Terik mentari membuat siapapun tidak nyaman berada di luar ruangan siang ini. Setelah Doni menemani Adis membeli sosis bakar jumbo di pelataran gedung bazar, Doni dan Adis menunggu Mai dan Kara di bangku seraya menghabiskan sosis bakar yang mereka beli. Keduanya berteduh di bawah pohon besar yang rindang. Tak ragu Doni memberi Adis obrolan dan candaan ringan. Itu sudah cukup memancing gelak tawa Adis. Ini juga merupakan usaha Doni untuk melenyapkan kecanggungan antara keduanya yang terjadi selama ini.
Baru sebentar Doni dan Adis menikmati obrolan tanpa sosis bakar, dua kutu buku yang menyebabkan mereka mengunjungi bazar pun datang. Mai terlihat menggenggam sejumput kemeja hitam Kara pada bagian bawah. Sementara Kara tanpa persetujuan meletakkan dua paper bag ke pangkuan Doni.
"Heh apa ini? Kok dikasih ke aku, ki lho?" Tentu saja Doni memrotes. Ia bukanlah adik yang penurut dan manis terhadap Kara.
"Titip bukuku sama Mai."
"Sing tuku sopo sing nggowo sopo."
(Yang beli siapa, yang bawa siapa).
"Menolong orang kan menambah pahala." Kara tersenyum. Kemudian ia melihat ke belakang. Mai sudah melepas genggamannya dari kemejanya. Bagian kemeja yang tadi digenggam Mai terlihat kusut. Kara sebenarnya tidak suka terlihat tidak rapi. Namun kali ini ia kesampingkan egonya, demi membantu orang lain.
"Makasih, Mas," kata Mai gugup.
"Iya, sama-sama."
Deheman Doni tiba-tiba menginterupsi Mai dan Kara. Lelaki beralis tipis itu bersedekap setelah meletakkan dua paper bag yang ia pangku ke bawah bangku. "Kalian habis ngapain di dalem? Kok makasih-makasih?"
"Harusnya aku yang nanya ke kamu. Kamu ngapain di luar?" Kini giliran Kara yang bertanya. Lelaki itu berkacak pinggang. Ia benar-benar tidak mengetahui tentang perasaan Doni pada Adis dan segala caranya mendekati Adis. Hal itu membuat Doni membelalakkan mata lantaran merasa sedikit panik. Kara lalu diseret menjauh dari Mai dan Adis oleh Doni.
"Mas, jangan gitu, to. Aku tu lagi PDKT."
Mata Kara yang memang sudah bulat semakin membulat usai mendengar perkataan adiknya. "Sama Adis?" Jawaban yang ia dapat hanyalah anggukan. Kemudian Kara terkekeh seraya menepuk dahi.
"Kenapa?" tanya Doni.
Jemari Kara mengacak rambut adiknya dengan sedikit kasar, hingga sang pemilik rambut meringis. Kara kemudian berkata, "Adiku wis gede, jebul."
(Adikku udah besar ternyata)
Alis tipis Doni yang sudah bertaut kini kembali ke posisi semula. "Udah to, jangan ganggu. Mas Kara mending sama Mbak Mai aja itu, lho. Pacaran kok sama buku." Doni mengatakan kalimat terakhir sambil beranjak pergi. Kembali menghampiri Adis yang kini sudah berdiri bersama Mai sambil menenteng salah satu paper bag.
"Ini, punya Mas Kara," kata Adis seraya memberikan paper bag yang ia bawa pada Doni. Doni dengan senyum lebar menerimanya. Jika Adis yang memberi paper bag tersebut, pastilah Doni akan bersikap manis dan rela membawa benda itu.
Mendapati adiknya lebih rela berkorban untuk orang lain, Kara berdecak kesal. Tangan Kara menyerobot paper bag berisi buku miliknya dari tangan Doni.
"Mau ke mana kalian habis ini?" tanya Doni pada Adis dan Mai ketika mereka berempat berjalan beriringan menuju tempat parkir.
Adis dan Mai saling melempar tatapan bingung. Keduanya tak memiliki rencana apapun selepas mengunjungi bazar. Hal yang paling biasa terjadi setelah mereka pergi ke suatu acara hanyalah pulang ke kos.
"Pulang," jawab Adis ragu.
"Oh. Nggak mau ke mana gitu?" tawar Doni.
Seketika Mai paham dengan arah pembicaraan Doni. Mai kemudian memutar otak untuk membantu Doni. Kemudian Mai cepat-cepat menyarankan, "Jalan-jalan juga boleh."
KAMU SEDANG MEMBACA
May I Read Your Heart?
Teen FictionSetelah berhasil membeli novel incarannya dari seseorang bernama Bas di twitter, Mai membawa novel-novel itu ke kota rantauannya-kota tempat ia berkuliah. Mai juga menjadi akrab dengan Bas sebab keduanya kerap bertukar informasi seputar buku. Ketika...
