X. Kehilangan dan Kematian

569 32 5
                                        

CW!blood, violent


Selama beberapa jam terlewati, akhirnya pintu besar ruangan itu terbuka kembali dengan suara berderit yang nyaring. Keenam remaja itu mendongak serentak, hati mereka yang baru saja dipenuhi harapan kini kembali dihinggapi rasa waspada. Langkah-langkah berat terdengar dari balik pintu, dan sosok Professor Marcellus muncul dengan senyum tipis di wajahnya yang dingin. Di belakangnya, para petugas dan ilmuwan PLEDIZ Corp. mengikuti dengan wajah tegas.

"Ah, betapa indahnya melihat reuni keluarga yang begitu hangat," kata Professor Marcellus dengan nada sinis, matanya menyapu ke seluruh ruangan, memperhatikan satu per satu wajah remaja itu. 

"Namun, seperti semua hal yang indah, ada akhirnya."

Jihoon yang masih menggenggam erat tangan Youngjae merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya. Ia tahu bahwa tidak ada yang baik yang akan datang dari kehadiran Professor Marcellus.

"Aku yakin kalian sudah menikmati momen kebersamaan ini," lanjut Professor Marcellus, suaranya terdengar tajam dan terukur. "Seperti yang kalian ketahui, semuanya memiliki tujuan di sini. Dan tujuan kalian adalah untuk menunjukkan kemampuan kalian, menjadi yang terbaik dari yang terbaik."

Hanjin menatap Professor Marcellus dengan penuh kebencian. "Apa yang sebenarnya kalian inginkan dari kami?" tanyanya, suaranya penuh dengan kemarahan yang tertahan.

Professor Marcellus menatap Hanjin dengan tatapan dingin. "Pertanyaan klasik. Kalian adalah subjek eksperimen paling berhasil yang pernah kami miliki. Kekuatan kalian telah berkembang pesat dalam beberapa minggu terakhir, melampaui ekspektasi kami. Dan sekarang, saatnya untuk mendorong kalian lebih jauh lagi."

Shinyu mendengarkan dengan seksama, tiba-tiba merasa ada yang janggal dalam pernyataan Professor Marcellus. "Apa maksudmu?" tanyanya dengan nada waspada.

Dengan sebuah gerakan tangan, Professor Marcellus memanggil salah satu ilmuwan yang membawa tablet. "Lihatlah sendiri," katanya sambil menunjuk layar yang menampilkan rekaman dari hasil eksperimen mereka. 

Rekaman itu menunjukkan bagaimana kekuatan mereka telah berkembang—telekinesis Jihoon, prediksi gerakan Youngjae, regenerasi Hanjin, kecepatan Kyungmin, kemampuan Dohoon yang semakin menguat, dan penglihatan Shinyu yang semakin tajam.

Namun, ada satu hal yang tidak disebutkan oleh Professor Marcellus—kekuatan telepati Jihoon yang selama ini ditahan karena ketakutan akan potensi komunikasi antar saudara yang tidak terdeteksi.

Professor Marcellus menatap Jihoon dengan teliti. "Ada satu hal yang para ilmuwan ini lupa lakukan," katanya dengan nada marah yang tiba-tiba muncul. 

"Mereka takut pada potensimu, Jihoon. Mereka takut kamu akan menggunakan kekuatan tersembunyimu itu untuk melakukan hal bodoh."

Jihoon merasakan ketegangan di dalam dirinya meningkat. Ia menatap Professor Marcellus dengan mata yang menyala-nyala. "Apa yang kamu rencanakan?" tanyanya dengan suara rendah, mencoba mengancam.

"Aku sudah memutuskan untuk memindahkanmu ke lokasi lain, jauh dari pusat komando ini. Di tempat itu, kemampuanmu yang baru akan diasah dengan lebih baik, tanpa gangguan. Tentu saja, ini berarti kalian harus berpisah lagi." Professor Marcellus tersenyum lebar tanpa beban sembari mengucapkan hal tersebut.

Kata-kata itu menghantam mereka seperti petir di siang bolong. Youngjae merasakan dadanya sesak, tangannya semakin menggenggam tangan Jihoon dengan kuat, seolah tidak ingin melepaskannya. 

"Tidak! Jangan pisahkan kami lagi!" seru Youngjae.

Namun Professor Marcellus hanya menggelengkan kepala, tidak terpengaruh oleh emosinya. "Sayangnya, kalian tidak punya pilihan dalam hal ini." 

Fall +TWSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang