Chapter 14 🔞

3.8K 120 2
                                        

Marven menyerang bibir Jay tanpa aba-aba, Begitu agresif dan ganas. Menyesap serta menggigit. Jay memberikan akses untuk lidah Marven supaya bisa masuk.

Jay tanpa sadar melingkarkan tangannya pada leher Marven. Ia melenguh di sela ciuman, "Nghh..."

Dari bibir. Turun ke bawah, Marven membuka satu persatu kancing baju Jay, tak sabar melihat tubuh yang indah nan cantik. Ia menyingkapkan pakaian Jay, Jay tersipu malu. Ia memang pernah bercinta dengan Marven. Namun rasa malu tetap hadir. Biarpun sudah tahu bentuk tubuh masing masing.

"Jangan di lihatin terus ... Malu," Ujar Jay. Marven terkekeh, gemas. Ia menjilat puting milik Jay. Warna nya lucu, pink gitu! Saking gemasnya, Marven sampai nggak sengaja ngegigit. Menimbulkan pekikan kesakitan dari Jay.

"Sakit, Ven! Pelan pelan!" Tegur Jay. Marven menyunggingkan senyuman lebarnya, Ia meminta maaf, dan berusaha bersikap selembut mungkin.

Marven berhenti sejenak. Kirain nggak bakalan lanjut. Ternyata pria itu mengambil bluetooth speaker. Supaya kesan pas cocok tanam nya kerasa!

Dia pencet playlist yang selama ini di simpen buat di puter pas di situasi begini. Lagu pertama yang di putar, yaitu lagu: Unholy - Sam Smith ft Kim Petras.

Jay menggeleng, tak tahu lagi dengan cara kerja otak Marven. Ada aja tingkahnya. Marven kembali melancarkan aksinya.

Kini berpindah kebawah, Ia menarik celana Jay. Menurunkan hingga sepenuhnya, melemparnya secara sembarang. Tak memperdulikan apapun lagi. Nafsu telah menguasainya.

"Kalau langsung masukin aja, Bakalan sakit nggak?"

"Sakit lah, bego! Pake nanya!" Hardik Jay, Kesal. Bisa bisanya Marven nanya kaya gitu. Udah jelas sakit! Minimalnya tuh pemanasan dulu, baru gas in ke inti. Ini orang mau nya langsung ke inti tanpa pemanasan, kan gila!

"Lama ah. Gak bisa nunggu lagi. Kalau sakit cakar aja, ya?" Marven melepas pakaian nya, keduanya saat ini sama sama telanjang bulat. Penis Marven mengacuk tegak, siap bertempur.

Jay menelan ludahnya, kasar. Ia tampak ragu tercampur takut. "Serius langsung masukin? Pake pelumas yang banyak! Awas aja kalau nggak!" Jay memperingatkan. Sebelum di suruh, Marven udah pakein penisnya pelumas duluan.

Ia menarik kaki Jay, Mengangkat pinggul Jay, sedikit lebih tinggi. Jay dengan posisi terlentang. Melingkarkan kakinya pada pinggang Marven.

"Tahan, ya?" Marven memposisikan penisnya sejajar dengan anal Jay. Ia memasukan baru kepala penisnya saja. Jay sudah mencengkeram lengan nya. Mata nya terpejam, menahan sakit.

"Akh! Sakit, Ven. Pelanhhh!" Desahnya.

"Baru kepalanya aja, Tapi ini sempit banget. Rileks aja, Sayang." Marven pun dengan tak sabaran, menyentakkan penisnya sekaligus. Jay menjerit sekencang mungkin. Ini amat menyakitkan!

"ARGHH MARVEN BEGO, OON LO!"

"Jangan ngomong kasar." Tegur Marven. Jay menangis, Dia nggak kuat. Ini sakit banget. Rasanya, Anal dia ngilu bercampur perih.

"Jangan gerak dulu..." Jay berusaha rileks. Biarpun sulit. Marven pula hanya menurut saja. Daripada malah di suruh keluarin. Kan nanggung! Dia udah terangsang duluan.

Marven berbisik, "Aku gerakin, ya?" Dijawab anggukan lemah dari Jay. Perlahan Marven mulai memacu dengan tempo pelan, lama lama menjadi sedikit cepat. Ranjang ikut bergoyang, selaras dengan hentakkan Marven.

Jay pula mendesah, Menikmati percintaan ini. Marven menepati ucapan nya. Ia memberikan kenikmatan tiada tara pada Jay.

"Anhh di sana!" Marven tertawa, kecil. Ia menemukan titik manis didalam sana. Marven semakin semangat menggenjot Jay. Ia tak lupa merekam adegan itu. Bukan buat aneh aneh. Cuman buat dokumentasi aja ke Fabian, haha!

Favorite Rival. (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang