"Besok aku akan datang!" Pekik Esha dari dalam mobil, sembari melambaikan tangannya pada teman-temannya yang masih berdiri tak jauh di samping mobil. Mobil yang di tumpangi Eiden dan Esha itu pun pergi meninggalkan parkiran.
"Tuan Lorath itu orang yang tak punya hati atau apa? Kau lihat 'kan, gara-gara ucapannya, Esha sejak tadi tak banyak bicara. Apa sulitnya menyenangkan hati Esha?" Gumam Oliver yang terus menatapi kepergian mobil mereka.
"Mungkin Tuan Lorath memang belum siap punya anak?" Sahut Fawn.
"Bukan itu masalahnya, Fawn. Masalahnya adalah perasaan Esha! Ok, kalau dia belum siap punya anak, tapi apa salahnya dia terus terang? Seperti mengatakan dia masih merencanakannya, atau apalah!"
Jerrick mengangguk-angguk, "Aku juga berpikir seperti itu.... Tapi apapun yang terjadi, sekarang itu urusan rumah tangga mereka. Kita hanya bisa bantu sisanya saja..."
Di sisi lain, di dalam mobil, Esha masih terus diam. Dan hal itu akhirnya di sadari oleh Eiden.
"Apa kau baik-baik saja?"
"Oh! Ya! Semua baik-baik saja, Eiden..."
Namun, hatinya merasa janggal, seakan yakin telah terjadi sesuatu pada Esha. Satu tangannya bergerak dan diletakkan di atas kepala Esha, dia mengusapnya dengan perlahan, "Kau yakin?"
Awalnya Esha diam, dan akhirnya dia memberanikan diri untuk mengungkap isi hatinya, "Tadi di taman... Kau ditanyai Jerrick..."
"Lalu?"
"Dan... Dan kau bilang, itu tidak penting. Jadi, aku berpikir kalau kau tak ingin punya anak?" Esha menatap Eiden dengan tatapan penuh maknanya, tentu kekecewaan di wajahnya bisa dengan jelas Eiden lihat.
"Bukan seperti itu" tanggap Eiden.
"Eh?"
"Maksudku, itu tidak penting untuk di bicarakan. Kita hanya tinggal menunggu hasilnya saja" jawabnya sembari terus mengusap pipi Esha.
"Aku pikir, kau tidak mau... Makanya aku terus memikirkannya dari tadi" kata Esha dengan jujur. Itulah yang menyebabkan dia tak banyak bicara.
"Lucu sekali" Eiden menunduk, mendekatkan wajahnya pada wajah Esha. Sontak laki-laki yang kini menyandang nama Lorath itu terkejut, "Ngomong-ngomong, kenapa hari ini kau begitu wangi?"
"A-aku tak tau... Padahal aku hanya memakai sedikit parfum ku tadi."
"Semua orang menatap ke arahmu."
"B-benarkah, ku rasa kau salah lihat?" Eiden semakin mendekatkan wajahnya, hingga membuat Esha dengan perlahan memundurkan kepalanya.
Namun, satu tangan Eiden bergerak ke belakang, dan menahan tengkuk Esha agar dia tak lagi bergerak menjauh, "Kau tau bagaimana mereka menatapmu?"
Esha menggeleng seraya jantungnya berdegup dengan kencang lantaran sikap Eiden terhadapnya, "Aku t-tidak tau?"
"Begini" kemudian Eiden menatap sekujur tubuh Esha. Manik matanya bergerak dengan intens dan penuh arti dari atas hingga ke bawah. Seakan-akan, sedang melecehkan Esha dengan pandangannya.
"A-aku tak pernah tau soal itu... Selama ini aku tidak mempedulikan itu."
"Itu konsekuensi ku menikahi mu" ucapnya dengan suara berbisik, yang mengejutkan Esha lagi, Eiden mendekatkan diri bibirnya, namun ia menahan untuk tidak mencium Esha. Belum, setidaknya dia ingin mengatakan hal yang lain, yang membuatnya harus menahan diri sebentar lagi.
"Omega ku."
Kemudian dia menempelkan bibirnya pada bibir Esha. Ciuman sekilas yang tak bertahan 3 detik itu seakan-akan telah dilewati hingga berjam-jam di pikiran Esha. Ciuman yang diberikan Eiden padanya begitu lembut, tidak ada kan terpaksa atau memaksa, bahkan tidak ada kesan rakus dan terburu-buru. Meskipun ciuman sederhana itu sangat singkat, namun Esha mengklaim bahwa ciuman itu adalah istimewa, terlebih, sebuah ciuman yang tertuju hanya untuknya saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Cold Hearted Husband! (BXB)
Storie d'amoreKarena perjodohan, membuat Esha harus menyetujui pernikahannya dengan Eiden, pria berhati beku yang selalu mencoba lebih dekat dan mengenal Esha. Akankah Esha berhasil membuat Eiden luluh? Bagaimana kisah rumah tangga tanpa didasari cinta mereka? WA...
