CHAPTER 13

651 61 6
                                        

Esha POV

Jujur saja, jauh di lubuk hatiku, aku berharap ibu Catherine cepat pulang. Agar aku bisa punya waktu berdua bersama Eiden. Namun, akan sangat tidak sopan untuk mengusir ibu Catherine yang datang dengan niat baiknya, untuk mengecek kondisiku. Padahal, ku lihat wajahnya terlihat sangat lelah, tapi dia masih mau memikirkanku, aku seharusnya tidak boleh berpikir seperti itu apalagi untuk mengusir ibu Catherine.

Anehnya lagi, sejak aku duduk di ruang keluarga bersama ibu Catherine, aku bisa melihat Eiden yang berulang kali turun hanya untuk melihat isi kulkas, dan tidak mengambil apa-apa untuk di bawa ke atas. Kadang juga aku mendapati dia mondar-mandir di ujung tangga, seakan memikirkan atau bergumam sesuatu, sembari memperhatikanku. Dan sudah 10 menit terakhir ini, aku tidak melihat Eiden lagi.

"Oh! Lihatlah! Sudah jam 9 malam!" Pekik ibu Catherine yang tersadar dengan jam yang ada di dinding. Dia tiba-tiba bangun sembari mengelap tangannya sehabis memakan beberapa kue sisa dari piknik tadi sore dengan selembar tisu, "Aku jadi khawatir dengan bayi-bayi besarku di rumah..."

"Takutnya mereka mencari dan menunggumu, ibu... Bukankah mereka tidak bisa jauh darimu?" Apakah aku sudah sopan untuk mengatakan hal itu?

"Kau ada benarnya juga, Esha! Aku harus segera pulang kalau begitu, katakan pada suamimu salamku" ibu Catherine dengan buru-buru mengambil tas dan kunci mobilnya, begitu juga dengan aku yang mengantarkan ibu Catherine ke depan teras.

Saat dia hendak melenggang ke mobilnya, dia berbalik sebentar dan berdiri di depanku, "Aku mau mulai sekarang, kau lebih memperhatikan dirimu sendiri. Menjaga pola makan, menjaga waktu tidur, jangan sampai kau bekerja terlalu keras. Oh! Dan katakan pada suamimu, jangan terlalu memikirkannya dan jalani saja" ucapnya sembari mengusap pucuk kepalaku.

"Baiklah, bu..."

Dia pun pamit, pergi meninggalkan rumahku. Aku jadi sangat penasaran, apa maksud dari perkataannya? Mungkin itu terdengar seperti seorang ibu yang sangat mengkhawatirkan anaknya, namun itu terlalu berlebihan seakan jika aku tidak melakukannya, akan terjadi hal yang buruk padaku. Satu hal lagi, apa yang dimaksud dari pesan ibu pada Eiden? Jangan terlalu memikirkan apa?

Mungking itu urusan mereka berdua, untuk sekarang lebih baik aku langsung mengecek Eiden yang bertingkah sangat aneh dari tadi. Setelah membereskan meja, segera aku naik ke atas untuk ke kamar, namun saat aku masuk, aku tidak menemukan keberadaan Eiden. Jadi, ku pikir aku akan menghampiri ruang kerjanya saja.

Ketika ku pegang gagang pintunya, aku mendengar suara Eiden dari luar. Dia sedang berbicara, mungkin menelpon seseorang. Ku tunggu sampai dia selesai, tanpa maksud untuk mendengar perbincangannya juga, hingga aku tak mendengar apapun dari dalam sana, barulah ku beranikan diri untuk membuka pintu.

"Oh, kau? Ibu sudah pergi?" Eiden yang melihatku pun langsung menghampiriku.

"Sudah, ibu sempat mengucapkan mu salam. Ia juga ada pesan untukmu, katanya jangan terlalu memikirkannya dan jalani saja. Apa maksudnya itu, Eiden?" Kataku.

"Bukan hal penting, itu tentang pekerjaan" sudah ku duga.

Aku mengintip di balik tubuh Eiden, melihat ke arah meja kerjanya, "Oh, begitu... Kau tampak sibuk?"

"Tidak."

Ku tatap kedua manik matanya, Eiden terlihat cukup lelah, tentu saja karena dia harus menyelesaikan semua pekerjaannya agar dia punya waktu untuk piknik sore ini. Dan untuk di tatap seperti itu oleh Eiden, aku belum terbiasa untuk menahan maluku. Aku ingin sekali hubunganku dan Eiden semakin dekat, tanpa ada rasa canggung seperti ini. Aku pun menjinjitkan kaki, meraih kerah pakaian Eiden dan mendekatkan wajahku pada telinganya.

The Cold Hearted Husband! (BXB)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang