73. Restraint

205 2 1
                                        

Merinding, itu yang harusnya Adrian rasakan saat bertemu dengan orang yang hampir mencabut nyawanya tapi nyatanya yang ia rasakan hanya perasaan kesal. Kesal karena Adrian harus menahan diri untuk tak membalas atau memberikan hukuman yang pantas demi sesuatu yang lebih berharga. Dia sudah memutuskan ini, bahkan berargumen sengit dengan teman, sepupu, ayah dan sang opa karenanya. Bodoh, itu yang dikatakan mereka tapi bagi Adrian ini keputusan cerdas yang harus diambilnya.

Jeff Halim tersenyum padanya sebelum mengulurkan tangan lalu dengan lancang menarik tubuhnya mendekat, memeluknya. Menjadikan kesepakatan damai ini lebih terasa nyata. Adrian membiarkannya meski jantungnya sempat melompat sedikit karena jujur saja, pelukan terakhir yang Jeff berikan adalah saat menancapkan pisau di perutnya. Sialnya, tubuhnya seperti mengingat itu karena sensasi tertarik dan tak nyaman langsung terasa disana. Luka-luka itu memang belum sepenuhnya pulih.

"Kita pasti akan ketemu lagi," bisik bajingan itu di telinganya.

Tidak salah. Mereka pasti akan bertemu lagi tapi Adrian berharap tidak dalam waktu dekat.

"Titip salam buat pacar lo." Tangan kanannya mengepal kuat, mencegah dirinya melakukan hal bodoh seperti memberikan pukulan pada bajingan sialan ini.

Manusia satu ini tidak akan pernah berubah bahkan setelah kesempatan yang ia berikan. Haruskan Adrian menyesal? Tidak. Hidup Jeff selanjutnya bukan urusannya selama rivalnya itu tidak mengganggunya. Adrian tidak membiarkan Jeff bebas demi laki-laki itu atau demi kompensasi yang ia janjikan pada adiknya. Adrian melakukan ini untuk Mia, karena cuma ini jalan keluar bagi gadis itu untuk mendapatkan kedamaian hidupnya kembali.

Pihak Halim Group akan mengurus gosip-gosip sialan itu. Kakeknya mendapat proyek yang sempat hilang dari genggaman dan Hermawan akan melihat usaha yang ia lakukan. Ini cukup adil buat semua orang meski tidak untuknya. Itu tidak penting. Adrian tak keberatan menanggung rasa sakit asal orang yang ingin ia lindungi bahagia tapi benarkah Mia bahagia?

Lalu, kenapa gadis itu sekarang menangis di depan kamarnya usai melihat semua bekas luka yang ada di tubuhnya. Mia bahkan tak berusaha menutupi tangisnya. Tangisan itu makin kencang dan Adrian tak sanggup mendengarnya. Hatinya juga ikut merasakan sakit.

"Aku... nyari remote," ujar Mia begitu Adrian keluar dari kamarnya. Gadis itu menemukan tempat ternyaman di sofanya, menonton salah satu film seri favoritnya.

"Maaf, aku... tadi gak sopan. Aku... Gak lihat apa-apa kok."

Yang benar saja! Adrian mendengus geli. Dia teringat bagaimana mata polos itu memindai setiap inci tubuhnya. Bodohnya, Adrian membiarkan Mia melakukannya.

Membawa gadis itu ke apartemennya adalah sebuah kesalahan besar. Adrian cuma ingin mengajak Mia makan malam. Dia berencana memasakan sesuatu yang enak untuk Mia. Mereka bisa saja makan diluar tapi Mia selalu terlihat tak nyaman dengan pandangan orang saat mereka berada di tempat umum. Kasus kemarin sudah membuat Adrian dan mau tidak mau, Mia seperti selebriti.

Tak mengindahkan gadis itu, Adrian beranjak ke dapur, membuka kulkas dan mengeluarkan beberapa macam bahan yang sudah disiapkan sebelumnya. Baru saja Adrian memulai untuk memotong sayuran, gadis yang ia kira tengah fokus menonton bicara lagi.

"Aku... Benar-benar bahagia. Sungguh. Aku juga merasa lega. Semuanya udah selesai. Pelan-pelan semuanya bakal kembali normal, iya kan?"

"Tapi aku... Aku gak bisa lupa. Aku... Belum bisa lupa."

"You don't have to."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 2 days ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Chained To YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang