03; Bimbang

679 46 0
                                        

"Kenapa termenung?" tanya temannya bernetra biru itu, ia menggelengkan kepala, "Tidak papa hanya sedikit eum memikirkan tawaranmu."

Hah....masa iya dirinya yang jauh-jauh merantau ke kota setelah disini hanya bekerja di sebuah club malam. Oh tidak! neneknya bisa saja mengamuk saat mengetahuinya, tapi ia tidak memiliki opsi lain, pilihannya saat ini hanya dua; ambil atau tidak. Tapi bisa jatuh harga dirinya jika ia bekerja disana! Hei bahkan saat di desanya ia mendapat julukan kembang desa tetapi galak sehingga dirinya agak ditakuti oleh para Alpha disana. Masa disini dirinya bisa bebas disentuh sana-sini.

Belum lagi ahhh dia hanya ingin menyerahkan dirinya pada orang yang dia cintai dan mencintainya. Bukan pada pria hidung belang lain!

"Tidak apa, kamu bisa memikirkannya nanti, sekarang kita makan yuk."

•-•-•

"Joging yuk kebetulan ini weekend dan sekalian aku mengajakmu berkeliling disekitar agar kamu hafal jalan sini." Solar menggangguk dan mengganti baju dan setelahnya mereka bersiap pergi bersama.

Mereka kini sedang beristirahat dibangku taman, mengistirahatkan tubuhnya sebentar sembari memakan cemilan yang dibelinya.

Namun Solar seperti tidak betah berlama-lama disana karena tatapan para pria asing yang menatapnya dalam sambil menyunggingkan senyum.

"Hai Fan." sapanya, Taufan menoleh ke arah pria di samping Solar itu.

"Eum, hai Ric."balasnya

"Wah lama tidak bertemu ya, bagaimana kabarmu? oh ya, ini temanmu? salam kenal aku Eric." pria itu mengulurkan tangannya, dan disambut oleh Solar.

"H-hai aku Solar."

"Kau tumben pergi kesini setauku kau jarang kemari ? Apa jangan-jangan kau sedang mencari mangsa." pria itu tersenyum miring dan dibalas decakan kesal Taufan.

"Enak saja! aku sedang ingin kesini saja." sebuah tawa terdengar, Taufan nampak sebal dengan teman lamanya itu, ia lantas berdiri dan menarik tangan keluar mengajaknya pulang.

"Eh eh tunggu, padahal kan aku ingin berkenalan dengan nya." Taufan memicingkan matanya, ia menunjuk temannya itu "No no no, akan ku halangi jika kau ingin mendekatinya, heh dasar buaya." Solar mengusap bahu temannya itu kemudian maju selangkah mendekati teman Taufan, "Boleh minta nomor mu? " Solar menggangguk kemudian menyebutkan satu persatu angkanya.

"Makasih cantik," kali ini pria itu tersenyum tulus, membuat Solar sedikit tersipu.

•-•-•

"Huh, kau seharusnya jangan memberi nomor mu pada orang tidak dikenal, meski itu temanku sekalipun, kau tahu dia itu pria menyebalkan dan licik-"

"Dia patnermu kan?" tanyanya, seketika semburat merah muncul dipipi chubby lelaki bernetra biru itu.

"Y-ya, tapi Solar aku hanya khawatir padamu, bisa saja dia melakukan hal yang tidak-tidak, apalagi kau kan polos...." kalimat terakhir sengaja ia pelankan agar temannya tidak mendengarnya.

•-•-•

Solar yang tengah tiduran di ranjang itu langsung terbangun ketika mendengar notifikasi dari ponselnya. Ia mengerutkan kening dengan raut bingung, jarinya dengan lincah mengetik suatu pesan membalas nomor tidak dikenal tersebut.

Unknown
Hai, selamat malam manis

You
??

Unknown
Ini aku yang ditaman tadi
jangan lupa save nomor ku ya ^_^

You
Okeyy

Setelah membalas pesan tadi, Solar memutuskan untuk tidur entahlah ia merasa sedikit lelah sekarang, tapi ia tidak bisa tidur karena mendadak ia memikirkan neneknya, bagaimana ya kabar neneknya itu? apakah baik-baik saja....ahh dia jadi sedikit menyesal karena sudah meninggalkannya. Tenang saja nek! kalau ia sukses nanti ia akan mengajak neneknya pindah ke kota. Ia mengambil sebuah foto neneknya yang berukuran kecil dari dalam dompetnya, mengusapnya pelan dan menggenggamnya sampai tertidur.

My Doll- Halisol {End}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang