Di suatu desa ada seorang lelaki manis yang tinggal bersama neneknya di rumah sederhana, teknologi yang berkembang disana masih sedikit sehingga banyak orang-orang disana yang memilih merantau ke kota besar untuk mengubah nasib. Begitupun dengan lel...
Sudah hampir seminggu ia disini, Solar juga merasa terus-terusan tidak enak karena menumpang berhari-hari dirumah orang yang baru dikenalnya. Sepertinya ia memilih opsi pertama yaitu menerima tawaran itu. Huh, tapi kan dirinya itu sangat payah dalam hal percintaan! ia pasti akan dikatai cupu oleh para pekerja lain disana...
Ia melirik ke temannya itu yang sedang bersiap ingin berangkat kerja, "Fan." panggilnya, si empu menoleh, "Ya? ada apa." pandangannya teralih kembali ke arah cermin.
"A-aku mau bekerja di-ditempat yang sama denganmu." Taufan yang mendengarnya terdiam seketika–lalu ia mendekat ke temannya itu, "Kau yakin? aku kan tidak memaksamu." Solar menggangguk, "Kenapa kamu bisa berubah fikiran?", Solar menghirup nafas sebentar sebelum mulai menjawab, "Karena aku rasa memang yang kamu katakan itu benar, disini kehidupan sangat keras, lebih keras dibanding didesa." Taufan tersenyum simpul, "Tak apa, coba saja nikmati semua pasti akan terasa mudah."
"Oh ya kamu mau mulai bekerja kapan? kalau besok mungkin aku akan memberi tahu atasan ku nanti." "Sekarang." Taufan hanya ber-oh ria, "Baiklah, sebelum kita pergi, aku harus mengubah penampilanmu dulu tidak mungkin kan kau akan datang kesana dengan penampilan seperti ini?"
Dengan lihainya pria manis bermanik biru shappire itu mempoles wajah temannya sedikit, karena Solar menang sudah putih dan sudah cantik, ia tertawa melihat reaksi temannya bernetra abu itu yang tampak tak nyaman dengan lipstik yang menempel dibibirnya ia jilat lipstik itu sampai menghilang sedikit.
"Hei kalau kau jilat terus kapan kita akan berangkat?!" omelnya.
Solar menatapnya polos lalu ia menurut dan hanya diam.
Setelah sepuluh menit, Taufan akhirnya selesai me-make over temannya ini, terakhir ia menyuruh temannya berganti baju.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Solar tampak cantik dengan sweater pink dan stocking htam yang menutupi kemulusan kakinya itu. Ia lalu bercermin menampakkan dirinya yang tampak sangat ung! Sexy, ah ayolah masa iya mereka akan berjalan dengan pakaian seperti ini?
"Tenang saja, kita tidak akan jalan sampai sana kok aku dan adikku biasanya memesan mobil di aplikasi online."
"Oke."
Tak lama adiknya sudah muncul, dan kini mereka sudah siap untuk pergi.
•-•-•
Mereka kemudian sampai ditempat dengan lampu remang-remang tersebut, Solar menggenggam erat jemari Taufan, pandangan matanya tampak disuguhkan dengan pasangan yang saling berciuman dan menari. Ia bergidik dan aroma alkohol tampak begitu tajam menusuk indera penciumannya, ahh belum lama ia disini sudah merasa tidak betah.
Tak lama muncul seorang pria manis lain dengan rambut cokelat, meski diusianya yang menginjak kepala tiga ia masih kelihatan seumuran dengan mereka.
"Mom ini temanku yang pernah aku ceritakan." Taufan mendekat ke pria manis itu.
Gempa yang merasa gemas dengan wajah temannya Taufan lantas mencubit pipi chubby itu dan menciumnya, "Hai~ siapa namamu?panggil aku mommy Gemmy ya...." Solar hanya menggangguk kaku, "N-namaku Solar.", Tak lama mommy Gemmy itu menarik tangannya mengajaknya ke tempat para pekerja lainnya sedang berkumpul.
"Hai kalian, hari ini kita kedatangan pekerja baru dan semoga kalian bisa akrab dengannya ya." Didorongnya Solar ke depan menghadap pekerja disana, beberapa orang disana tampak terpana dengan kecantikan pria itu ada juga yang merasa iri.
****
Para pekerja itu kini sudah berada ditempat masing, ada yang dikamar dan diruang bar, begitupun dengan Solar.
"Hei bro! kau keliatan seperti tak bersemangat, kenapa?" Hali menggeleng pelan, sekretaris nya itu kemudian merangkulnya,"Aku tahu kau lelah, jadi karena itu....bagaimana kalau kita pergi ke club?sekalian mencuci mata, siapa tahu itu akan membuatmu segar kembali, hmm...." ia menaik turunkan alisnya, lantas atasannya itu menolak.
"Tidak, aku sedang tidak ingin bermain." Yah memang mereka terkadang suka mendatangi club malam dikota itu dan bermain dengan beberapa jalang disana, hanya untuk melepas penatnya.
"Hei! Ini clubnya beda tahu, isinya para uke seksi kau pasti suka, ahh aku jadi tidak sabar bertemu ayang Blaze."