Jihoon melangkah keluar dari mobil yang membawanya ke lokasi pemindahan yang baru. Ia merasakan tanah yang sedikit becek di bawah sepatunya, udara dingin menusuk kulitnya, dan bau lembab dari hutan yang mengelilingi tempat itu. Di sekelilingnya, pepohonan tinggi menjulang, memberikan rasa tersembunyi dan terlindung, namun juga menciptakan aura terisolasi yang menyesakkan.
Bangunan yang menjadi tujuan Jihoon tampak jauh lebih suram daripada tempat yang sebelumnya dia kenal. Dinding-dinding beton yang kasar tanpa jendela memberikan kesan dingin dan tak ramah. Ada beberapa petugas keamanan yang berdiri di dekat pintu masuk, memperhatikan setiap gerakan Jihoon dengan tatapan tajam.
Jihoon dan beberapa petugas yang mendampinginya selama di mobil tadi berjalan menuju pintu masuk tersebut. Setelah diberi akses masuk, lorong yang luas dan sepi menjadi pemandangan pertamanya.
Tiba-tiba terdengar suara putus-putus dari arah HT yang terpasang pada salah satu petugas yang mendampingi Jihoon. Petugas yang berada di sampingnya segera meraih HT tersebut, menyesuaikan frekuensi untuk mendengarkan pesan yang masuk dengan lebih jelas.
"Ini Markas Besar, ada insiden di fasilitas pusat. Semua personel yang menuju lokasi pemindahan diinstruksikan untuk tetap berada di pos mereka hingga situasi terkendali. Professor Marcellus akan terlambat menyusul ke lokasi. Siaga satu diberlakukan."
Jihoon merasakan dadanya berdebar kencang. Insiden di fasilitas pusat? Apakah ini ada hubungannya dengan saudara-saudaranya? Berbagai pertanyaan membanjiri pikirannya, tapi dia menahan diri untuk tidak menunjukkan kegelisahan di depan para petugas.
"Roger, Markas Besar," jawab petugas. Ia lalu mengalihkan pandangannya ke Jihoon. "Sepertinya Professor Marcellus akan terlambat. Kami akan menaruhmu di ruang tunggu sampai situasi terkendali."
Jihoon hanya mengangguk, meskipun pikirannya terus-menerus bekerja keras untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia bisa merasakan ada sesuatu yang besar sedang berlangsung, dan dia tidak suka berada dalam kecemasan seperti ini.
Petugas tersebut jalan sambil memberi isyarat agar Jihoon mengikuti. "Ruang tunggu sudah diamankan, jadi kamu bisa beristirahat sejenak sampai ada perintah lebih lanjut."
Jihoon mengikuti petugas itu dengan tenang, meskipun benaknya terus menganalisis setiap detail ruangan. Ruang tunggu yang mereka masuki sederhana namun dilengkapi dengan berbagai fasilitas, dari sofa empuk hingga layar monitor besar yang menampilkan peta lokasi. Jihoon duduk di salah satu sofa, pandangannya tak lepas dari layar monitor yang menunjukkan kondisi wilayah di sekitar fasilitas tersebut.
Bayangan kelima saudaranya terus berputar dalam pikirannya. Jihoon tahu bahwa mereka mungkin sedang dalam bahaya besar, dan pikiran itu menghantuinya. Hatinya diliputi perasaan bersalah dan ketidakberdayaan.
"Apa yang sedang terjadi di sana?" Jihoon bertanya-tanya dalam hati, mencoba mencerna semua informasi yang baru saja dia dengar. Apakah mereka berhasil melarikan diri? Atau justru yang lebih buruk terjadi?
Jihoon meremas pahanya dengan frustrasi. Dia harus menemukan cara untuk mengetahui keadaan saudara-saudaranya. Namun dia juga tahu bahwa setiap langkah harus diperhitungkan dengan cermat. Professor Marcellus adalah orang yang sangat cerdas dan kejam, dan satu kesalahan kecil bisa berarti kehancuran bagi semua orang yang dia cintai.
Di dalam ruang tunggu yang dingin dan sunyi, Jihoon merasa terjebak. Seolah-olah waktu bergerak lambat, setiap detik terasa seperti siksaan yang membuatnya semakin putus asa.
Kecemasan Jihoon semakin memuncak saat pikirannya terus berputar pada satu sosok yang paling dia khawatirkan—Youngjae. Di antara semua saudara-saudaranya, Youngjae adalah yang paling rapuh secara emosional, dan Jihoon tahu betapa rentannya dia dalam situasi seperti ini. Hati Jihoon terasa seperti dihimpit oleh beban yang berat, dan bayangan wajah Youngjae yang pucat dan penuh ketakutan tidak bisa lepas dari pikirannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fall +TWS
FanfictionMereka berjuang untuk bertahan hidup, mengandalkan kenangan dan janji satu sama lain untuk terus berjuang demi kebebasan. Keberanian, harapan, dan cinta di tengah penderitaan, yang menjadi sumber kekuatan mereka dalam menghadapi kegelapan. TWS sci-f...
