Tiga hari selepas empat insan itu mengunjungi kota lama, Adis terlihat semakin akrab dengan Doni. Mai menyadari hal itu, terlebih dirinya kerap melihat Adis menyunggingkan senyuman berkali-kali ketika melihat ponsel. Mai ikut senang jika Adis dan Doni senang.
Hari ini Mai selesai kuliah pukul 14.00. Jadwal kelasnya semester ini hanyalah untuk konsultasi skripsi. Terlihat lebih santai dari semester-semester sebelumnya. Namun sebetulnya semester inilah yang menurut Mai paling membuat kepalanya pening. Selain harus mencari data yang valid untuk penelitiannya, Mai juga harus mencari banyak bacaan untuk referensi.
Sialnya, Mai tidak bisa begitu saja meninggalkan akun media sosialnya yang rutin memberi review tentang buku. Di twitter dan instagram, konten-kontennya hampir selalu ramai. Mai selalu mereview buku-buku yang telah ia baca dengan baik. Informatif, bahasa yang menarik, tidak berbelit-belit, runtut, dan yang terpenting adalah Mai selalu jujur mengenai penilaiannya.
Hingga baru saja setelah Mai sampai di kos, paket berisi sebuah novel ia terima dari kurir. Paket itu adalah kiriman gratis dari sebuah penerbit. Mai bekerjasama untuk mereview novel terbitan penerbit yang bersangkutan. Imbalannya adalah novel gratis. Mai pun tidak menolak. Sebab, selain mendapat buku gratis, akunnya mungkin akan kedatangan beberapa pengikut baru setelah melakukan kolaborasi dengan penerbit tersebut. Terlebih novel yang ia terima merupakan novel romansa-fantasi yang sedang hangat-hangatnya diperbincangkan oleh para penggemar novel.
Sesegera mungkin Mai membuat video unboxing dan membaca novel tersebut. Hingga ketika malam terlalu larut, ia baru menyadari bahwa dirinya telah mengabaikan tugas akhirnya. Ya, tidak ada progress untuk skripsinya hari ini, selain tambahan revisi dari dosen pembimbingnya.
Mai menepuk dahi. Ia yang semula duduk di kasur dan bersandar pada dinding di sudut kamar akhirnya beranjak. Novel yang sudah ia baca setengahnya ia geletakkan begitu saja di kasur yang spreinya sedikit berantakan.
Ponsel di meja buru-buru Mai raih. Pasalnya, gadis berambut panjang itu juga melupakan salah satu media komunikasi dan informasi yang dimilikinya itu. Mai lalu membuka akun media sosialnya. Benar saja, banyak notifikasi berdatangan di instagram dan twitternya. Pun akunnya kedatangan puluhan pengikut baru.
"Maaf ya guys, replyan kalian di ig sama twt aku balas besok. Yang minta follback juga besok yaa, soalnya banyakk! Belum lagi aku harus ngerjain skripsi besok huhu (╥﹏╥) Makasih udah mampir ke akunku," ungkap Mai dalam cuitannya di twitter.
Sekarang sudah nyaris pukul 12 malam. Beberapa menit lagi hari akan berganti. Mai yang sedikit bimbang akhirnya memutuskan untuk mematikan ponsel dan tidur. Sayangnya, ketika Mai akan mematikan benda kecil itu, di layarnya muncul notifikasi dari Bas.
Bangbrob: Kamu belum tidur?
Siapa sangka, chat dari Bas di DM twitter dapat dengan mudah membuat Mai mengurungkan niatnya.
Omamamai: Belum, Kak. Kak Bas juga?
Bangbrob: Iya. Kalau malam ide buat nulis tuh banyak banget, wkwk.
Omamamai: Oh, Kak Bas nulis juga? Nulis novel kah? Di mana?
Bangbrob: Aku nulis di beberapa platform nulis. Nggak semua tulisanku berupa novel, sih. 😅
Omamamai: Nonfiksi kah?
Bangbrob: Sometimes. Seringnya cerpen, puisi. Tapi aku masih belajar nulis. Mau baca tulisanku nggak?
Mai diperlihatkan tulisan Bas di akun menulisnya pada salah satu platform menulis. Kemudian, Mai membaca singkat tulisan lelaki itu. Pemilihan kata yang apik serta penulisan yang rapi membuat Mai cukup takjub. Plot yang menarik dalam cerita pendek yang ditulis Bas semakin menambah kekaguman Mai.
KAMU SEDANG MEMBACA
May I Read Your Heart?
Teen FictionSetelah berhasil membeli novel incarannya dari seseorang bernama Bas di twitter, Mai membawa novel-novel itu ke kota rantauannya-kota tempat ia berkuliah. Mai juga menjadi akrab dengan Bas sebab keduanya kerap bertukar informasi seputar buku. Ketika...
