Koridor-koridor gedung fakultas ilmu budaya Universitas Jayendra masih sepi pagi ini. Pukul 06.30, Mai masuk ke sana hanya karena ingin menggunakan wifi gratis dari kampus. Kuota internetnya habis, namun ia butuh koneksi internet untuk menghubungi Adis yang entah berada di mana saat ini. Padahal lukanya belum benar-benar pulih.
Ketika Mai mendapat koneksi wifi, ia buru-buru membuka whatsapp di ponsel. Jarinya menekan ikon telepon di kontak Adis. Nada sambung terdengar dan tulisan "berdering" muncul pada layar ponsel Mai. Mai sontak menempelkan ponselnya ke telinga.
"Halo, Mbak Mai, kenapa?"
"Halo, Dis, kamu di mana?"
"Aku lagi cari makan. Mau titip nggak?"
"Enggak. Aku lagi di kampus, cari wifi. Kamu makan di mana sekarang?"
"Di warung Bu Darmi."
"Aku susul ke situ, deh."
Mai memutus panggilan. Kakinya melangkah meninggalkan kawasan Universitas Jayendra. Warung Bu Darmi berada di depan gang kosnya. Sementara jarak antara fakultas ilmu budaya ke kos Mai hanyalah sekitar 600 meter. Mai biasa berangkat dan pulang kuliah berjalan kaki jika jadwal kelasnya tidak bersamaan dengan Adis. Sementara bila keduanya memiliki jadwal kelas di hari dan jam yang sama, Adis akan menawarkan tumpangan pada Mai.
Mai memasuki warung Bu Darmi. Warung yang menjual ramesan itu tidak begitu luas. Hanya mampu menampung sekitar 9-11 pelanggan. Begitu melihat Adis yang sedang makan, Mai mengambil tempat duduk di sebelahnya.
"Pesen dulu, Mbak Mai," usul Adis.
Mai mengangguk sebelum akhirnya memesan teh manis hangat pada Bu Darmi.
"Nggak makan, Mbak?"
"Nggak. Aku ada nasi di kos, nanti mau masak nasi goreng."
"Oh, ya udah."
Sembari minum teh, Mai menemani Adis menghabiskan makanannya yang tinggal sedikit. Keduanya berbincang tentang banyak hal selepas makanan Adis habis.
Mai dan Adis sudah berteman sejak Adis menjadi mahasiswa dan penghuni kos baru sekitar dua setengah tahun lalu. Saat itu Mai masih menempuh semester tiga. Mai dulunya hanya akrab dengan salah satu penghuni kos bernama Kanya, sebelum akhirnya keakraban mereka memudar ketika Adis datang. Kanya yang menjauh.
Perkenalannya dengan Adis cukup unik. Malam itu, Mai menangis sesenggukan di kamar kosnya karena flashdisk berisi tugas-tugasnya hilang. Padahal di sana juga tersimpan materi presentasi yang akan ia tampilkan esok harinya. Mendengar suara tangisan dari kamar sebelah, Adis yang baru memasuki hari ketiga menjadi penghuni kos pun memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar kos Mai. Adis menanyakan keadaan Mai, apakah Mai baik-baik saja. Mai dengan payah menceritakan masalahnya.
"Mbak, nggak pa-pa, tak bantuin bikin materi presentasinya lagi," kata Adis saat itu dengan aksen Jawanya.
"Eh, nggak usah. Kamu kan punya tugas sendiri juga."
"Enggak, tugasku masih dikit. Masih maba, aku, Mbak."
Gadis yang berasal dari kota Magelang itu dengan senang hati membantu Mai. Itu menjadi awal pertemanan mereka yang akan selalu mereka ingat hingga saat ini. Mai dan Adis sudah lebih dari dua tahun menjalin persahabatan.
"Dis, kamu besok Sabtu mau nemenin aku nggak?"
Adis meletakkan segelas air mineralnya yang baru ia teguk. "Ke mana?"
"Biasa, event buku. Sabtu ini bazar buku, minggu depannya ada event sama komunitas baca. Kalau yang minggu depan aku sendiri nggak masalah, sih. Tapi bazarnya... kamu mau nemenin nggak?"
KAMU SEDANG MEMBACA
May I Read Your Heart?
Teen FictionSetelah berhasil membeli novel incarannya dari seseorang bernama Bas di twitter, Mai membawa novel-novel itu ke kota rantauannya-kota tempat ia berkuliah. Mai juga menjadi akrab dengan Bas sebab keduanya kerap bertukar informasi seputar buku. Ketika...
