Di suatu desa ada seorang lelaki manis yang tinggal bersama neneknya di rumah sederhana, teknologi yang berkembang disana masih sedikit sehingga banyak orang-orang disana yang memilih merantau ke kota besar untuk mengubah nasib. Begitupun dengan lel...
Solar sudah terbiasa melayani mereka sekarang meski hanya memberikan service berupa ciuman atau sentuhan sensual tidak sampai nge-sex. Tidak, dia belum siap untuk melakukan itu. Meski mungkin bayarannya tidak sebesar mereka yang memberikan seluruh tubuhnya untuk disentuh pria hidungnya, Solar tidak! dia hanya sekedar pelayan bar, jika ada yang memintanya untuk menemaninya ia akan melakukannya. Lagi pula gajinya sudah cukup untuk menghidupi nya ia bahkan sekarang sudah pindah kontrakan tidak bersama Taufan lagi, dan ia sudah bisa mengirim uang dan ponsel baru untuk sang nenek dikampung.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
(Anggap aja seperti itu)
Hei lihatlah, siapa yang tidak tergoda dengan uke satu ini? Bahkan para seme mengantri untuk mengagahinya. Ya memang semenjak Solar bergabung di club malam itu pengunjung nya mengalami peningkatan pesat. Meski ada beberapa seme yang berani membeli mahal dirinya, mommy Gempa tetap tidak memberikannya! Hei tidak, dia seperti sudah mengganggap Solar seperti adiknya sendiri karena memang mereka ada beberapa kemiripan sifat.
Dalam semalam saja Solar sudah melayani empat orang sekaligus, para seme itu juga memberinya bonus.
•-•-•
Di sisi lain ada seorang pria bermanik merah tengah memandang ke arah luar dari kaca jendela ruangan nya. Entah kenapa belakangan ini pikirannya terus dipenuhi oleh seseorang yang terakhir kali ia temui di club, hingga suara ketukan pintu kembali menyadarkannya.
"Kita ada meeting sekitar 10 menit lagi." ucap sekretaris itu, Hali hanya menggangguk–Ice lalu maju menghampirinya.
"Ada apa?"
"Hm? tidak." Ice menghembuskan nafas kasar, ia menggebrak meja atasannya itu. "Memang aku tidak tahu kau itu selama beberapa hari ini selalu melamun? bahkan saat rapat berlangsung, cepat katakan padaku ada apa, mungkin bisa ku bantu." Hali kembali menggeleng, membuat Ice hanya bisa pasrah, "Baiklah...jika ada sesuatu kabari aku ya."
•°•°
Setelah rapat selesai tersisa Hali dan Ice yang masih ada diruangan itu, saat Ice hendak keluar ia memanggil bawahannya itu.
"Malam ini kita kosong kan?tolong siapkan dua koper besar untukku dan beberapa uang masukkan ke koper itu."
Ice mengerutkan keningnya, baru akan bertanya "Cepat lakukan saja." Hali sudah menjawab.
•°•°
Tak lama Ice kembali ia menggeret dua koper tadi dengan sedikit kesusahan. Setelah itu mereka keluar menghampiri mobil hitamnya dan membelah jalan raya dikota itu.
Mereka sudah tiba di sebuah club malam yang pernah didatangi nya pada waktu itu, kedatangannya disambut oleh pasangan pemilik club tersebut.
"Ekhem, aku datang kesini tanpa basa-basi, aku ingin membeli salah satu jalang disini karena aku tertarik, jangan khawatir aku berani membayar mahal."
Fang–suami Gempa melirik istri di sampingnya, Gempa menggeleng.
"Emh maaf pak tapi–"
"Ice cepat bawakan." suruhnya, tak lama bawahannya datang dengan dua koper tadi. Ia lalu membuka salah satu koper tersebut dan mengambil beberapa uang.
"Segini cukup?" Ia letakkan uang dolar itu diatas meja. Fang yang melihat uang-uang tersebut langsung tergiur tapi ia berusaha menahannya.
"Kurang." lalu Hali mendorong dua koper tadi ke hadapan pasangan itu, mereka terdiam beberapa saat, "Pak...tapi maaf kami tidak menjualnya–"
"Tenang saja saya tidak sejahat itu dan tidak berniat mencelakai."
Dengan terpaksa Gempa menggangguk, ia lihat suaminya itu yang sudah memeluk dua koper tadi menciumnya–Gempa yang melihat tingkahnya ia memutar matanya malas.
"Senang berbisnis dengan anda." ucap Fang, Gempa kembali bertanya, "Anda ingin yang mana? mari saya tunjukkan."
Hali menunjuk ke arah pria berpakaian maid itu, Gempa kemudian menggangguk.
"Baik tunggu sebentar ya pak, kami akan menyiapkan–"
Gempa memperhatikan Hali maju mendekati Solar dari belakang itu, setelah dekat ia membekap mulut Solar dengan sapu tangan yang sudah diberi obat tidur, ia meletakkan tangan mungil tersebut ke pundaknya dan mengangkat tubuh ringan tersebut.
Taufan yang melihat kejadian barusan terdiam tanpa bisa membantu, baru saja dirinya ingin memanggil Solar.
Sementara Hali dan Ice saat ini sudah berada dimobil, Ice yang menyetir dan Hali di belakang tengah memangku Solar yang masih tidak sadarkan diri itu. Ia tersenyum kecil melihat wajah Solar saat tertidur seperti sebuah boneka lihatlah wajahnya yang lugu dan polos itu...
Dan setelah sampai di mansion mewahnya, ia gendong pria manis itu ala bridal style dan diturunkan tubuh ringan itu diatas ranjangnya, menyelimutinya dan setelahnya Hali melangkah keluar.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.