Bau mi instan menguar di seluruh ruang makan. Udara yang sedang cukup dingin tak lagi menyiksa lelaki beralis tebal yang baru setengah jam lalu bangun dari tidur. Setidaknya kuah hangat dari mi dalam cup yang tengah ia seruput sedikit menenangkan perasaannya.
Semalam Kara terus terjaga hingga pukul dua. Pukul lima, ia harus terbangun untuk melaksanakan salat subuh. Itu artinya Kara hanya menjalani waktu tiga jam untuk tidur tadi. Pikiran-pikiran tentang Mai terus mengganggunya. Deduksi liarnya tak mengizinkan benaknya tenang untuk tidur dengan waktu yang lazim. Kara gelisah semalaman.
"Tumben makan mi rebus. Biasanya mi goreng. Lagi haus to, Mas? Tiati, kalau kebanyakan kuah nanti jadi gelonggongan."
Cibiran dan kekehan Doni hanya dilirik sekejap oleh Kara. Kara tetap fokus pada sarapannya. Setidaknya saat ini ia berhasil melatih otaknya untuk fokus pada apa yang sedang ia kerjakan. Kara hanya ingin mengabaikan pikiran-pikiran yang membuatnya tidak tenang.
Air mengalir dari dispenser ke gelas yang digenggam Doni. Lelaki beralis tipis itu membawa gelasnya ke meja seraya menggeser kursi untuk kemudian diduduki. Doni meneguk setengah gelas airnya. Masih tersisa sedikit ketika Doni mengernyit karena mendapati hal tak biasa di wajah kakaknya.
"Begadang, Mas?" Doni menebak selepas melihat kelopak mata Kara yang sedikit menghitam. Mata Kara juga terlihat sedikit memerah. "Chat sama gebetanmu lagi po, sampai malem?"
Doni meneguk sisa air di gelasnya seraya menahan senyum. Ia tak masalah jika ocehannya tidak dibalas oleh Kara. Masalahnya adalah, tidak terlihat senyuman di wajah Kara barang sedikitpun. Sebuah pemandangan yang tidak biasa. Doni lalu meletakkan gelasnya di tengah meja makan seraya menatap selidik lelaki di hadapannya.
"Oooh, aku paham iki." Jari telunjuk Doni bergerak naik-turun di depan wajah Kara. "Patah hati to?"
Kara berdehem. Lelaki itu akhirnya selesai dengan sarapannya. Ia menatap Doni malas. "Kepo."
Doni tersenyum usil. "Udah, nggak usah patah hati lama-lama. Lagian pacaran kok di chat. Itu lho, Mas, banyak cewek cakep di dunia nyata. Mbak Mai misalnya."
Kara yang tengah meneguk air mineral hampir tersedak tepat setelah mendengar kalimat terakhir yang Doni ucap. Mata Kara membulat. Sama sekali ia tidak mengira jika adiknya akan menyeret nama Mai dalam pembicaraan tidak berbobot ini.
"Lagian kalian cocok. Sama-sama kutu buku. Sana lho, library date! Sayang banget kalau nggak jodoh."
Kara menghela napas panjang, mencoba menenangkan perasaan dan pikiran yang berkecamuk akibat mendengar ocehan Doni. "Terus kalau ada sepuluh cewek kutu buku yang akrab sama aku, emang semuanya bakal tak pacari? Kan enggak to, Doni pinter!"
Doni cekikikan. "Pinter juga masku ini."
Kara beranjak sambil membawa cup bekas mi yang ia makan. Cup itu ia buang begitu saja di tempat sampah. Sementara gelas minumnya langsung ia cuci setelah isinya ia teguk habis.
"Eh, Mas. Ada diskonan lho, di Gramedia. Nggak mau berburu buku, Mas? Kemarin di bazar kan nggak ada buku inceranmu, to?"
Kara menoleh pada Doni setelah meletakkan gelasnya ke rak. Kali ini topik pembicaraan Doni menarik atensinya. "Mosok?"
Doni mengangguk. "Aku dapet info dari temen. Sana, Mas, ke Gramed!"
Kara menyipitkan mata. Merasa tidak lumrah dengan gelagat Doni. Kara merasa, Doni ingin ia pergi. Berikutnya, jika Kara pergi dari rumah, kemungkinan yang terjadi adalah Doni akan melakukan hal ajaib. Menghabiskan camilan Kara dalam sekali makan, misalnya. Atau yang kedua, Doni ingin menggunakan barang milik Kara ketika Kara pergi.
KAMU SEDANG MEMBACA
May I Read Your Heart?
Teen FictionSetelah berhasil membeli novel incarannya dari seseorang bernama Bas di twitter, Mai membawa novel-novel itu ke kota rantauannya-kota tempat ia berkuliah. Mai juga menjadi akrab dengan Bas sebab keduanya kerap bertukar informasi seputar buku. Ketika...
