Chapter 5

3.3K 166 0
                                        

Seorang gadis melangkah menyusuri koridor sekolah. Ia baru saja pindah dari Amerika ke Indonesia. Alasan nya pindah, sebab orang tua nya ingin merintis bisnis di tanah kelahiran. Ini hari pertama nya bersekolah. Ia belum mempunyai teman, atau apapun itu. Gadis itu tampak sedikit gugup, ia masuk ke salah satu kelas yang telah di sediakan oleh pihak guru guru untuknya.

"Permisi."

Sang guru yang tadinya sedang menerangkan materi, reflek menoleh ke arah pintu. Ia tersenyum, lebar.

"Kamu anak baru itu, ya? Silahkan masuk."

Dengan langkah kecil, gadis itu berdiri tepat di depan papan tulis. menyita perhatian para murid murid dikelas. Terutama pria yang duduk di pojok kiri. Ia tampak terkejut.

"Annasya?"

"Perkenalkan, ini Annasya Askala Jaya. Dia siswi pindahan dari Amerika. Mulai sekarang, Anna resmi bersekolah disini. Tolong untuk kalian, bimbing Anna, ya. Jangan saling membully, harus rukun."

"Baik, Bu." Jawab semua, dengan kompaknya.

"Anna, kamu boleh duduk di sebelah Marven."

"Marven?"

Anna mengangguk, patuh. Ia duduk di kursi yang telah di tunjukan sang guru. Ia melihat sosok yang dirinya kenal. Sangat di kenali oleh Anna.

"Marven? Nice to meet you."

"Kenapa Lo ke sini lagi? Bukan nya Lo netap di Amerika selamanya?" Tanya Marven.

"Nggak. Ayah ku mutusin buat buka bisnis disini."

Marven memangut paham. Ia sebetulnya tak terlalu peduli, hanya saja sedikit penasaran-Ah, lebih tepatnya biar kesan nya Marven itu humble. Atau apapun itu lah.

"Sial, malah muncul lagi."

Mereka kembali fokus ke depan. Mendengar serta memperhatikan apa yang di terangkan guru. Kegiatan pembelajaran berlangsung sampai bel istirahat tiba.

°°°

"Heh, Mar!"

"Apaan?"

"Mantan Lo balik, ya dari Ame--"

Mulut Javian sudah lebih dulu di bekap, padahal pria itu belum selesai berbicara.

"Jangan kenceng kenceng." Bisik Marven. Javian mengangguk mengerti. Kenapa juga nggak boleh terlalu kenceng? Marven ada gebetan apa gimana?

"Sorry.... Emang kenapa?"

"Nggak apa apa sih. Cuman, ya.... Gitu lah."

Javian mendecak, kesal. Marven kalau ngomong suka nggak jelas. Demen banget motong motong ucapan sendiri.

"Ya, itu cuman masa lalu. Nggak usah di bahas, dan jangan sampai orang lain tau!" Marven cabut dari basecamp. Pria itu pergi tanpa memberitahu Javian akan kemana. Toh, Nggak penting juga kan?

Marven mau ketemuan sama pacar nya. Mereka udah janji. Ah, lebih tepatnya Marven yang maksa pengen ketemuan. Soalnya suka kangen.

Maklum, cowok bucin.

Marven berdiri tepat di depan pintu gudang sekolah yang terbengkalai. Ruangan itu kebetulan tak pernah di kunci, sebab disana tak ada barang berharga. Marven celingak-celinguk, lihat kanan kiri. Memastikan tak ada orang yang mengikutinya.

Setelah merasa situasi aman. Marven masuk kedalam, dan menemukan Sang kekasih, duduk di kursi ruangan tersebut.

"Nunggu lama?"

"Nggak juga. Lo kenapa ngajak gua ketemuan?"

Marven tak menjawab apapun. Pria itu justru merentangkan kedua lengan nya. Bersiap untuk memeluk kekasihnya, tapi pergerakkan nya harus di tertahan. Lantaran Jay menolak serta menghindar. Wajah Marven berunah jadi melas.

"Kenapa? Gua bau, ya?" Marven mencibikan bibirnya.

"Nggak. Gua gak terbiasa di peluk orang asing."

"Orang asing? Gua asing buat Lo?"

"Ya, kita kan pacaran karna terpaksa."

"Ah, tailah. Jadi, karna terpaksa gua gak boleh peluk Lo?" Marven.

Bukan begitu maksudnya. Kenapa Marven jadi sensitif sekali?

"Nggak, maksudnya--"

"Udah, lah tai. Pulang ke kelas Lo." Titah Marven. Pria itu keluar dari gudang terlebih dulu, meninggalkan Jay yang masih kebingungan.

Tumben banget?

"Itu anak kenapa sih, anjir? Kaya orang stress gua liat liat."

Kadang Jay bingung sama mood Marven. Kalau lagi seneng, ya seneng banget. Cerahnya melebihi matahari. Tapi kalau sebaliknya, mendung nya melebihi awan yang mau hujan. Udah kaya cewek datang bulan.

Jay sebetulnya agak khawatir, cuman ia juga nggak mau maksa supaya Marven mau cerita. Toh, kalau butuh juga tuh anak bakalan muncul sendiri.

°°°

"Anna, ya?" Tanya Arlan. Marven dulu sempat cerita tentang mantan nya, yang katanya pindah, dan mereka terpaksa putus akibat Marven tak suka hubungan jarak jauh, alias LDR.

Anna mengangguk, "Kamu tau nama ku dari mana?"

"Rahasia dong. Oh, ya. Gua Arlan." Arlan mengulurkan tangan nya tuk berjabat tangan. Anna pula dengan senang hati membalas jabat tangan pria dihadapan nya ini.

Keliatanya orang baik. Pikir Anna.

Aslinya suka ngincar cewek cewek di aplikasi. Kalau di kumpulin, cewek Arlan bisa bikin kabupaten sendiri.

"Mau ke kantin bareng gua, nggak?"

"Boleh emang?" Anna bertanya balik. Takutnya hanya basa basi saja.

"Boleh dong! Ayok."

Keduanya ke kantin bersama. Kayanya Arlan bakalan ngincar Anna. Ya, meskipun ini mantan temen nya sendiri. Tapi, kan udah jadi mantan. Udah nggak ada hubungan apa apa. Berarti Arlan boleh dong deketin.

°°°

Jay abis dari gudang, langsung pergi ke ruang osis buat ngecek papan kelas. Soalnya dia disuruh sama Damian buat cek, takut ada yang hilang. Barang itu bakalan di pake pas event. Jay sibuk ngehitung papan nama, tanpa sadar ada yang masuk ke ruang osis.

"Jay."

"Lo bikin gua kaget aja, Rin."

Karin terkekeh, kecil. "Lo kenapa ngitungin papan nama kelas? Damian mana?" Karin larak-lirik cari si ketua osis.

"Dia nggak ada disini. Ada nya di kelas lagi nugas."

"Oalah. Kirain dia ikut. Gua mau nyari id card gua yang sempet ketinggalan disini."

"Sini gua bantu cari."

"Okay, Makasih Jay."

Mereka nyari id card bareng bareng, sampai ketemu. Keduanya sempat mengobrol juga, tentang masalah siswa siswi di sekolah ini, yang bisa di jadikan aspirasi. Selebihnya, mereka mengobrolkan hal pribadi.

Sepasang mata menatap tajam ke arah mereka, Karin dan Jay. Tangan nya terkepal. Menahan amarah yang hampir membuncah.

"Sial."

To be continued.

Favorite Rival. (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang