Setalah beberapa saat akhirnya Chan kembali tenang dan seperti biasa lagi, tapi dia tak ingin di temani oleh siapapun kecuali paman nya.
"Sayang, ayahnya Chan mau bicara sama Chan jangan seperti ini yaa.." kata Jeonghan mencoba meyakinkan keponakannya itu.
"Tidak paman, ayah jahat.. chan ga mau sama ayah lagi Chan mau sama paman aja, ayo pergi paman." Jawabnya sambil menangis.
"Sayang mau bagaimanapun dia ayahmu, jangan seperti ini yaa.. kita perbaiki semuanya, jika ayahmu masih bersikap demikian padamu paman janji akan langsung membawa Chan pergi jauh dari ayahnya Chan, okee..?"
Dengan ragu tapi di angguki oleh Chan.
"Bagus sayang, kita bisa bicara dengan ayah mu dan serim sekarang?"
Lagi-lagi Chan mengangguk.
"Tapi jangan tinggalkan aku bersama mereka di sini, paman harus menemaniku di sini.."
Jeonghan mengangguk.
"Baiklah, aku akan tetap di sini, yaa.." lalu ia tersenyum.
Setelah mendapat lampu hijau dari Jeonghan, Seungcheol mengajak serim juga masuk ke ruang rawat Chan.
Sedangkan Chan hanya terus memegangi tangannya Jeonghan, seperti akan di tinggal oleh Jeonghan genggaman Chan begitu erat.
Seungcheol duduk di sisi lain brangkar Chan bersama serim, Chan hanya terus menatap Jeonghan pamannya.
"Tak usah takut, dia ayah dan saudara mu.."
Tiba-tiba..
"Maafkan aku Chan, aku tak bermaksud melakukan hal itu.. kau berhak marah padaku, kau berhak membenciku aku bukan saudara yg baik untuk mu, maafkan aku.." kata serim sambil menunduk dan menangis.
Chan lagi-lagi melihat kearah Jeonghan, lalu pamannya itu mengangguk setalah itu Chan melepaskan genggaman tangan satunya.
"Tak apa, aku udah gapapa sekarang.. setelah aku pergi dengan paman Han nanti, kau bisa sepuasnya mendapat kasih sayangnya.." lalu tersenyum.
"Pergi.. Kau akan pergi kemana?" Heran serim.
"Emm Berlin, bersama paman Han."
Sekarang giliran Seungcheol yg bicara.
"Sayang, jangan pergi yah.. di sini aja sama ayah, yaa"
Chan menggelengkan kepalanya.
"Kenapa, kau masih takut pada ayah?"
Chan diam.
"Maafkan ayah sayang, ayah janji tak akan mengulangi nya lagi.. serim dan yg lainnya juga merasa bersalah padamu, Yeri teman mu itu juga sudah pindah sekolah sayang.. Allen? Kau tak mau bertemu Allen lagi?"
Chan melirik ke arah Jeonghan.
"Kenapa?" Heran Han.
"Kau pasti merindukan Allen bukan? Kau juga melewatkan ujian mu, tapi tak apa.. sekarang aku yg akan memarahi serim karna melewatkan ujian 2 hari, dia bolos entah kemana bersama yg lainnya.."
Perkataannya itu di ikuti dengan tindakan menjewer telinga nya serim, sedangkan Chan hanya tersenyum melihat itu.
"Sudah ayah, kasihan serim.."
Entah tak sadar atau bagaimana, Chan reflek mengatakan itu.
Tapi itu membuat Seungcheol senang karna dia di panggil ayah kembali oleh putra sulungnya itu, dia bahagia sampai memeluk Chan.
"Kau akan kembali ke rumah kan sayang, rumah mu di sini bukan di Berlin.. ayah janji akan menjagamu sampai kau sembuh, nanti ayah akan membawa temannya serim dan Allen juga kesini yah untuk meminta maaf padamu.."
Chan tersenyum dan mengangguk dalam pelukan Seungcheol, ia memeluk kembali Seungcheol dengan erat sama seperti ayahnya.
Tiba-tiba...
KAMU SEDANG MEMBACA
Menunggu - Chan [End]
Random"jika saja dulu aku pergi bersama ibu, pasti hidupku tak akan seperti ini.. ibu lihat sendiri dari atas sana kan, aku tersiksa di sini buu.. aku tak bisa melakukan apapun selain menurut pada ayah, dan saudara tiriku.. istri barunya kadang masih terl...
![Menunggu - Chan [End]](https://img.wattpad.com/cover/364797358-64-k112746.jpg)