26; Pergi

502 31 1
                                        

"Aku pergi dulu." pria itu menggangguk dan melambaikan tangan, pagi ini dia diantar Hali tapi tetap saja mantannya itu selalu mengintili Hali dan dia.

Solar melanjutkan langkah nya memasuki sebuah ruangan besar.

***

Tak terasa sudah siang, Solar langsung bergegas keluar menunggu seseorang, beberapa pesan dan panggilan dari nya tidak ada yang dijawab.

Tapi tidak lama kemudian ponselnya berbunyi itu chat yang ditunggunya.

Solar menunduk sedih, padahal siang ini Hali sudah janji menjemputnya dan makan siang bersama. Ia akhirnya memesan aplikasi transportasi online dari ponselnya, tak lama driver mobil datang ia pun masuk ke dalam, selama di perjalanan Solar hanya memandang jalanan dengan pandangan datar.

Andai saja ada Taufan ia pasti merasa sedikit terhibur, Solar mengalihkan pandangan ke arah jendela kiri. Maniknya menatap kedua orang yang sangat dikenalnya itu. Pria yang berbadan tegap tengah menenteng tas belanja, sementara satunya pria manis itu tengah menikmati es krim ditangannya, mereka jalan beriringan memasuki sebuah mall besar didepan sana.

Solar langsung mengalihkan pandangan ke arah lain, bagai ribuan jarum menusuk hatinya ia merasa sakit, netranya mengabur dengan liquid bening yang meluncur bebas di kelopak mata indahnya. Yah, ia memang seharusnya sadar dari awal mau bagaimanapun dirinya memang seorang jalang bukan? saat tuannya itu sudah bosan bisa saja ia dibuang begitu saja atau dilupakan, dan ini benar terjadi sudah waktunya mungkin untuk ia lepas dari pria itu, tidak seharusnya ia dekat dengan tuannya sendiri seharusnya ia tahu batasan, ia bahkan merasa dirinya tidak pantas jika disandingkan dengan mantan pria itu.

Driver yang ada di depannya melirik Solar dari arah kaca kecil di depannya, pria itu tengah menangis, Solar menghapus air matanya saat ia merasa sedang dilirik.

"Tunggu sebentar ya pak."

***

Pria manis itu cepat-cepat memasukkan bajunya kedalam tas, ia hanya membawa sebagian saja dan beberapa tas kecil lain, ia melepas kalung yang sempat diberikan pria itu karena bisa saja pria itu dapat menemukannya nanti,  lewat alat pelacak dari kalung ini. Solar menggendong tasnya dan masuk ke dalam mobil hitam yang sejak tadi menunggunya.

Ia menatap rumah itu lamat untuk terakhir kalinya sebelum benar-benar pergi, kenangan akan dirinya dan pria itu dirumah ini sangat banyak, memori itu berputar indah di otaknya seperti sebuah kaset.

"Ke mana dek?"tanyanya ia melirik pria itu dari kaca mobil.

"Arah stasiun pak." Solar menyenderkan tubuhnya dikursi penumpang.

Ia sudah mematikan ponselnya, Solar ingin kembali ke tempat asalnya, ia tidak ingin berhubungan dengan pria itu lagi, ia bahkan lupa berpamitan dengan temannya.

***

"Solar?" Pria bernetra ruby itu berteriak kencang dirumahnya, saat ia masuk ke dalam rumahnya tampak sepi bahkan ruang depan gelap seolah tidak ada yang menyalakan lampu. Pria itu berlari ke kamar nya. Ia masih juga tidak menemukannya, Hali lalu kembali turun kebawah ia menarik rambut nya prustasi. Bahkan beberapa panggilan dan chat darinya tak kunjung dijawab.

Hali buru-buru menghubungi para bodyguard nya, tak lama pintu depan terbuka menampakkan para bawahannya tersebut, ia menyuruh para bodyguard itu untuk mencari Solar, hari sudah malam tidak mungkin pria itu berpergian jauh bukan? lemari pria itu bahkan hanya tersisa beberapa pakaian tas-tas miliknya sudah tidak ada, kecuali kalung pemberian dari Hali.

***

"Alin, ini sudah malam mending kamu makan dulu–" ucapannya terpotong oleh suara dingin pria itu.

"Diam! ini semua karenamu, lihat?coba tadi kamu tidak memintaku untuk mengantarmu dan menunggu lama, dia pasti tidak akan pergi...."

"Ck, Solar! Solar! Solar! memangnya kenapa kalo orang itu pergi? kan masih ada aku!" ia menangkup wajah tegas pria itu.

"Kau pikir dengan cara lembut seperti ini bisa merebut hatiku kembali?" ia menghempaskan tangan mungil itu dari wajahnya, "Dengar ya. Aku. membencimu, sadarlah jalang!!"

Ia sudah mencoba menahan dirinya agar tidak menampar orang yang ada di depannya ini.

Pria manis itu menangis ia menyentuh dadanya, "Alin....cuma karena dia kamu jadi seperti ini sama aku?Aku bakal laporin ke ayah! Aku bakal minta dia buat putuskan kerja sama kalian!!"

Hali menatap remeh, "Silahkan, aku tidak peduli." Baru saja dirinya akan pergi ia merasakan sebuah tarikan dari tangannya Hali jatuh terduduk di sebuah sofa.

Lucy mengusap sensual dada bidang yang masih tertutup kaus itu, ia sudah tidak memiliki cara lain

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Lucy mengusap sensual dada bidang yang masih tertutup kaus itu, ia sudah tidak memiliki cara lain. Lucy melucutkan piyamanya dihadapan Hali. Menampilkan tubuh polosnya.

"Masih ada aku disini, aku bisa menggantikan pria itu, lihat tubuh ini, semuanya milikmu~" Ia menyentuh wajah pria itu mengusapnya sensual, setelahnya Lucy membalikan tubuhnya menampilkan bokongnya, ia membuka lubang kecil itu dihadapan Hali.

"Lihatlah ...daddy~eunghh...." ia memberikan tatapan menggoda, Hali memalingkan wajahnya segera, ia berdehem sebentar sebelum menjauhkan tubuhnya dari pria itu.

"Jangan pakai cara rendahan seperti itu, kasian harga dirimu sampai jatuh, aku tidak bernafsu melihatnya." sembur nya pedas, wajah pria mungil memerah menahan malu.

"Sialan." dengusnya.

My Doll- Halisol {End}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang