-@8$34

109 7 0
                                        

***

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

***

Haider.

Di dalam ruangan remang, seorang lelaki sedang serius menatap layar lebar di hadapannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Di dalam ruangan remang, seorang lelaki sedang serius menatap layar lebar di hadapannya. Kode-kode unik terpampang jelas. Tangannya lihai mengetik angka-angka acak di atas keyboard. Dengan peralatan canggih terbaru miliknya, mudah saja baginya untuk menciptakan sebuah aplikasi baru bahkan menyabotase sesuatu.

"Haider, inget yaa hari ini pengumuman." Seseorang berbicara dari salah satu speaker kamarnya.

"Iya, Mah." Haider berseru malas.

"Mamah sama Papah nggak bisa mastiin kamu disana, tapi kamu harus bisa masuk kelas unggulan itu." Seseorang yang dipanggil Mamah terus berbicara dari balik speaker.

Haider berdehem tanpa niat menyahut. Dia lebih memilih asyik mengoperasikan komputer-komputer yang ada di hadapannya.

"Haider, denger Mamah, gak?" Suara dari speaker meninggi.

"Iya, Mah. Haider denger." Sahutnya malas.

"Yasudah, Mamah matikan. Inget ya... sepulang Mamah dan Papah dari LN kamu harus sudah diterima."

"Iya, Haider nggak mungkin nggak diterima." Tepat saat Haider berkata, sambungan telepon dari speaker tersebut terputus.

Haider menghela nafas. Dia mulai mengetikkan kode acak di layar, kemudian layar berubah menjadi sebuah tampilan game. Ini adalah game rancangannya.

Game dengan bentuk modern tersebut dirancangnya sedemikian rupa sesuai dengan imajinasinya selama ini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Game dengan bentuk modern tersebut dirancangnya sedemikian rupa sesuai dengan imajinasinya selama ini. Disana dirinya bisa mengubah karakter sesuai dengan keinginannya dan juga gerakan seperti apa. Termasuk game apa yang akan dimainkan olehnya, bisa diatur sendiri sesuai minat pemakainya.

Haider tersenyum sumringah. Setelah satu bulan lamanya, akhirnya game impiannya itu pun jadi.

Dengan teknologi layar sentuh pada layar komputernya, Haider menekan beberapa tombol dan game tersebut aktif. Haider mulai mengambil game control  nircabel—yang diciptakannya sendiri—berada tepat di samping keyboard lalu menghubungkannya dengan komputer. Tidak begitu sulit, hanya memasukkan beberapa kode acak, game controlnya telah terhubung dengan sendirinya.

"Haider!" Suara berat dari speaker kembali muncul. Tidak hanya berasal dari speaker kini salah satu layar komputer beralih menjadi tampilan sosok pria paruh baya dengan jas dan juga kacamata yang terpaut di hidungnya.

Haider berdecak. "Kenapa sih, Pah!" Haider kesal, baru saja dirinya akan memulai bermain, Papahnya malah mengganggu dengan menonaktifkan salah satu layar komputer.

"Pengumumannya sepuluh menit lagi. Jangan bermain game lagi!" Seru pria paruh baya itu tegas dengan mimik wajah datar.

Haider mendengus. "Iya, Pah, iya.... tadi Mamah udah ngomong, kok." Sahutnya malas.

"Pokoknya, kamu har—"

Tiiiit

Sambungan telepon diputus paksa oleh Haider.

"Cerewet banget sih mereka. Gue juga tau hari ini pengumuman. Santai aja harusnya mereka. Terlalu remehin kemampuan anaknya sendiri."

***

Sepuluh menit berlalu, Haider masih dengan asyik memainkan game bikinannya. Tidak disangka game tersebut benar-benar menyita waktunya. Dengan berbagai kecanggihan yang telah dirancang sendiri olehnya, game tersebut adalah game terhebat dari seluruh permainan yang telah dimainkan olehnya.

Drrtttt Drttttt

Tiinggg tinggg nonggg

Haider melotot. Game nya terhenti. Itu adalah nada notifikasi yang diatur oleh orang tuanya dari jarak jauh.

"Mamah, Papah ini dari jarak jauh aja masih ngatur lho! Kalah jadinya, aishh!" Keluh Haider melihat karakter dirinya diserang habis-habisan oleh lawan.

Dia segera mengetik sesuatu di atas keyboard. Dia mengeluh. "Ternyata itu notifikasi pengumuman." Haider berseru malas lalu menekan tombol notifikasi tersebut.

'Selamat datang permirsa. Apakah kalian sudah tidak sabar untuk melihat pengumuman SMA NUSANTARA untuk kelas unggulan tahun ini?'

Tampilan ketiga layar komputernya silih-berganti menampilkan sebuah tayangan berita.

'Baiklah... Tahun ini benar-benar menakjubkan. Setelah sekian lamanya kita menunggu peserta seleksi yang lulus dari tahun ke tahun, tahun ini sangat fantastis!'

Haider menyenderkan tubuhnya, dia menguap. Tayangan ini membosankan.

'Ada sembilan peserta yang lulus di tahun ini. WAAAAH! Hebat sekali! Benar-benar generasi genius!'

"Langsung aja sih. Lama amat! Tinggal umumin selesai. Gue mau main lagi nih! " Keluhnya kesal. Pembawa acara ini menurutnya terlalu bertele-tele.

'Apakah kalian sudah tidak sabar untuk melihat pengumumannya?'

"Udah tau nggak sabar, masih banyak omong." Haider menatap kesal layar komputernya.

'Inilah nama-nama siswa yang lulus, beserta nilai ujian mereka. Selamat bagi anda semua yang dinyatakan lulus masuk ke kelas ENIGMA!'

Haider menatap malas tiga layar komputernya yang menampilkan nama-nama murid yang lulus. Dia menunggu namanya tertulis disana.

Haider tidak cemas, ataupun gelisah. Dia terlihat santai. Kalaupun tidak lulus, dia masih bisa sekolah di luar negeri dengan teknologi yang jauh lebih canggih. Sekolahan itu tidak terlalu menarik minatnya.

'2. Haider Jefferson
skor tes: 999/1000'

Haider menguap. Setelah mengetahui namanya ada di urutan ke-2, dengan segera layar tampilan berubah menjadi tampilan gamenya kembali.

"Mana mungkin sekolahan itu nolak gue." Sombongnya sembari menekan-nekan game control.

Haider mendengus. "Kira-kira masuk sini gue masih bisa main game gak ya?"

ENIGMA

—ENIGMA—

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
ENIGMATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang