Di suatu desa ada seorang lelaki manis yang tinggal bersama neneknya di rumah sederhana, teknologi yang berkembang disana masih sedikit sehingga banyak orang-orang disana yang memilih merantau ke kota besar untuk mengubah nasib. Begitupun dengan lel...
"Ada apa ini?" pria itu menghampiri kedua orang yang sejak tadi bertengkar didekat kamarnya.
"Di-dia menamparku tadi!"
"He-hei kamu duluan yang menyiram air pada wajahku! Cukup, aku sudah sabar menghadapimu ya! Sekarang aku akan menunjukkan sifat asliku!" Solar melempar koper-koper milik nya dari atas tangga, pria itu lalu menarik tangan Lucy cukup kuat bahkan mencengkram nya, karena tarikan itu ia kesusahan menyamakan langkah Solar yang menuruni anak tangga, karena tidak memerhatikan langkah dengan benar Lucy tersandung kakinya sendiri membuat ia terjatuh dari anak tangga paling bawah, dia memegangi kakinya yang sepertinya terkilir.
"A-awh sakit...." Lucy sedikit meringis ia bahkan sudah berkaca-kaca merasakan sakit.
Solar memutar bola matanya malas, pria ular itu sudah mulai lagi bersandiwara.
Lucy menatap Hali dengan wajahnya yang sudah memerah karena menangis, Hali lalu sedikit berjongkok menyamakan Lucy, ia memang melihat kaki pria itu yang tampak bengkak dan membiru sedikit.
"Kau, bisa jalan?" tanya nya ragu, Lucy menggeleng dengan terpaksa Hali menggendong tubuh itu ala pengantin dan ingin mendudukannya dikursi makan namun saat ia hendak menurunkan Lucy pria itu malah merengek, memang jika sedang sakit atau terjatuh pria itu suka manja, Hali lalu memilih mendudukkan pria itu dipahanya, ia menyendokan nasi dan sayur untuk Lucy.
Setelah sarapan telah usai Hali menggendong Lucy kembali mengantarnya ke kamar dan menidurkan pria itu diatas kasur. Ia kembali ke bawah dan berangkat ke kantornya.
Pria mungil itu tersenyum licik, ia memang merasa sedikit sakit, Solar lalu menelfon tukang pijat yang dikenalnya untuk datang ke rumah.
***
Dengan kesusahan ia berjalan menuju kamar Hali, namun di tengah langkahnya ia melihat pria itu tengah mencumbu Solar diujung ruangan.
Setelah ciuman selesai, Solar tampak mengatur nafasnya netranya tidak sengaja beradu pandang dengan Lucy wajahnya memerah karena ada yang memergokinya sedang berciuman.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Lucy hanya memandang keduanya datar, ia ingin bicara dengan Hali sebentar.
"Ha--hali besok kamu sibuk atau tidak? tolong antarkan aku ke lokasi syuting ku mohon, supir dirumah ini kan sedang cuti~" Hali menghembuskan nafas pasrah, ia menggangguk lemah.
Pria itu tersenyum manis ia baru saja ingin mencium pipi pria itu namun sang empu yang cekatan langsung menjauh.
"Besok pagi bersiaplah, aku tidak ingin lama menunggu."
***
Keesokan paginya mereka sudah bersiap bersama memasuki mobil, Lucy duduk di samping.
Setelah sampai disana, Lucy lalu membuka seatbelt sebelum keluar ia mengecup pipi Hali secara tiba-tiba membuat si empu terbelalak, Lucy membuka pintu mobil sebelum beranjak pergi ia melambai ke Hali.
"Pacarmu?" ia sedikit terkejut dengan seseorang di belakang, hah....ternyata itu temannya.
"Mungkin?oh ya, bisa kau membantuku?" pria itu membisikkan sesuatu pada temannya, pria lain itu menggangguk paham.
"Tenang saja aku akan membayarmu."
Hali saat ini tengah menunggu Lucy di mobilnya, Lucy memintanya untuk menjemputnya.
Tak lama orang yang ditunggunya itu tiba, Lucy langsung mendudukan dirinya ia tersenyum pada Hali, "Kita ke toko baju dulu ya." pintanya, mobil itu lalu melaju menuju arah toko yang dituju nya.
Setelah berbelanja Lucy mengajaknya untuk makan di sebuah cafe didekat toko tadi, "Kita pesan kan untuk Solar juga." mereka kini makan berhadapan.
***
Hali tersentak saat tangannya digenggam tiba-tiba oleh Lucy, pria itu bahkan tersenyum manis.
"Terimakasih...." Hali membalasnya dengan tersenyum kaku.
Tanpa mereka sadari ada orang yang diam-diam memotret nya.
Unknown [Picture] Lihat, romantis ya mereka
You Kau siapa? darimana bisa mendapat nomorku?
Unknown Ck, ck tenanglah aku tidak jahat lagi pula aku hanya disuruh
You Aku tidak peduli.
Solar membanting ponselnya ke kasur, ia merebahkan dirinya, sungguh saat ini suasana hatinya seperti tidak baik. Ia melirik jam dikamarnya, 'Apa aku ke rumah Taufan ya?'
Solar lalu mengambil coat dan tasnya setelah mengirimi pesan pada temannya, ia memilih naik mobil memesannya aplikasi online.
"Tumben kesini?" tanyanya heran, Solar hanya menggeleng pelan.
"Oh ya kamu sudah mengabari nya belum? nanti dia bagaimana?" Solar menepuk keningnya ia lupa, lalu jemarinya dengan cepat mengetik mengirimkan pesan pada Hali.
"Sudah?" Solar hanya menggangguk, mereka pun memilih masuk ke dalam kamar Taufan.
Taufan sudah pindah dari kontrakan lamanya setidaknya ia bisa menyewa rumah yang lebih besar sekarang.
***
Baru saja pria itu akan marah tapi ia merasa sedikit tenang saat melihat notifikasi diponselnya, itu Solar mengiriminya pesan.
Ia sedikit kesal sebenarnya karena mungkin dirinya kesepian malam ini karena tidur sendiri, Hali biasanya akan memeluk Solar malam ini ranjangnya terasa sangat luas dan kosong, dia bahkan tidak bisa tenang karena tidak ada yang ia peluk.