ini giliran bercocok tanam, votenya pada cepet, ya
••••
Marven terbangun perlahan dari tidur panjangnya. Kelopak matanya bergerak pelan, seperti mencoba melawan berat yang menahan pandangannya kembali ke dunia nyata.
Saat akhirnya terbuka sepenuhnya, cahaya lampu kamar rumah sakit terasa menyilaukan, memaksanya menyipitkan mata. Pandangannya kabur, tetapi samar-samar ia mengenali wajah kedua orang tuanya yang berdiri di samping ranjang, menatapnya penuh harap.
"Dimana Jay? Kok dia ngga ada?"
suara Marven terdengar serak, hampir berbisik, namun cukup untuk menghentikan percakapan lembut antara ayah dan ibunya. Ia mengedarkan pandangan, berharap menemukan sosok yang dicarinya, tetapi tak ada Jay di sana.
Seketika, raut wajahnya berubah gelisah. "Aku mau Jay ke sini... Sekarang!" Marven merengek, suaranya memecah keheningan kamar.
Ia mencoba bangkit dari tempat tidur, tetapi tubuhnya yang lemah tidak mampu menopang keinginan itu.
Ibunya, yang tampak sedikit panik, buru-buru mendekatinya. "Marven, sayang, kamu baru saja sadar. Jangan terlalu memaksakan diri. Istirahat dulu, ya?" katanya lembut sambil merapikan selimut anaknya.
Namun, Marven menggeleng keras. "Aku nggak peduli! Aku mau dia di sini!" desaknya, matanya mulai memerah, menunjukkan betapa emosinya mengguncang.
Ayahnya yang selama ini diam hanya mengangguk seolah menyetujui istrinya. "Ibumu benar, Nak. Sekarang yang penting adalah pemulihanmu. Kami di sini untukmu. Jay pasti juga ingin kamu cepat sembuh," tambahnya, dengan nada yang terkesan meyakinkan tetapi tak sepenuhnya tulus.
Marven memandang mereka berdua dengan curiga, rasa kecewanya jelas terlihat. Ada sesuatu yang tidak dikatakan, sesuatu yang sengaja disembunyikan.
Tetapi tubuhnya yang lemah tidak memberinya pilihan selain pasrah pada situasi. Ia kembali terbaring, matanya memandang langit-langit, sementara pikirannya terus bertanya-tanya.
"Kenapa dia ngga datang?"
"Istirahat lagi, ya Sayang. Mama khawatir sama kamu." Wanita itu mengusak surai sang Anak, mencoba menenangkan nya. Membantu Marven kembali berbaring.
"Apa peduli kalian?"
Kedua orang tua Marven saling pandang. Mereka tahu, Marven pasti amat kecewa, Lantaran mereka jarang menghubungi Marven karna sudah mempunyai kesibukan masing-masing.
Tetapi, Bukan berarti Marven harus di lupakan begitu saja, Kan?
"Maafin Mama, Mar. Mama janji bakalan lebih sering ngehubungin kamu."
"Papa juga. Sekarang kamu istirahat, Nanti Jay bakalan ke sini kok."
Semoga saja. Marven merasa perasaan nya tak enak, Tak tahu mengapa. Mungkin karna rindu? Secara, Pria itu tak sadarkan diri hingga memakan waktu 2 Minggu. Hanya berbaring dengan mata terpejam.
•••
Di ruang tunggu rumah sakit yang sepi, kedua orang tua Marven duduk berhadapan. Sang ibu, dengan wajah tegang, memegang secangkir kopi yang sudah dingin, sementara ayahnya menyandarkan tubuh ke kursi, tangannya terlipat di dada. Keduanya tampak tenggelam dalam percakapan serius yang nadanya semakin memanas.
"Siapa sebenarnya Jay ini?"tanya sang ibu, suaranya penuh kegelisahan.
"Aku nggak pernah dengar nama itu sebelumnya. Dia seperti punya pengaruh besar ke Marven. Sampai-sampai, baru saja sadar dari kritis, yang dicari malah dia."
Sang ayah menghela napas berat, mencoba menenangkan istrinya. "Aku juga nggak tahu. Marven tidak pernah cerita banyak soal temannya. Tapi, kamu lihat sendiri tadi, kan? Dia begitu memaksa. Seolah Jay ini... penting sekali buat dia."
KAMU SEDANG MEMBACA
Favorite Rival. (END)
FanfictionNasib Jay yang malang akibat menerima taruhan dari rivalnya sendiri--Marven. Penuh percaya diri, jika dirinya yang akan menang. Namun kenyataannya justru sebaliknya. °°°° Lapak BXB! cr; pinterest, Twitter, Instagram, dll.
