30; Titik terang

689 42 3
                                        

"Kau yakin itu Solar?" Ice menggangguk ia menyerahkan sebuah foto yang dipotretnya beberapa bulan lalu.

"Baiklah lalu apa kau sudah menemukan driver mobil itu?" Ice kembali menggangguk Hali tersenyum tipis setidaknya mereka mulai mendapat secercah harapan.

"Supir itu bilang dia mengantarnya sampai stasiun mungkin kita bisa mendatangi stasiun itu."

Tanpa basa-basi mereka bergegas keluar lalu masuk kedalam mobil, memacunya dikecepatan tinggi.

Akhirnya setelah hampir setahun ia mencari keberadaan pria manis itu, Hali dapat menemukan Solar nya.

***

Solar mengerutkan keningnya saat melihat nomor tidak dikenal  mengiriminya pesan, ia membuka room chat itu dan membaca pesannya.

Unknown

Baguslah kalau kau pergi duluan, aku jadi tidak perlu bersusah-susah untuk mengusirmu.

You

Siapa?

Unknown

Aku Lucy, terimakasih ya sudah mau berbaik hati padaku, yah setidaknya kan jika tidak ada kamu aku jadi lebih mudah mendekatinya

You

Terserah aku tidak peduli ambil saja pria itu untukmu.

Unknown

Tidak perlu dia memang sudah jadi milikku kami bahkan sudah bertunangan~

Tidak perlu dia memang sudah jadi milikku kami bahkan sudah bertunangan~

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Aku akan mengundangmu kok tenang saja

You

Aku bahkan hamil anak dari pria itu buat apa iri denganmu kau pikir dengan begini bisa membuatku panas?kkkk aku tidak sepertimu

Aku bahkan hamil anak dari pria itu buat apa iri denganmu kau pikir dengan begini bisa membuatku panas?kkkk aku tidak sepertimu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Unknown

Sialan kau dasar jalang!

***

Solar membanting ponselnya ke kasur ia merasa kesal saat ini sungguh, ia mengusap perut besarnya sembari mengoceh seolah mengajak calon anaknya berbicara.

"Ayahmu itu menjengkelkan ya malah milih nenek sihir itu~nanti kalau sudah besar jangan seperti ayah ya, sudah jelek banyak gaya apalagi mukanya datar dasar triplek berjalan." tiba-tiba saja ia merasakan sebuah tendangan diperutnya, Solar kembali mengusap perut bulatnya.

"Kamu tidak suka bunda menghina ayahmu ya."Solar mempoutkan bibirnya.

***

"Kita sudah mendapatkan alamat tujuannya Hali." ujar Ice.

"Alamatnya dimana?"

"Hmm, sepertinya ini didaerah terpencil mungkin semalaman kita baru sampai disana."

"Sekarang siapkan helikopter untuk kita berangkat kesana nanti malam."

"Baik."

Hali menyunggingkan senyum kecil ah, ia jadi tak sabar memeluk pujaan hatinya itu, setelahnya ia akan menghukum pria itu karena sudah berani meninggalkannya dalam penderitaan–menahan kerinduan yang mendalam.

***

Mereka berangkat pukul tujuh malam, tak lama helikopter yang ditumpanginya sudah mendarat diatas sebuah hotel mewah.

"Kita istirahat disini dulu aku sudah memesan tiket hotel tadi, besok siang kita akan melanjutkan perjalanan kesana."  

Mereka menggangguk serempak memang perjalanan menuju ke desa terpencil itu membutuhkan stamina ekstra apalagi jalanan yang mereka lalui pastinya terjal, curam dan berlumpur.

***

"Sayang ayo sarapan–Solar...." ia membantu cucunya untuk kembali duduk dipinggir ranjang, Solar mencengkram perutnya, "Ne–nek, sakit.....huhhh~huhhh...." Gamma melirik ke bawah celana yang Solar pakai, oh tidak ketuban nya pecah!

Gamma memapah tubuh Solar perlahan agar tidak jatuh, ia mendudukkan Solar di kursi tamu, "Tunggu ya nenek mau panggil tabib dulu." Gamma berlari kecil menuju ke rumah sederhana tabib didesa itu.

Tak lama seorang wanita tua muncul, ia mengusap perut Solar yang memang keras benar akan melahirkan.

"Sekarang kita ke kamar, Gam tolong siapkan kain untuknya."

Tubuhnya kini sudah polos tak mengenakan apapun, Solar merebahkan dirinya dengan kedua kaki yang ia buka lebar mengangkang.

Sebuah tarikan nafas panjang ia keluarkan, Solar sibuk mengenjan peluh membanjiri wajahnya yang sudah memerah, sungguh tubuh bagian bawahnya terasa sangat sakit.

Tabib itu mengadahkan kedua tangannya saat kepala bayi sudah muncul, ia menarik bayi itu pelan dan menggendongnya lalu menaruh bayi itu diatas perlak yang sudah mereka siapkan.

Ia kembali mengenjan tangannya kini mencengkram sang nenek yang ada disebelahnya, "N–nghhh~huhh....ne–nek aku....tidak kuat...." tabib itu tetap mengarahkan Solar untuk terus mengenjan, netra silver nya terpejam berusaha menetralkan rasa sakit.

"Sedikit lagi sayang kepala bayinya sudah mau terlihat." tabib itu pun menyemangati nya ia membantu Solar seperti mengusap perut bawahnya membantu bayinya untuk terus turun.

Plop!

Tak lama kepala bayinya muncul tabib itu kembali menariknya, ia menggendong bayi kemerahan itu dan menaruhnya disamping kembarannya tadi.

Solar yang sudah lemas akhirnya tak sadarkan diri, Gamma menepuk pipi Solar pelan, "Biarkan, dia pasti kelelahan, saya akan mengubur ari-ari mereka dulu." tabib itu kemudian pergi menguburkan ari-ari dihalaman rumah Gamma.

***

Solar tengah menyusui putra mungilnya secara bergantian, ia sedikit meringis saat bayinya terlalu kencang menyedot susunya.

Ia tatap lamat kedua putranya itu, satu bayinya memiliki netra berwarna merah dan satunya bernetra merah ke orange-nan. Solar mendengus sebal, 'Huhh padahal aku yang mengandung dan melahirkan tapi keduanya tidak ada yang mirip denganku' batin pria itu. Wajah kedua putra memang sangat mirip dengan sang ayah, ia hanya menuruni bentuk bibir saja.

My Doll- Halisol {End}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang