Bab 2

374 50 12
                                    

"Esther, tolong jangan kayak gitu lagi, aku tremor tahu lihatnya," ujar Lucy, manajer sekaligus asisten pribadi Esther.

"Kayak gitu gimana?" tanya Esther memang tidak begitu paham.

"Kejadian kemarin sore, tolong jangan diulangi. Hidupmu itu jauh lebih berharga dari apa pun. Jangan hanya karena patah hati, kamu memutuskan bunuh diri."

"Hhh, kamu tenang saja, itu tidak akan pernah terjadi lagi."

Saat ini Esther dan Lucy masih ada di kamar hotel, mereka baru akan kembali ke Ibu Kota nanti siang. Sejak dua hari lalu mereka memang tengah berada di pulau selatan dalam rangka menghadiri pesta pertunangan salah satu kerabat. Sesuai yang kalian duga, di pesta itu Esther kembali bertemu dengan Axelino yang ternyata datang bersama Viona. Hal gila terjadi di sana, Esther malas menjelaskan, intinya saat itu sikapnya memang keterlaluan.

Dia menyiram Viona dengan segelas wine tepat di wajahnya. Alasannya karena Esther tidak tahan melihat kepongahan Viona. Dia merasa sudah menang telak atas Axel dari Esther dan mengatakan bahwa Esther tidak punya harapan. Itulah yang membuat sang antagonis murka.  Dari sudut pandang Esther, sebenarnya Viona tidak sebaik itu. Dia bukan tipikal protagonis yang mudah disakiti. Namun, Axelino saja yang buta dan sudah kecintaan pada gadis itu makanya yang selalu disalahkan adalah Esther.

"Esther kamu itu cantik, banyak kok yang mau sama kamu selain si Axel. Aku yakin, jika kamu meninggalkan Axel, maka pria baik lain akan berdatangan asal kamu memperbaiki akhlakmu."

"Ini orang lagi muji atau ngehina, sih? Kok aku tersinggung, ya?" batin Esther sebal.

"Sudahlah Lucy, aku tidak peduli lagi dengan itu semua. Mulai sekarang tidak usah membahas tentang Axel atau pria mana pun. Aku hanya ingin hidup tenang, menikmati kemewahan dan bermalas-malasan," kata Esther kemudian membaringkan lagi tubuhnya di ranjang besar nan empuk.

Lucy yang melihat respons majikannya mengernyit, benarkah itu Estherina? Kenapa sikapnya begitu? Biasanya setiap Lucy memberi saran maka akan langsung dipatahkan dengan bentakan keras.

"Kamu yakin? Tidak ada rencana terselubung dari sikap tenangmu ini, kan?"

"Tidak Lucy ... sudah kubilang tenang, kekhawatiranmu sama sekali tidak akan terjadi. Sebaiknya sekarang kamu pesankan aku sarapan. Aku terlalu malas untuk keluar kamar."

Lucy memicingkan mata, "Jangan bilang kamu akan menyelinap diam-diam ke kamar Axel dan membuat masalah lagi?"

"Ayolah ... Esther, kasihanilah aku. Kamu tahu enggak, seberapa keras agensi menekanku karena semua skandalmu? Kalau bukan putri dari Herland Ludwig, mungkin sudah dari dulu karir modelmu hancur. Masalah penyiraman Viona kemarin saja belum sepenuhnya selesai. Untung dari pihak Vionanya tidak berniat mengangkat kasus itu ke publik. Agensi juga sudah berusaha menutup mulut media, jadi sebaiknya kamu tetap diam dan jangan membuatku senewen lagi."

"Astaga ... sudah kubilang aku tidak akan ke mana-mana, Lucy. Aku mau menikmati kemalasan yang selama ini seperti barang langka bagiku. Kamu paham tidak, sih?!" kesal Esther lama-lama karena terus dicurigai.

"Cih, menikmati kemalasan apaa ... setiap hari kamu selalu malas. Ada jadwal pemotretan saja harus aku yang menyeretmu ke lokasi."

"Ah nikmat sekali hidupmu Esther bisa malas-malasan sesering itu. Aku harus memanfaatkannya sebaik mungkin," batin Esther kegirangan.

Dia jadi tidak sabar untuk menikmati momen-momen menyenangkan lainnya yang akan dia dapat setelah menjadi Estherina Ludwig.

"Itu tahu aku malas, jadi tolong jangan usik kemalasanku hari ini. Sana, sana, pesankan makanan dan jangan ganggu aku sampai waktu pulang kita nanti."

Antagonist, Me?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang