Anna merasakan usapan lembut di wajahnya, usapan itu terus turun sampai di rahang. Membuat dia mengerjab dan membuka matanya. Wajahnya seketika terkejut menemukan ada siapa orang yang berada di sampingnya saat ini.
Wajah itu menatapnya datar, kedua mata itu pun terlihat dingin dan tajam. Ekspresi tak bersahabat bercampur benci kini membingkai wajah itu. Membuat Anna segera bangkit dan terduduk.
Dia membenahi pakaiannya yang merosot. Lalu, tampak kikkuk saat menemukan wajahnya begitu berantakan dari pantulan kaca meja rias yang berada di sebrang tempat tidur. Anna menelan ludah. Dia menunduk saat kedua matanya tak sengaja bertemu tatap dengan kedua bola mata itu.
"Siapkan air hangat! Aku akan membersihkan diri!"
Anna mengangkat wajahnya, kedua matanya mengikuti tubuh itu yang turun dari atas ranjang. Berdiri. Tangan pria itu sibuk melepaskan jam tangan yang melingkari pergelangan tangan pria itu.
"Kamu tidak mendengarku?!"
Anna bangkit, merapikan pakaiannya yang-bagaimana dia tidur tadi? Kenapa ndandanannya begitu berantakan hanya karna dia tidur? Biasanya tidak begitu.
Anna melangkah ke arah pintu kamar mandi, menghidupkan kran air hangat, menuangkan beberapa sabun di bathtub, tidak lupa, dia juga menghidupkan lilin aromaterapi.
Tersenyum, Anna tidak bisa menahan senyumnya saat melihat bagaimana hasil dari apa yang ia lakukan. Ada busa-busa di sana. Aroma harum yang menguar bercampur dengan lilin aromaterapi terasa membuat tubuhnya rileks.
Anna bangkit, tubuhnya sudah akan berbalik sebelum membeku saat menemukan seorang pria yang berdiri di sana. Di tengah pintu kamar mandi masih dengan ekspresi yang datar.
Anna berdehem. Dia melirik ke arah lain asal bukan kedua mata yang menatapnya itu.
"Apa yang kamu tunggu?!" Suara dingin itu membuat Anna menoleh. Awalnya, dia menatap tak mengerti pria itu. Saat kedua tangan itu terlentang. Terbuka lebar di depan tubuhnya, Anna barulah paham jika pria itu memintanya untuk membantu pria itu membuka pakaiannya.
Wajah Anna sempat bersemu. Kakinya bergerak mendekat, melangkah ke arah Vaga yang masih diam.
Pertama, Anna meraih satu lengan pria itu. Membuka kancing di pergelangan tangannya. Disusul, lengan yang lainnya.
Tangannya berubah ragu saat bergerak mendekat ke arah dasi. Dia sempat melirik. Mencuri lirik ke arah wajah itu-yang ternyata masih menatapnya dingin tanpa ekspresi.
Suasana yang awalnya terasa mampu merilekskan tubuhnya itu berubah mencekam hanya karna tatapan mata pria itu. Anna bahkan berkali-kali menelan ludah saat tangannya bergerak melepaskan kancing-kancing kemeja itu.
Kepalanya semakin menunduk dalam, semakin tidak berani menatap wajah itu ataupun kedua matanya.
Aura pria itu benar-benar terasa mengerikan untuk Anna yang dia kira, dia mengenal pria itu cukup baik.
"V-vaga..." Dia menyebut nama itu takut-takut. "Bolehkah aku pulang setelah ini?"
Kedua mata Anna mencuri lirik ke arah wajah itu. Yang ternyata masih menatapnya datar dan dingin.
"Aku harus membantu Mama meminum obatnya. Juga-"
"Tidak!"
Tangan Anna berhenti di kancing ketiga. Wajahnya terangkat. Mendongak.
"Kamu tidak diijinkan keluar dari sini sampai kapan pun!" Ucapan itu begitu menusuk dan dingin.
"Kamu tidak lupakan, apa yang telah kamu janjikan padaku?!" Tubuh itu melewatinya. Berlalu dan melepaskan kemeja pria itu begitu saja. Lalu, disusul celana pria itu. Tanpa malu menutupi apa pun padahal Anna kini tengah menatap ke arah pria itu.

KAMU SEDANG MEMBACA
Mengurai Benang Merah Cinta
RomanceHarap pintar dalam memilih bacaan!! *** Segala cara Vaga lakukan untuk mendapatkan Anna. Termasuk mengurungnya di istananya yang mewah. Tak mengijinkan siapa pun untuk melihat wanita itu barang hanya bayangannya. Vaga peduli. Tapi, dia tidak akan...