XIII. Membekas

589 28 5
                                        

Seulgi mengemudikan mobil dengan matanya fokus pada jalan yang terbentang di depan. Shinyu dan Youngjae duduk di kursi belakang, keheningan yang tegang menyelimuti mereka. Mobil melaju meninggalkan hutan menuju jalan utama yang mengarah ke kota lain, jauh dari wilayah yang dikuasai oleh PLEDIZ Corp.

Sehabis melalui perdebatan singkat yang sengit di safe house, tidak ada yang berniat untuk berbicara. Ketiganya sibuk dalam pemikiran masing-masing. Terlalu banyak kenangan pahit dan menyedihkan yang terkumpul beberapa minggu ini.

Seulgi menghela napas berat, mencoba menenangkan gejolak di dalam hatinya. Rasa bersalah yang menyelimutinya semakin berat ketika dia melihat wajah penuh harap bercampur kesedihan Shinyu dan Youngjae melalui kaca spion. Mereka masih sangat muda, dan sudah begitu banyak kehilangan yang harus mereka hadapi.

Akhirnya, Seulgi memutuskan untuk memecah keheningan yang menyiksa itu. "Aku tahu kalian marah, dan aku mengerti kalau kalian merasa dikhianati," katanya dengan suara lembut. 

"Tapi percayalah, ini bukan keputusan yang mudah bagiku. Aku hanya ingin kalian selamat."

"Tapi Seulgi, kita tidak bisa terus melarikan diri. Kita tidak bisa meninggalkan mereka begitu saja," kata Youngjae. 

Shinyu yang biasanya lebih tenang, sekarang menatap Seulgi. "Kita tidak akan pernah bisa memaafkan diri kita sendiri jika kita tidak mencoba untuk kembali dan menyelamatkan mereka."

"Aku tahu. Tapi situasi ini lebih besar dari yang kalian bayangkan. Kita melawan organisasi yang jauh lebih kuat dan lebih kejam daripada yang pernah kalian hadapi. Jika kita kembali sekarang, kita tidak hanya mempertaruhkan nyawa kita sendiri, tapi juga nyawa saudara-saudara kalian."

Seulgi berhenti sejenak, berusaha keras menahan air mata yang ingin keluar. "Aku sudah kehilangan terlalu banyak orang yang kucintai. Aku tidak bisa kehilangan kalian juga."

Shinyu dan Youngjae tidak membalas, namun dari tatapan mereka, Seulgi bisa merasakan betapa beratnya beban yang mereka pikul. Mereka ingin melakukan sesuatu, mereka ingin melawan, tapi mereka juga tahu bahwa Seulgi benar. Rasa sakit karena harus meninggalkan saudara-saudara mereka begitu saja membuat hati mereka terasa hancur.

Youngjae hanya mengangguk pelan, meskipun hatinya masih dipenuhi dengan keraguan dan rasa bersalah. "Kita akan kembali, kan?" tanyanya dengan suara penuh harap.

Seulgi memilih tidak menjawab dan menjalankan kembali mobilnya. Youngjae merasa gelisah, hatinya terus-menerus dipenuhi dengan berbagai kemungkinan buruk yang bisa menimpa saudara-saudaranya. Keheningan di dalam mobil semakin menekan perasaannya. Tatapannya terus melirik keluar jendela, tetapi pikirannya tidak bisa lepas dari bayangan saudaranya. 

Shinyu bisa merasakan kegelisahan yang terpancar dari Youngjae. Dia sendiri merasakan hal yang sama, tetapi dia tahu mereka tidak punya pilihan lain saat ini. Seulgi adalah satu-satunya orang yang bisa mereka percayai, dan mereka harus mengikuti rencananya jika ingin tetap hidup.

Seulgi terus memacu mobilnya, mencoba mengabaikan perasaan bersalah yang menyelimuti hatinya. Dia tahu apa yang dia lakukan benar, tetapi tidak bisa menghilangkan rasa sakit karena harus memisahkan remaja-remaja ini dari saudara-saudara mereka. Dia hanya berharap mereka bisa memahami bahwa ini semua demi keselamatan mereka.

Waktu berlalu, dan jalan yang mereka lalui mulai berubah, dari jalanan yang lebih ramai menuju jalan-jalan kecil yang lebih sepi dan terpencil. Mereka semakin jauh dari kota dan semakin dekat ke tujuan mereka.

Beberapa jam yang terisi keheningan itu membuat Youngjae tidak bisa menahan diri lagi. "Seulgi," panggilnya pelan.

"Apa benar kita tidak bisa kembali? Apa benar ini satu-satunya cara?"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 28, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Fall +TWSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang