Jay tiba di rumah sakit dengan napas terengah-engah. Keringat membasahi pelipisnya meskipun udara di sekitar terasa dingin. Ia langsung menghampiri resepsionis dengan ekspresi panik. "Kamar Marven... di mana dia dirawat?" tanyanya dengan suara bergetar, seperti menahan tangis yang hampir pecah.
Resepsionis memeriksa data di layar komputer sebelum menjawab, "Pasien Marven berada di unit perawatan intensif, lantai tiga, kamar 308."
Jay mengangguk cepat dan berlari menuju lift, tidak peduli pada tatapan orang-orang di sekitarnya. Pikirannya penuh dengan bayangan buruk yang berusaha ditepisnya. Setibanya di lantai tiga, ia langsung mencari kamar yang dimaksud. Di depan pintu kamar, ia menemukan Arlan, Fabian, dan Kelana—tiga teman dekat Marven—yang duduk dengan ekspresi cemas.
"Jay, lo akhirnya datang," ujar Fabian, berdiri untuk menyambutnya.
"Gimana keadaan Marven?" Jay bertanya tanpa basa-basi.
Arlan hanya menggeleng, jelas sekali ia juga tidak tahu harus berkata apa. Fabian menjelaskan, "Dia masih dioperasi. Kata dokter, kondisinya kritis."
Jay merasakan tubuhnya melemas, tapi ia memaksakan diri untuk tetap berdiri. Ia duduk di salah satu kursi kosong di koridor, jari-jarinya memainkan ujung baju dengan gugup. Waktu terasa berjalan sangat lambat. Tiga jam berlalu, dokter akhirnya keluar dari ruang operasi.
"Pasien mengalami benturan keras di bagian tubuhnya. Kondisinya kritis, tapi stabil untuk saat ini," ujar dokter sambil menatap mereka dengan serius.
Jay tidak bisa menahan diri lagi. "Dok, saya boleh masuk?" tanyanya penuh harap.
"Boleh, tapi jangan terlalu lama dan jangan ramai-ramai," jawab dokter.
Jay memasuki kamar itu dengan langkah pelan. Pemandangan di depannya membuat dadanya terasa sesak. Marven terbaring lemah, tubuhnya penuh dengan alat medis. Perban melilit kepala dan beberapa bagian tubuhnya, sementara wajahnya tampak pucat.
Kaki Jay terasa berat, hampir tidak mampu melangkah lebih jauh. Ia duduk di kursi di samping ranjang dan menggenggam tangan Marven dengan erat. Tangannya gemetar, tapi ia berusaha tetap tenang. "Gue nggak akan ninggalin lo," Jay berbisik pelan, suaranya hampir tertelan bunyi monitor jantung yang berdetak pelan. Ia menggenggam tangan Marven lebih erat, seolah itu satu-satunya cara agar kekasihnya tetap terhubung dengan dunia ini.
Jay mengamati wajah Marven yang biasanya penuh senyum nakal, kini terlihat begitu lemah. Napasnya terasa tercekat melihat perban yang melilit kepala Marven.
"Lo tau, Ven... gue takut banget tadi pas dengar lo kecelakaan. Gue nggak tau harus gimana kalau lo nggak ada," ucapnya, air matanya mulai jatuh tanpa bisa ditahan.
•••
Di luar kamar, Arlan, Fabian, dan Kelana masih menunggu dengan penuh kecemasan. Fabian sesekali melirik jam tangan, sementara Arlan bersandar di dinding dengan tangan terlipat, tatapannya kosong.
"Lo pikir dia bakal sadar kapan?" tanya Kelana tiba-tiba, suaranya terdengar kecil.
"Semoga cepat," jawab Fabian singkat, nada suaranya penuh kekhawatiran.
Di dalam kamar, Jay masih berbicara dengan suara pelan, meskipun Marven tidak memberikan respons. "Ven, lo harus sembuh. Gue belum siap kehilangan lo. Masih banyak hal yang mau gue lakuin bareng lo... jadi lo harus kuat, oke?"
Jay mengusap tangan Marven yang dingin dengan lembut, berharap bisa memberikan sedikit kehangatan. Ia menatap alat-alat medis yang terpasang, mencoba memahami fungsi mereka sambil berdoa agar semuanya membantu Marven melewati masa kritis ini.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan, hingga akhirnya suara pintu kamar yang terbuka perlahan mengalihkan perhatian Jay. Dokter masuk untuk memeriksa kondisi Marven.
KAMU SEDANG MEMBACA
Favorite Rival. (END)
FanfictionNasib Jay yang malang akibat menerima taruhan dari rivalnya sendiri--Marven. Penuh percaya diri, jika dirinya yang akan menang. Namun kenyataannya justru sebaliknya. °°°° Lapak BXB! cr; pinterest, Twitter, Instagram, dll.
