Sooyeon terhuyung akibat dorongan kuat yang memaksanya terus bergerak maju. Dia mendadak pening; kakinya goyah dan pandangannya begitu gelap. Tubuhnya merosot turun saat merasakan bahunya diremas dan ditekan ke bawah.
Ketakutan di dadanya menggelegak dan menyebabkan kantong matanya bengkak. Siapa sangka lelaki yang disangka berbaik hati menawarkan bantuan ternyata justru menutupi kepalanya dengan kain hitam.
Dia bergidik ngeri membayangkan jika itu adalah komplotan bandit yang menculik wanita untuk dijadikan budak seks. Tapi pemuda itu terlalu tampan untuk ukuran kelompok penjahat. Alisnya yang tebal, kulitnya mulus bak porselen dan bibirnya semerah buah delima.
Sooyeon tadinya mengira bahwa dia akan dikurung di dalam bangunan tua, kumuh, gelap, lembab dan berbau busuk seperti cerita yang tertulis dalam buku dongeng. Namun, untuk alasan yang sulit dipahami dia mencium aroma dupa yang terbakar. Dahulu kehidupan di kuil mengajarkan banyak hal tentang: bagaimana cara mendaraskan doa ke langit meminta hujan, bagaimana cara membaca pola cuaca pada retakan tempurung kura-kura, bagaimana cara membakar dupa untuk mengambil hati para dewa. Semua ritual yang diketahuinya terhubung pada nilai-nilai kebajikan, bukan kejahatan.
“Lepaskan penutup kepalanya.”
Suara pemuda itu lebih muram dari yang Sooyeon antisipasi. Dia membayangkan nada suara yang keras dan kasar, selaras dengan karakternya yang bengis sebagai pemimpin komplotan bandit, tapi suara lelaki itu dengan mengejutkan terdengar melodius, lembut dan dalam.
Awalnya Sooyeon tak melihat apa-apa selain kegelapan. Kemudian matanya menyesuaikan dengan cahaya temaram dari lilin-lilin kecil dalam lentera. Di mana pun dia berada, tempat itu sangat luas. Dihiasi lukisan-lukisan yang tergantung di dinding serta perabot besar dengan kaki melengkung yang jelas berasal dari negeri asing.
Sooyeon menyipitkan mata menatap ke depan. Samar-samar dia melihat sosok yang berdiri di balik tirai tipis, perlahan-lahan berjalan menghampirinya dengan membawa lentera di tangan kiri.
“Sapa dia dengan penuh hormat,” kata Yoona. “Dia adalah Putra Mahkota.”
“Yang Mulia,” sahut Sooyeon buru-buru melipat kedua kaki, merunduk ke lantai kemudian duduk berlutut. Lentera itu diarahkan tepat di samping kepalanya hingga membuatnya tersentak mundur. Putra mahkota, batinnya sangat terkejut menyadari betapa mirip wajah mereka.
“Sudah lama aku mencarimu,” demikian Taeyeon berkata, “paras cantik ini adalah anugerah dari dewa. Siapa namamu?”
“Sooyeon,” jawabnya gugup. Gadis itu berjuang agar nafasnya tetap teratur saat putra mahkota mengulurkan tangan dan menelusurkan ujung jemari di wajahnya.
Taeyeon berdiri, memindah topi hitam dari kepalanya ke atas kepala gadis itu sebelum menanggalkan pakaian luarnya.
“Kenakan jubah itu,” perintah Taeyeon.
Kening Yoona berkerut dalam. Apa yang ada di pikiran putra mahkota? Sepanjang perjalanan dia berharap akan mendapat jawaban, mengira Taeyeon mungkin akan menjelaskannya ketika dia kembali, tapi sekarang dirinya malah semakin bingung. Taeyeon mengangkat sebelah tangannya sebelum Yoona sempat protes.
Sooyeon mendongak mempertanyakan maksud dari perintah tersebut tetapi tatapannya kembali jatuh ke pangkuan dalam sekejap. Dia punya alasan yang bagus untuk takut.
Rumor tentang dayang-dayang di istana tidak berani memandang ke arah putra mahkota; tidak jika mereka peduli akan keselamatan diri mereka sendiri. Lelaki itu pendiam namun sulit diprediksi. Dia bisa membiarkan satu kesalahan begitu saja selama bertahun-tahun, kemudian mendadak menggemparkan istananya pada momentum yang dia rencanakan dengan baik.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Moon and The Sun
Fiksyen PeminatTiga hal yang tidak dapat disembunyikan terlalu lama: bulan, matahari dan kebenaran.
