Selesai jamuan, mereka semua pamit meninggalkan kediaman pribadi Eiden. Setelah sisa kegiatan itu di bereskan oleh pelayan yang dibawa oleh Catherine, ia pula pulang ke rumahnya. Rumah itu kini kembali menjadi tempat sunyi, yang hanya dihiasi dengan suara jam dinding.
Esha yang sehabis berganti pakaian tidur pun keluar dari kamar mandi, dan menemukan Eiden seakan menunggunya. Pria itu duduk di pinggir kasur, sembari melihat acara berita di tv gantung. Karena peka, Esha pun mendatangi Eiden. Dia membuka satu per satu kancing kemeja hitam yang dikenakan alphanya.
"Aku minta maaf, ayah harus merendahkan mu seperti itu. Dia suka asal bicara sesuai isi hatinya tanpa pikir panjang" gumam Eiden dengan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Esha, buat laki-laki itu semakin dekat padanya.
"Aku tau itu, Eiden. Ayah Matthew tadi juga minta maaf padaku dan menjelaskannya. Lagipula, karenanya aku jadi sedikit termotivasi sekarang" jawab Esha yang selesai membuka seluruh kancing pakaian Eiden. Dia hanya melingkari leher pria itu dan menatap Eiden penuh arti.
"Eiden, namun kenapa sepertinya kau dan ayah tak begitu akrab?"
Pria yang dipanggilnya itu menghela nafas kasar, dia menaikkan Esha hingga terduduk di pangkuannya, "Sejak dulu, ayah suka mengaturku."
"Oh, jadi karena itu?"
Eiden mengangguk, "Aku lelah terus dikontrol olehnya, dia mengatur hidupku seperti boneka. Tapi aku tak mau, aku menolak karena ingin berdiri di kakiku sendiri."
Esha tersenyum mendengar ucapan Eiden, "Aku mengerti sekarang. Ayah Matthew mungkin suka asal bicara, namun dia punya niat agar siapapun itu termotivasi. Eiden, tidakkah kau memikirkan hal itu? Kalau saja ayah Matthew tak memaksamu ikut aturan dan keinginannya, maka kau tak akan bisa jadi seperti yang sekarang, menjadi Eiden yang sukses dan mandiri. Dia melakukan itu untuk mendorongmu."
Perkataan Esha membuat Eiden kembali berpikir dua kali. Selama ini Matthew memang mengontrolnya, seperti pilihan sekolah dan perguruan tinggi, bahkan Eiden di suruh untuk memegang perusahaan keluarga. Namun, Eiden membangkang. Dia selalu punya keinginan yang bertolak belakang.
"Itu tak terpikirkan olehku. Aku selalu menentang keputusan ayah, jika dia memang egois, seharusnya dia tak membiarkanku melakukan apa yang aku inginkan" gumam Eiden.
"Ayah Matthew peduli padamu, namun ia tak tau bagaimana cara menyampaikan dukungannya padamu."
Tiba-tiba saja Eiden memeluk Esha dengan erat, pria itu menenggelamkan wajahnya di ceruk leher omeganya, dan menghirup aroma khas milik Esha yang semakin menenangkan pikirannya, "Aku memang tak salah pilih" gumamnya lagi.
"Seharian kau sibuk merencanakan jamuan, sekarang lebih baik kau tidur" Eiden membaringkan Esha dengan mudah di atas kasur. Begitu pula dengan dirinya sendiri, dia bersandar di bantal dengan masih melihat berita di tv.
"Lalu bagaimana dengan malam pertamanya? Kemarin kita tak melakukannya, apa sekarang juga harus kita tunda?"
Eiden tersenyum simpul mendengar perkataan omeganya itu, dia memberikan usapan-usapan tepat pada punggungnya, berharap Esha semakin nyaman dah cepat tertidur, "Kau kelelahan."
"Tidak! Sungguh, jika kau ingin, aku bisa melakukannya sekarang juga!"
Bukannya mendapatkan anggukan kepala, Eiden memberikan gelengan kepala untuk Esha, "Besok saja. Kau kelelahan, aku tau kau memaksa, masih ada hari lain."
Terukir dengan indah senyum melengkung sempurna di bibir Esha, sebab pada dasarnya dia benar-benar kelelahan, dia bertanya seperti itu karena ia berpikir Eiden menuntut melakukan malam pertaman mereka. Esha pun menutup kedua matanya, dan memeluk tubuh Eiden dengan erat. Begitu pula pria itu, yang dengan sigap menyamankan posisinya agar Esha lekas tidur.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Cold Hearted Husband! (BXB)
Storie d'amoreKarena perjodohan, membuat Esha harus menyetujui pernikahannya dengan Eiden, pria berhati beku yang selalu mencoba lebih dekat dan mengenal Esha. Akankah Esha berhasil membuat Eiden luluh? Bagaimana kisah rumah tangga tanpa didasari cinta mereka? WA...
