Bab 7: Event Buku

11 3 1
                                        

Lonceng kecil yang tergantung di dinding warung bagian depan berbunyi. Pertanda seseorang datang di warung keluarga Kara. Lelaki yang merupakan anak sulung dari keluarga itu kemudian bergegas meninggalkan ruang keluarga untuk menemui pengunjung warung keluarganya.

Pagi buta begini, Doni biasanya masih tidur atau sibuk buang air besar. Ayahnya sedang bersiap untuk berangkat ke kantor, sedangkan ibunya pergi berbelanja. Hanya Kara yang memungkinkan untuk melayani pelanggan. Kara menghela napas panjang ketika sampai di warung. Ia mendapat senyuman dari pelanggan yang berdiri di balik etalase.

"Mau beli apa, Mai?"

"Ada sampul plastik nggak, Mas, buat buku A5?"

"Ada. Mau berapa?"

"Lima. Berapa?"

Kara berlutut untuk menemukan sampul plastik buku A5 di salah satu etalase. Ia kemudian meletakkan lima lembar sampul di atas etalase yang berhadapan langsung dengan Mai. "Satunya seribu."

Uang 50.000 rupiah Mai letakkan di etalase. Setelah sempat mengambil, Kara mencari uang kembali di laci warung. Namun yang ada hanya empat lembar uang 2000 dan dua lembar uang 10.000 rupiah.

"Ada uang kecil nggak?"

"Enggak," jawab Mai usai mengecek dompetnya kembali.

Kara kemudian berlari ke dalam rumah dan mengecek dompetnya, apakah ada uang untuk tambahan kembalian Mai atau tidak. Ternyata di dompetnya hanya ada dua lembar uang 50.000 dan satu lembar uang 1000 rupiah. Kara pun mengembalikan uang Mai.

"Bawa aja uangnya," ucap Kara.

"Nggak ada kembalian ya?"

"Enggak."

Bibir Mai membulat. Kepalanya manggut-manggut, walau sebenarnya ia menerima uangnya kembali dengan berat hati. Padahal Mai membeli sampul di warung dengan niat sekalian merecehkan uang. Uang yang ia terima ia masukkan kembali ke dompetnya dengan perlahan karena sedikit kecewa.

Menyadari raut wajah Mai, Kara tiba-tiba berkata, "Aku tuker uang ke tetangga sebentar. Tunggu ya!" Kara melesat ke warung lain di dekat rumahnya yang menjual nasi rames.

Ketika Kara pergi meninggalkan warung, Doni datang di warung dan bertanya pada Mai, apa yang hendak Mai beli. Mai pun menjelaskan apa yang terjadi. Mendengar penjelasan Mai, Doni yang melihat Kara sedang kembali ke warung pun tersenyum usil dan menceletuk, "Waduh, gede banget effort pria sejati."

Uang 45.000 rupiah Kara beri pada Mai, dan uang 50.000 rupiah yang tadinya sudah masuk dompet pun Mai berikan kembali pada Kara.

"Pembeli kan raja," kata Kara pada Doni.

"Mbak Mai cewek, lho. Berarti ratu." Doni menaik-turunkan alis seraya tersenyum usil.

"Oh iya. Pembeli adalah ratu," ralat Kara.

"Rajanya? Mas Kara!" celetuk Doni seraya menunjuk kara dengan dua telapak tangannya. Senyum sumringah terukir di wajah Doni. Mendengar celetukan Doni, Mai hanya terkekeh geli.

Kara tersenyum kecut. "Nggak usah didengerin, bocah edan dia tuh," katanya sembari salah satu tangannya menampik sepasang telapak tangan Doni yang menunjuknya.

"Ya udah aku duluan ya."

"Nanti mau ke event buku ya, Mbak?" tebak Doni.

"Iya. Kok tau?"

"Kata Adis."

Kemudian Mai mengulum senyum. Mai ingat Adis sempat meminta pendapatnya mengenai pakaian bagus untuk jalan-jalan di akhir pekan. Adis juga mengatakan bahwa dirinya tidak bisa menemani Mai di event buku hari ini—meski Mai tidak meminta Adis untuk menemaninya. Mai bisa menebak bahwa Adis hendak pergi bersama Doni.

May I Read Your Heart?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang