_@6

220 16 0
                                        

***

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

***

Fay.

"Hoaaaaam..."

Detik jam terus berbunyi. Cahaya pagi menyeruak masuk dari balik celah-celah gorden. Ini hari sabtu yang cerah.

"Fayy!"

"Fayy bangun!"

Seseorang berteriak dari balik pintu jati coklat itu. Aku mengusap-usap mataku dan mengerjap-ngerjapkan mata berulang kali sebelum terbuka sempurna.

"Iya, Ma! Fay udah bangun kok."

"Kalau sudah bangun langsung keluar! Cepet pengumumannya bentar lagi!" Mama berseru sekali lagi sebelum benar-benar meninggalkanku.

Aku masih belum sepenuhnya sadar. Aku menatap ke jendela luar. Ada puluhan kendaraan berlalu. Burung-burung yang berkicau hinggap di pohon rindang. Aku tersenyum hangat. Dari lantai dua rumahku, terlihat jelas jalanan yang kebetulan langsung menghadap jendela kamarku.

Sebelum aku benar-benar bangkit dari tempat tidurku, aku mengambil ponsel di atas nakas. Mataku terbuka sempurna kali ini.

09:30 WIB.

Astaga! Berapa lama aku tidur. Ini seperti sedang berhibernasi.

Tanpa menunggu waktu lagi, aku segera menyibak selimut dan segera bangkit mengambil handuk untuk melakukan ritual pagi membersihkan diri dari noda-noda kotor yang hinggap di kulit.

"Harusnya sih jam sepuluh pengumuman itu."

Aku bergerak gesit menggunakan alat-alat perawatan kulitku. Setelah selesai, aku segera menyeprotkan parfum dan segera berlari ke bawah menuruni tangga.

"Ma!" Panggilku pada Mama. Tapi, Mama tidak terlihat batang hidungnya di ruang keluarga, ruang tamu, juga di belakang.

"Dimana Mama?" Aku mengernyit bingung. Biasanya Mama jam segini nonton sinetron. Tumben sekali Mama sibuk di hari sabtu.

"Sini Fay! Mama lagi di gudang." Sahut Mama kencang dari kejauhan.

Ngapain Mama digudang? Aku segera melangkah kesana. Tumben sekali Mama ingin masuk ke dalam gudang. Biasanya, Mama itu paling anti sama benda-benda yang kotor.

"Mama lagi apa?" Tanyaku dari balik ambang pintu. Kuperhatikan Mama sedang mengobrak-abrik salah satu kotak tua dipojokan sana. Tanpa niat membantu aku memperhatikan Mama dari pintu sambil bersender disana.

"Kamu gak mau bantuin Mama?" Aku menggeleng. "Gak ah, Ma. Kotor." Sahutku.

"Mama tumben banget mau main kotor-kotoran gitu." Aku berseru dan perlahan mendekat. Rasa ingin tahuku lebih besar daripada debu yang ada disini.

"Ma jawab dong!" Aku kesal Mama daritadi mengabaikan aku.

"Sytt diem. Mama lagi fokus nih nyari sesuatu untuk kamu bawa ke SMA Nusantara nanti."

ENIGMATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang