Kepala asrama memberi anak-anak libur satu hari dari pelajaran untuk merayakan festival musim panas. Kebanyakan mereka mengambil kesempatan ini untuk mengunjungi keluarga atau kerabat dekat.
Namun, Sooyeon tidak punya siapa-siapa. Dia tidak mungkin berjalan kaki mengunjungi Kuil Gakwangsa kemudian kembali ke istana pada hari yang sama. Itu terlalu jauh. Awalnya dia berencana akan menghabiskan hari liburnya di asrama, sampai lelaki itu mengajaknya pergi ke perayaan festival.
Butuh beberapa saat untuk menata rambutnya, sedikit taburan bedak serta pewarna pada bibir. Dengan cermat Sooyeon menggunakan pakaian merah muda dan berharap bangsawan itu tidak akan menganggap penampilannya berlebihan.
“Aku tahu,” ucap Yuri sambil mempertahankan senyum bahagianya, “kamu pasti datang. Ayo, kita pergi ke tempat makan yang enak.”
“Kamu bilang mau menceritakan...” Sooyeon berhenti bicara dan melihat sekelilingnya. Dia menarik lengan baju lelaki itu untuk berjalan menjauh dari tembok istana. “Tentang rumor itu. Ingat, kan?”
“Tentu saja. Tapi sekarang aku sangat lapar.”
Pemilik kedai tersebut adalah wanita bertubuh pendek dan agak gemuk. Suaranya terdengar ramah, bertentangan dengan garis wajahnya yang terlihat tegas. Dia berbicara menggunakan aksen wilayah utara yang nyaris tidak Sooyeon mengerti.
“Kalian mau makan apa? Kami bisa menyajikan apa pun yang kalian inginkan. Ada semua jenis masakan dari delapan provinsi kecuali wilayah Pyongyang. Terlalu pedas. Tidak bagus untuk pencernaan. Makanan di sini dimasak dengan bahan berkualitas. Sebutkan saja; mau makan ayam, domba, babi, ikan. Semuanya ada.”
Sooyeon yang terbiasa makan dengan sayuran lembek selama tinggal di kuil, tidak tahu harus menjawab apa. Makanan di asrama lebih enak tetapi tidak beragam. Kebanyakan terbuat dari sohun dan telur.
“Aku ingin hidangan tujuh warna,” jawab Yuri menyela, membuat Sooyeon mengerjap dan bertanya-tanya seperti apa bentuk makanan yang dipesannya.
“Apa itu?”
“Kamu akan tahu nanti,” balasnya tersenyum. “Namaku Kwon Yuri. Kita belum berkenalan”
“Aku Jung Sooyeon.”
“Oh, kamu bermarga Jung ya. Dari klan mana?”
“Entahlah. Aku ditemukan di tepi pematang lalu dibesarkan oleh para biksu di kuil. Itu saja yang kutahu.”
Walaupun tidak tahu harus berkata apa namun Yuri bisa memahami kesedihannya. Kedukaan; bukan hanya kehilangan orang tua, melainkan lebih dari itu. Hilangnya kasih sayang, silsilah keluarga, jati diri, makna dari keberadaannya.
Sooyeon sengaja menunjukkan ekspresi datar, tidak menggambarkan emosi apa pun. Lebih baik begitu. Rasa simpati dari orang lain tidak akan menghapus sejarah hidupnya. Lagi pula seiring bertambahnya usia, Sooyeon tidak lagi penasaran tentang orang tua kandungnya.
Suasana canggung mereka terselamatkan saat pelayan menghidangkan satu per satu makanan di meja. “Jangan terbengong-bengong begitu,” ucap Yuri kelihatan geli. “Ini hanya makanan.”
Tak satu pun hidangan di meja itu bisa disebut ‘hanya makanan' seperti layaknya bubur yang dicampur dengan sedikit sayuran. Ternyata hidangan tujuh warna itu adalah bebek, telur puyuh, sup sirip ikan hiu, perut babi, dan sup sumsum tulang sapi. Ditambah bubur dan kue kacang yang dihidangkan paling akhir.
“Bagaimana kita akan menghabiskannya?”
“Kelihatannya memang banyak. Cobalah,” kata Yuri menyeruput kuah sup yang terasa hangat di tenggorokan. “Kamu tidak akan mau berhenti mengunyah setelah mencicipi rasanya.”
KAMU SEDANG MEMBACA
The Moon and The Sun
FanfictionTiga hal yang tidak dapat disembunyikan terlalu lama: bulan, matahari dan kebenaran.
