata, jika pemirsa melihat sosok pelaku. Mohon laporkan informasi tersebut pada pihak kepolisian."
Aku mendengar berita itu dari radio. Pembunuhan? Berarti selama ini Julia benar, ternyata itu adalah kasus pembunuhan. Pembunuhnya pinter juga ya bunuh orang di tempat yang berbeda. Tunggu... Sandra mempunyai tahi lalat di matanya, tapi tidak mungkin. Terdengar tidak masuk akal.
"Rafaela, apa kamu tahu siapa orangnya?" Aku bertanya kepada Rafaela.
"Mungkin aku pernah melihat orang itu, mungkin di kehidupan sebelumnya. Dan mungkin saat ini Ia sedang dekat denganmu, mungkin kamu harus hati-hati dengan orang baru sekarang." Rafaela mengedipkan mata kirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Siapa itu Rafaela?
Short Story"Kamu siapa?" menceritakan tentang perempuan bernama Zita yang bertemu dengan orang baru, orang baru itu terkenal pula di kota itu pula. Tetapi orang itu mengingatkan Zita tentang orang yang pernah Ia temui. Sebenarnya apa yang sedang terjadi. Kita...
