Bab 13

746 62 15
                                    


Selama kurang lebih satu jam menunggu di luar ruangan operasi, Esther tak pernah sekalipun melepas waktu untuk tidak berdoa. Tidak ada kata lain yang ia rapalkan selain keselamatan Axelino. Berharap semua proses operasi berjalan lancar dan Axel segera sadar. Karena luka tusuk yang dialami Axel cukup dalam, pria itu sampai harus melakukan operasi darurat. Dia kehilangan begitu banyak darah, begitu kabar terakhir yang Esther dengar dari perawat yang membantu proses operasi.

Saat ini, Esther tidak menunggu sendirian, ada Jevin yang juga tak kalah khawatir mengetahui sahabatnya terluka parah. Pria itu sempat mengurus proses laporan ke polisi, dan baru menyusul ke rumah sakit setelah membereskan diskusi dengan pihak kedubes Australia. Pria itu penasaran tentang kronologi kejadian penusukan ini. Kenapa bisa insiden kriminal seperti ini sampai menimpa sahabatnya? Untuk saat ini, hanya Esther yang dapat menjelaskan semua yang ingin Jevin tahu. Namun, Jevin juga tak sampai hati menginterogasi Estherina sekarang karena tampak jelas gadis itu sedang terpuruk. Mungkin dia masih syok karena menyaksikan sendiri Axel ditusuk seseorang.

"Esther, sebaiknya kau bersihkan dulu noda darah di tanganmu. Sudah satu jam kau terus menangis, itu tidak baik untuk kesehatanmu," saran Jevin iba.

"Dia akan baik-baik saja, kan? Orang itu tidak akan mati dengan mudah kan, Jevin? Dia pria kuat, seharusnya Axel bisa melewati semua ini. Tapi kenapa ... kenapa dia hiks, hiks."

"Temanku juga manusia, walau menyebalkan dan suka berlagak kuat tapi dia memang agak lemah. Meskipun begitu, kau tenang saja. Aku yakin dia akan segera sadar."

"Ini semua salahku, dia begini karena aku. Karena berusaha menolongku, dia jadi terluka. Sepertinya aku memang pembawa sial untuk hidupnya."

"Tidak seharusnya aku menemuinya lagi. Aku tidak boleh terlibat dengannya supaya dia tidak mengalami hal-hal menyedihkan seperti ini."

Tangis Esther semakin deras, Jevin jadi bingung sendiri. Bagaimana cara menenangkan gadis itu? Dia juga agak canggung karena memang hubungannya dengan Estherina tidak seakrab itu.

"Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Esther. Axel memiliki alasan kuat kenapa dia mau melindungimu seperti ini. Dia pasti akan sedih jika mendengarmu berkata demikian."

"Tapi itulah faktanya, Jevin. Sejak bertemu denganku, kesialan demi kesialan terus menimpanya. Harusnya aku sadar dari awal kalau keberadaanku memang petaka baginya. Tidak seharusnya aku memaksakan kehendak dan menentang takdir. Dia bukan untukku, aku bukan tokoh utama yang harus dia lindungi. Kenapa dia bodoh sekali mengorbankan dirinya demi perempuan sepertiku?"

"Apa menurutmu Axelino orang yang sebaik itu sampai harus membahayakan nyawanya sendiri demi keselamatan tokoh tak penting bagi hidupnya?"

Jevin duduk di kursi yang sama dengan Esther, hanya saja berjarak cukup jauh. Meskipun begitu komunikasi mereka tetap lancar. Gadis itu menoleh dan memandangi Jevin penuh tanya.

"Kau tahu tidak, hari ini ... beberapa jam sebelum insiden penusukan terjadi. Aku menjadi saksi betapa hebatnya sosokmu memperdaya Axelino. Pria yang tak pernah hilang fokus dalam kondisi apa pun, pria yang selalu tepat waktu di semua janji temu, dan pria yang sebegitunya mementingkan pekerjaan tiba-tiba melupakan pertemuan penting yang harus dia hadiri. Kau tahu apa alasannya?" Jevin menjeda kalimat sembari menatap Esther, gadis itu menggeleng dengan mata sembab yang masih rutin berair.

"Dia sibuk menonton wawancaramu. Dengan senyum aneh yang tak pernah kulihat sebelumnya, dia terus menatap sosokmu penuh kekaguman dari balik layar. Mungkin ini akan terdengar sedikit konyol, atau terserah jika kau berpikir aku mengada-ada. Tapi menurutku kau menempati posisi istimewa dalam hidup Axel. Setidaknya sejak dua bulan terakhir."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 09, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Antagonist, Me?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang