Bab 4: Bazar!

20 4 3
                                        

Wangi buku dapat tercium di seluruh ruangan. Orang-orang berlalu lalang memilih dan membaca blurb beberapa buku yang tertata di hadapan mereka. Tak sedikit yang mengambil dua hingga tiga buku untuk dibawa ke kasir pagi ini. Ada pula yang sibuk membandingkan harga buku di sana dengan yang dijual secara daring, termasuk Mai.

Mai berdiri di antara meja-meja yang ditumpangi novel bergenre fantasi. Itu adalah genre novel favoritnya. Di sampingnya, ada Adis yang cukup sibuk menelisik novel-novel yang ilustrasi sampulnya bagus menurut Adis. Adis juga memfoto beberapa novel dan mengunggahnya ke media sosial—meski ia tidak membeli. Yang penting upload story, pikirnya.

"Lumayan murah, sih. Tapi nggak jauh beda sama yang dijual di online." Mai melihat sampul belakang novel-novel di hadapannya untuk melihat harga. Satu tangannya yang lain menggenggam ponsel, untuk memastikan harga buku-buku di hadapannya yang dijual di platform e-commerce.

"Tapi kan ini nggak pakai ongkir, Mbak."

"Oh iya, bener."

"Ya, kan? Terus bisa langsung lihat. Jadi tau bukunya ada damage atau enggak."

Mai mengangguk paham. Ia mencoba mengabaikan harga-harga murah di ponselnya. Kembali ia masukkan ponselnya ke kantong kulotnya. Gadis berambut panjang lurus yang diikat ke belakang itu kemudian mengambil satu buku di hadapannya.

"Kamu nggak mau beli buku, Dis? Kamus-kamus gitu misal," tawar Mai.

Adis menggeleng. "Enggak deh, Mbak. Lagi hemat."

Bazar buku ini digelar di salah satu gedung serbaguna yang berada di kota Semarang. Tim penyelenggara yang namanya sudah cukup besar pun rutin menggelar bazar setiap tahun. Hanya saja kota yang mereka tempati untuk menggelar bazar selalu berbeda setiap tahunnya. Kali ini Mai beruntung, karena Semarang terpilih sebagai salah satu kota tempat terselenggaranya bazar tahun ini.

Dua sahabat itu menyusuri jalan-jalan sempit di antara meja-meja tempat buku ditata dengan rapi. Sesekali Mai berhenti setiap ia melihat buku yang menarik perhatiannya.

"Loh, Mbak Mai?"

Suara berat menginterupsi Mai. Yang dipanggil segera menoleh ke belakang. Rupanya suara berat tadi adalah milik Doni.

"Oh, Doni." Spontan ujung-ujung bibir Mai terangkat sebelum akhirnya ia melirik Adis sekilas. "Sendirian, Don?"

"Enggak. Sama Masku. Lagi milih buku."

"Yang mana?"

"Itu." Doni menunjuk jauh ke arah kanan Mai.

Sekitar tujuh meter dari titik mereka berdiri, terlihat seorang lelaki bertopi sedang memilih buku. Mai langsung bisa menebak bahwa lelaki itulah yang dimaksud Doni. Sebab, di sekitar lelaki itu hanya ada perempuan dan satu lelaki lanjut usia. Lagipula tidak mungkin kakak Doni lebih tua dari orang tuanya.

"Yang pakai topi itu?" tebak Mai.

"Ho'oh," jawab Doni. Kemudian netra Doni beralih melirik perempuan yang berdiri di sisi Mai. Sialnya, mata kedua insan tersebut bertemu. Hal itu membuat telinga Doni memerah. Doni akhirnya mengalihkan pandangannya pada kakaknya.

"Mas, hey!" Doni berteriak cukup keras ketika kakaknya celingukan mencari Doni. Suara berat itu menarik perhatian orang di sekitar, termasuk Kara. Merasa dirinya mengganggu sekitar, Doni pun menautkan dua telapak tangannya sambil membungkuk berulang kali pada orang di sekitarnya. "Maaf, Mbak, Maaf Mas."

Kara, ketika mengetahui titik keberadaan adiknya, melangkah ke sana dengan segera. Kara lalu tersenyum ramah ketika sampai di sana dan mendapati ada dua perempuan yang berdiri bersama Doni.

May I Read Your Heart?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang