Bab 4

311 42 0
                                    

Anna melangkah dengan wajah menunduk. Sama sekali tidak berani mengangkat wajahnya.

"Kak, Kakak serius Mama akan dioperasi? Kakak dapat uang dari mana sebanyak itu?"

Anna berhenti melangkah. Adiknya yang menghadang langkahnya, memberondongi banyak pertanyaan membuatnya mendongak.

"Kak, jawab! Kakak dapat uang dari mana? Dan, apa ini?" Ada sodoran ponsel ke arahnya. "kakak membayar semua uang biaya sekolahku?! Semuanya?!"

Anna masih terkejut, dia tampak linglung.

Uang sekolah? Ibunya?

Anna hanya mampu menatap layar ponsel yang disodorkan oleh adiknya itu.

"Kakak bahkan membayar semua uang biaya sekolah sampai aku lulus? Apa kakak gila?!"

Pandangan Anna terangkat. Menatap wajah adiknya. Yang tampak marah. Murka bercampur kecewa.

"Semua ini .."

Senyum Anna terbit. Dia tanpa ragu memeluk adiknya erat. Tangisnya pecah.

Bingung, pusing, lelah, dan semua yang ia rasakan terasa tumpah. Melebur menjadi satu. Air matanya berbondong-bondong keluar tanpa henti.

Lega luar biasa ia rasakan. Semua bebannya yang berada di pundak terasa terangkat. Melebur hancur dan tak tersisa sedikitpun.

Harus bagaimana dia mengungkapkan perasaannya saat ini?

"Kak?"

"Kakak tidak melakukan apa yang kamu pikirkan, Aga. Kakak tidak menjual diri atau apa pun itu. Tidak. Tolong percaya pada kakak."

Aga diam. Terdiam. Setelah menghembuskan nafas tertahan. Dia balas memeluk tubuh kakaknya. Tak kalah erat.

"Aku percaya pada kakak."

"Terima kasih karna sudah percaya padaku."

****

Anna tidak bisa menghentikan senyumnya yang sejak tadi terbit. Saat kedua mata itu berangsur-angsur terbuka.

Dia melihat lagi kedua mata itu. Yang menatapnya.

"Ma?"

"A-anna?"

"Sttt, Ma, jangan bicara dulu. Mama harus istirahat agar Mama cepat pulih dan kembali seperti sedia kala. Mama harus istirahat."

Wajah itu menatapnya, ada air mata yang merembes di sudut-sudut matanya. Anna yang memandangnya pun tampak tergugu.

Terima kasih

Anna bisa melihat jika kata itu yang ingin diucapkan oleh ibunya. Jadi, Anna mengangguk. Tersenyum. Sekuat tenaga tidak menjatuhkan air matanya.

Senang, bahagia. Tidak lagi bisa ia ungkapkan lewat kata saat melihat bagaimana ibunya tampak baik-baik saja. Bisa kembali berkumpul bersamanya.

Tuhan, terima kasih untuk semuanya. Aku bahagia.

****

Anna mempercepat langkahnya. Sudah satu minggu berlalu. Ibunya bahkan sudah keluar dari rumah sakit dua hari yang lalu.

Adiknya, Agas, dia bisa kembali bersekolah. Melanjutkan pendidikannya. Sedang ibunya kini tengah beristirahat di dalam rumah. Tapi, Anna belum mengucapkan terima kasih pada seseorang yang telah membantunya.

Tidak perlu bertanya siapa orang itu. Anna sudah bisa menebak.

"Tuan Mack?" Anna menyerukan nama seseorang yang hampir masuk ke dalam lift itu. Beruntung, pria itu segera menghentikan pintu lift agar tidak tertutup.

Mengurai Benang Merah CintaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang