"Bunganya belum mau mekar, ya?" Tanya Jerrick pada Oliver, saat ini mereka berada di kebun milik Esha, rencananya mereka akan memanen bunga untuk dijual hari ini. Sebab ada banyak orang yang memesan buket bunga. Tapi, mereka tak menemukan satupun bunga yang bermekaran untuk di panen.
"Pasti Esha belum pulih dari heat nya, kurasa kita harus mengundurkan pesanan mereka lagi" begitulah yang di simpulkan Oliver.
"Teori gila itu lagi.. Yah, kalau di pikir-pikir, ada benarnya juga sih..."
Saat Jerrick masuk ke dalam rumah kaca untuk memastikan sekali lagi, langkahnya berhenti saat matanya bertemu dengan setangkai bunga forget me not yang mulai mengeluarkan pangkal bunganya. Jerrick berjongkok di depannya, dan memperhatikan pucuk bunga itu akan bermekaran. Hingga beberapa saat ia terus menanti, akhirnya kelopak-kelopak sebiru laut itu mekar dengan indah. Satu per satu dari pucuk-pucuk bunga itu akhirnya bangun dari tidur panjang.
Di sisi lain, di kediaman baru Esha. Laki-laki itu mengerjapkan kedua matanya. Samar-samar penglihatannya melihat langit-langit kamar. Serasa yakin dia sudah sanggup untuk bergerak, Esha pun bangun dan bersandar pada bantal. Dia mengeluh, menunduk memegangi kepalanya yang pusing.
Tiba-tiba dia melihat sepasang kaki berambut halus muncul di depannya. Perlahan Esha menaikkan kepalanya, dia menemukan Eiden yang hanya mengenakan celana pendek, memakai apron hitam, yang tengah membawa nampan makanan.
"Selamat pagi, Esha" ucapnya. Dengan satu tangan lainnya dia mengambil meja makan kecil yang ada di bawah kasur, dan meletakkannya di antara kaki Esha. Barulah dia menaruh nampan yang ternyata berisi semangkuk bubur ayam dan sup jagung di sana.
Aroma lezat dari makanan itu menggugah selera Esha, rasa kantuk di matanya langsung hilang begitu saja, "Selamat pagi, Eiden... Apa kau yang memasak ini semua?"
Eiden dengan wajah datarnya hanya menganggukkan kepala, "Aku membelinya dari toserba, dan tinggal memanaskannya saja."
Esha terkekeh pelan mendengar itu, sebab dia nyaris terpukau dengan Eiden yang dipikirnya bisa memasak. Lalu, dia pun mengambil sendok dan mulai melahapnya. Rasa lapar tiba-tiba menyerang, membuat Esha dengan lahap menyantap makanan lezat itu.
"Suka?"
"Mhm! Suka!"
Melihat bagaimana Esha tersenyum ke arahnya, Eiden jadi terkesima hingga terlarut dalam pandangannya. Dengan sendiri tangan kanannya bergerak, mengusap pipi bagian kiri Esha dengan lembut. Perbuatan Eiden mengingatkan Esha akan apa yang pria itu lakukan padanya. Esha baru mengingat kalau mereka sudah melakukan seks bersama. Ingatannya berputar seperti film yang semakin lama membuat pipinya menjadi merah. Dia ingat, dirinya mendesah merasakan sensasi kenikmatan yang tak tertahankan dari hentakan Eiden pada perutnya, dia ingat dirinya dibelai, dicium, dan dipermainkan hingga dengan lantang ia menyebutkan nama Eiden.
Melihat Esha yang menjadi malu, dominan alpha yang masih tahan memperhatikan Esha itu pun terkekeh kecil, "Haha, kau ingat semua?"
"A-aku..."
"Bagaimana perasaanmu, apa heat mu mulai membaik?"
Esha mengangguk-angguk, ia meneruskan memakan sarapannya, "S-sudah, aku sudah lebih baik..."
"Pipimu saja masih cukup panas."
Esha semakin salah tingkat dibuatnya, "T-tapi rasanya aku sudah lebih baik."
"Kau membuatku khawatir, Esha. Kau terus tidur selama 3 hari. Ibu Narcissa selalu datang untuk menyuapi mu makan. Aku panggil dokter, katanya kau kelelahan. Salahku, aku memaksa tubuhmu sampai seharian tanpa jeda melakukan seks denganmu."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Cold Hearted Husband! (BXB)
RomanceKarena perjodohan, membuat Esha harus menyetujui pernikahannya dengan Eiden, pria berhati beku yang selalu mencoba lebih dekat dan mengenal Esha. Akankah Esha berhasil membuat Eiden luluh? Bagaimana kisah rumah tangga tanpa didasari cinta mereka? WA...
