Selepas makan malam, mereka berangkat dari rumah tanpa tau mau kemana. Evan masih memikirkan segala tempat yang sekiranya bisa membuat Althaf tidak bosan. Kadang, selera anak muda memang sulit ditebak. Mau bertanya pun, Evan agak yakin kalau jawaban Althaf tidak jauh-jauh dari tempat yang ramai. Bukannya Evan tidak suka tempat ramai, hanya saja malam ini rasanya dia ingin ke tempat yang lebih tenang.
Evan bagaimanapun sangat menyukai pekerjaannya. Dia senang bisa bekerja di bawah arahan pak Edgar meski tak jarang pria paruh baya itu mengomel karena anak sematawayangnya lepas pengawasan. Tapi, Evan agaknya paham dengan sifat protektif beliau. Saat nanti menjadi ayah, Evan mungkin akan begitu juga. Terus berusaha menjaga dan melindungi mereka meski di mata anak-anak cara apapun terlihat salah. Mereka yang sudah bisa terbang bebas, tidak akan suka dikekang oleh peraturan.
Untuk apa punya sayap, jika tidak digunakan?
Tumbuh dari kalangan menengah ke bawah, Evan sebenarnya tidak terlalu paham dengan makna "protektif" itu sendiri. Ayah dan ibu dulu sibuk bekerja, yang selalu mereka ingatkan pada Evan adalah jangan lupa makan dan belajar. Bahkan jika hari itu Evan tidak pulang sampai sore, mereka juga tidak akan mencari. Menegur ketika melihat, menasehati ketika ingat. Cukup sederhana--ralat, terlalu biasa saja. Althaf mungkin tidak pernah dibegitukan hingga perlakuan ayahnya sekarang dianggap berlebihan. Padahal, itu adalah sikap dasar seorang ayah pada anak lelakinya.
Evan juga ingin dibegitukan. Diperhatikan dan dijaga. Tapi dia paham bahwa mereka bukan sebuah keluarga cemara di dalam drama. Ibu dan ayah bekerja demi dirinya, pendidikannya dan asupan gizi yang masuk ke tubuhnya. Waktu untuk mengeluh pun mereka tidak punya. Evan mengerti, namun tetap di rundung sepi.
Lalu Giovanni Pedro lahir. Seorang malaikat kecil yang pernah Evan kira akan selalu berbentuk bayi. Dia sangat menyukai kehadiran adiknya meski jarak umur mereka cukup jauh, 10 tahun. Gio seperti cahaya hidup yang disuguhkan Tuhan untuk menghempas kesepian itu. Pekerjaan Evan jadi bertambah dua kali lipat, selain belajar dan membantu ekonomi keluarga, dia juga harus menjaga adiknya. Tapi, Evandaru Halim di usianya yang kesepuluh tahun, sangat senang dengan keributan kecil itu.
Kini, 12 tahun telah berlalu semenjak ayah dan ibu meninggal. Mereka yang berjualan di pasar ditemukan terluka karena di bacok orang mabuk. Ibu meninggal ditempat sedangkan ayah sempat di rawat, namun hanya bertahan satu minggu. Kata nenek, ayah tidak ingin membuat Evan repot. Tapi bagi Evan, ayah dan ibu hanya terlalu lelah dengan kehidupan.
"Gak apa-apa."
Katanya waktu itu, ketika ramai orang mengasihani dirinya dan sang adik. Tidak apa-apa, takdirnya memang seperti ini. Besok, dia harus cari makan lagi.
"Adeknya mas Evan umur berapa?"
Mobil masih melaju santai di tengah kota yang selalu sibuk ini. Evan rasanya tidak bisa menemukan sela yang cukup sepi untuk mereka berhenti.
"17 tahun," jawabnya sambil memutar kemudi berbelok ke arah kiri.
Alunan lagu Sanctuary dari Joji menjadi pilihan Althaf untuk menemani perjalan mereka yang masih tidak bertujuan. Lampu jalanan membias, menabrak sisi wajah tampan Althaf yang sedikit mirip dengan ayahnya. Evan pernah beberapa kali melihat foto ibunya Althaf dan lelaki itu memang sangat mirip dengan sang ibu. Memiliki fitur wajah yang manis dan lembut, namun dibingkai dengan rahang tegas dari sang ayah. Sebuah perpaduan yang membuat Althaf terlihat sangat rupawan.
"Sama kayak Jeje berarti. Nakal gak?" Althaf dengan rasa penasarannya kadang menarik untuk Evan. Dia seperti seorang anak yang baru keluar dari tempat persembunyian dan ingin tau banyak hal.
"Nakal yang gimana?"
"Sering bolos sama bikin masalah di sekolah gitu."
"Gak. Dia ketua osis, nilai akademisnya bagus, ketua tim voli sekolahnya juga. Bulan lalu baru pulang dari China abis ikutan olimpiade kimia internasional. Anaknya pendiam, lebih suka belajar daripada main."
KAMU SEDANG MEMBACA
Call You Mine | Chanhun
FanfictionJangan simpan seseorang di lagu. Lagunya udah selesai, perasaannya belum. Jangan simpan seseorang di dalam doa. Namanya ke langit, cintanya jatuh berantakan ke bumi.
