Chapter 1

448 47 20
                                        

Kata orang, ini adalah tempat dimana banyaknya pelukan paling tulus terjalin diantara ucap perpisahan yang seakan menyayat urat nadi. Dimana ketika benda besar itu melayang pergi, maka rindu hanya sebatas ucap atau ketikan jari. Terhalang layar dan jarak.

Bandara sore ini tidak terlalu ramai karena bukan musim liburan. Tapi tetap bisa Althaf lihat orang-orang yang saling melepaskan dengan pelukan di sudut-sudutnya yang hening. Dulu, Althaf pergi tanpa drama seperti itu. Hanya ucapan singkat dari papa yang mengantarnya pergi.

Sudah dua tahun saja, kini dia kembali dan tidak ada yang berubah. Dia pergi sendirian, lalu pulang juga disambut kesepian. Papa sibuk dan tidak bisa menjemputnya. Sudah biasa. Untuk seorang anak yang diberi label anak pengusaha, kesibukan papa adalah makanan sehari-hari.

Tapi Althaf tidak lantas bermurung durja, karena notifikasi handphone nya penuh oleh para sepupu yang setiap hari selalu menanyakan kepulangannya. Setidaknya, ada Kapi yang ucapkan, "welcome back, bro!" di salah satu bubble chat. Lalu disambut oleh keributan lain dari Jeje yang selalu mengajak makan. Anak itu dari dulu sangat suka berkumpul untuk makan. Dia suka mengobrol dan hanya para sepupunya yang bisa mengimbangi kecerewetannya.

"Mas Althaf?"

Mendengar namanya disebut dengan ragu, Althaf akhirnya mendongak. Menemukan presensi seorang pria dengan kemeja abu rapi yang tersenyum padanya. Kening Althaf berkerut, mengumbar tanya tanpa ucap.

"Saya yang disuruh buat jemput mas."

Barulah seketika itu dia teringat dengan pesan papa sebelum dia berangkat dari London.

"Oh, iya." Althaf segera bangkit dari kursi tunggu bandara ketika pria itu mulai mengambil alih kopernya. "Papa masih di kantor?"

"Jam segini masih, mas. Apalagi hari senin."

Althaf mengangguk, membenarkan. Harusnya dia tidak usah bertanya karena yang paling tau kebiasaan papa adalah dirinya. Tapi saat melihat pria yang kemungkinan besar akan jadi supir pribadinya sesuai informasi dari Papa kemarin, Althaf tiba-tiba terbebani untuk mencari obrolan. Dia seringkali seperti itu. Tidak bisa mengabaikan orang-orang disekitarnya.

"Mas Althaf udah makan? Mau cari makan dulu gak?"

Kepala Althaf menggeleng, antara menjawab pertanyaan itu dan menolak panggilan dari si supir yang terlihat lebih tua.

"Panggil Althaf aja, kurang suka dipanggil mas begitu," ungkapnya. "Langsung pulang aja, tadi aku udah makan juga di pesawat. Nanti aja siapin makan malam, ya."

"Oke mas--eh, Althaf."

Si empu nama sunggingkan senyum sebelum masuk ke dalam mobil. Poin bagusnya dari pulang liburan kali ini adalah, dia sudah dibelikan mobil baru dan rumah sendiri oleh papa. Dengan sedikit drama pemaksaan, negosiasi yang panjang dan kalimat-kalimat manis yang Althaf keluarkan. Akhirnya papa yang protektif itu luluh. Bukannya Althaf tidak senang tinggal bersama papa, dia hanya merasa butuh privasi untuk hidupnya yang sekarang.

"Btw, namanya siapa mas?" Althaf memulai lagi karena sunyi di dalam mobil membuatnya tidak nyaman. Mungkin karena kebanyakan bergaul dengan Kapi dan Jeje yang berisik, Althaf jadi tidak terbiasa lagi dengan suasana sepi.

"Oh, saya Evan."

Saat papa berkata bahwa akan ada supir baru sekaligus bantu jaga rumah untuknya, yang terlintas di benak Althaf adalah pria paruh baya seumuran papa nya. Ditambah, pria ini sudah lebih dulu kerja dengan papa selama kurang lebih tiga tahun. Menguatkan asumsi Althaf bahwa dia adalah bapak-bapak perut buncit yang suka nongkrong di pos satpam sambil ngopi.

Tapi diluar dugaan, supirnya ini bahkan terlihat tidak jauh berbeda umurnya dengan Althaf yang bulan lalu baru menginjak usia 20 tahun. Badannya tinggi tegap dengan rahang tegas yang membuat fitur wajahnya makin tampan. Belum lagi suara bass nya yang membuat Althaf agak terkejut saat dia memanggil tadi.

Call You Mine | ChanhunCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang