"Tuan?"Vaga yang sejak tadi membelakangi meja berbalik begitu mendengar suara asistennya. Dia menatap asistennya itu, lurus. Lama.
"Kamu sudah melakukan apa yang aku minta, Mack?"
"Ya, Tuan." Mack meletakkan sebuah berkas di atas meja. "Namanya Lusiana Lyly..."
Vaga meraih berkas itu, membukanya. Membaca isinya dengan kedua mata menatapnya serius. Seakan tak ingin melewatkan apa pun dari sana.
"Dia diberhentikan bekerja paruh waktu di salah satu Caffe di pusat kota. Selama tiga tahun ini, dia berusaha membantu melunasi hutang kedua orangtuanya. Dia juga bertanggung jawab menyekolahkan adiknya yang-"
"Siapkan mobil, Mack! Kita akan pergi sekarang!" perintah Vaga. Tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas di tangannya.
"Baik, Tuan."
****
"Bu, saya minta maaf. Tolong-"
"Saya sudah terlalu sering menolerir kesalahan kamu, Anna. Dan, Maaf. Kali ini tidak bisa."
"Tapi, saya-"
"Pergilah, Anna. Jangan membuat saya marah dan memanggil pihak keamanan!"
Anna, wanita yang sejak tadi menatap atasanya dengan tatapan memohon pun hanya mampu menghela nafas panjang. Dia menyerah, meraih sebuah amplop putih yang diletakkan di atas meja. Menatapnya lama.
Pekerjaannya berakhir, dia tidak memiliki pekerjaan saat ini. Padahal, disana adalah satu-satunya tempat dia mendapatkan penghasilan.
Tempat dia menggantungkan hidup saat ini.
Dia menatap atasannya sekali lagi. Sendu. Tapi, seolah tak peduli. Wanita itu kini berbalik dan pergi.
Menarik nafas dalam. Anna berbalik. Melangkah gontai, kepalanya menunduk, langkahnya terasa berat untuk keluar dari caffe. Kemana lagi dia akan mencari kerja setelah ini?
Mencari pekerjaan di kota besar sangat lah sulit. Terutama untuk dia yang tidak memiliki pengalaman apa pun. Sekalipun dia memiliki banyak peluang seharusnya.
"Kak, uang sekolahku sudah harus dibayar. Uang les juga begitu. Aku bahkan sudah menunggak tiga bulan."
Malam itu, Anna hanya mampu diam. Biaya pengobatan Ibunya menunggak. Biaya sekolah adiknya pun begitu.
"Atau ... Aku berhenti sekolah saja, kak? Aku-"
Anna menatap adiknya yang kini menatapnya takut-takut. "Besok kakak gajian. Kakak akan bayar semua biaya sekolah kamu! Jadi, sabar ya?"
"Tapi, kak-"
"Kamu harus lulus. Mau jadi apa kalau kamu berhenti sekolah sekarang?"
"Tapi, sekolah tinggi tidak menjamin masa depan seseorang, Kak."
"Agas!"
Agas berdecak, bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam kamar. Membuat Anna yang menatapnya pun hanya mampu memijit pangkal hidungnya.
Anna berhenti melangkah, dia terdiam saat ingatan demi ingatan memenuhi kepalanya. Biaya sekolah adiknya, biaya pengobat ibunya, biaya tempat tinggal mereka, juga biaya hidup sehari-hari. Dia harus memutar otak jika tidak ingin membuat kehidupan mereka dalam masalah.
"Apa aku menerima tawaran kerja Agnez saja?"
****
"Kamu yakin soal ini, Anne?"

KAMU SEDANG MEMBACA
Mengurai Benang Merah Cinta
RomanceHarap pintar dalam memilih bacaan!! *** Segala cara Vaga lakukan untuk mendapatkan Anna. Termasuk mengurungnya di istananya yang mewah. Tak mengijinkan siapa pun untuk melihat wanita itu barang hanya bayangannya. Vaga peduli. Tapi, dia tidak akan...