"Akh Mar! Janganhh-Ough!"
Jay tadinya sedang menjadi panitia event. Tetapi, Fabian tiba tiba saja menghampirinya, menarik Jay dari kerumunan. Membawa si manis ke gudang belakang. Jay kebingungan, dibuatnya. Sebab Fabian mengutarakan perasaan nya.
Marven yang tak sengaja, menangkap adegan dimana Jay ditarik secara paksa oleh Fabian ke suatu tempat. Kakinya spontan melangkah, mengikuti keduanya.
Dan, Marven pula mendengar percakapan antara Jay dan Fabian.
Marven yang diselimuti amarah, tanpa berpikir panjang. Segera memakai masker, dan menyerang Fabian secara membabi buta hingga terkapar lemas tak berdaya.
Kini, Fabian masih berada di gudang. Jay dibawa pergi Marven ke kelas ujung, yang tak terpakai. Ia menyetubuhi si manis di sana.
Marven seakan dirasuki sesuatu, pria itu gelap mata. Ia cemburu. Menyalurkan rasa sesak dihatinya melalui seks. Supaya Jay pula turut merasakan.
"Lo punya gua. Selama nya punya gua."
Jay menangis akibat di setubuhi. Marven amat kasar. Ia berjam-jam bercinta dengan posisi berdiri, Jay yang di himpit ke tembok, menghadap Marven. selain itu, Marven pula mengikat kedua tangan Jay ke atas.
"Le-phas! Mar..." Jay menatap sayu, memelas penuh iba, Marven bukan nya merasa kasihan. Ia justru semakin tertantang. Marven mempercepat temponya. Semakin tidak karuan, membuat Jay semakin berantakan karna tusukan nya. Prostat Jay rasanya bengkak.
"Ugh! Marven, Ter-laluh cepet!"
Jay pasrah, serta berserah. Pria itu tampak tuli serta buta. Tak mau mendengarkan apa yang di kata Jay.
Jay berakhir disini, tak bisa melaksanakan tugasnya dengan baik. Pasti ia akan mendapat masalah dari Damian. Lantaran si ketos tau, jika dirinya pergi di saat jam kerja.
Suasana kelas dipenuhi desahan Jay. Dan, itu lah hal yang paling Marven suka. Tangan Marven pula tak tinggal diam. Pria itu mengocok penis Jay, sehingga membuat si empu semakin tak karuan. Rangsangan dimana mana. Marven tersenyum, menang.
"Jangan macem macem sama gua, Jay. Gua baik, bukan berarti bakalan lepasin lo gitu aja."
Salah Jay karna berani berususan dengan iblis berwujud manusia.
Selamat menikmati hidangan manis mu, Marven. Dan untuk, Jay. Selamat menikmati kemalangan.
°°°°
"Lo kenapa, bi?" Kelana meringis, menyaksikan kondisi sahabatnya yang di temukan tengah pingsan didalam gudang. Beruntung ada anak osis yang menemukan Fabian. Kalau tidak, Ah.. Kelana tak bisa membayangkan lebih jauh lagi.
Fabian tak merespon pertanyaan dari Kelana. Pria itu hanya diam saja, ia juga bingung harus menjawab apa.
"Anjay, dipukulin siapa Lo?" Javian muncul secara mendadak, dan menepuk-nepuk wajah Fabian yang lebam. Pria itu tentu saja meringis nyeri, dan balik memukul Jevian.
"Kurang ajar Lo!" Bentak Fabian, tangan nya memegangi area bekas pukulan Javian.
"Dia kenapa, bre?" Arlan.
Kelana mengangkat kedua bahu, tanda tak tahu. Ia pun tak mengerti, kenapa Fabian bisa seperti ini. Tadi saat dilapangan, ketika Kelana sedang asik menikmati pertandingan. Ia tiba tiba saja di hubungi oleh salah satu anak PMR, dan menyuruh Kelana supaya cepat datang ke UKS.
"Udah lah, yang penting nih anak nggak meninggal." Javian.
°°°°
Benar saja apa yang di khawatirkan Jay. Ia sedang di interogasi oleh Damian. Tatapan nya seperti elang. Begitu tajam dan menusuk. Jay menunduk, takut bercampur gelisah.
Setelah di setubuhi satu jam lalu. Jay tak mau mengikuti saran dari Marven, supaya pulang saja ke rumah dan berasalan bahwa ia mendadak tidak enak badan.
"Gua tanya sekali lagi. Kenapa Lo ninggalin event gitu aja? Mana tanggung jawab Lo?!" Damian menggebrak meja yang ada diruang osis. Pasalnya, Karna Jay. Osis lain jadi kewalahan. belum lagi, Damian juga dapet protesan dari mpk plus guru guru. Itu bisa coreng nama baik organisasi.
"Maaf, Dam... Gua tadi ke toilet bentar..." Cicit Jay.
"Toilet? Sampai tiga jam? Lo ngapain aja di toilet?" Damian menyilangkan lengan nya didepan dada, mengintimidasi lawan bicara. Jay memainkan ujung jarinya. Matanya bergerak ke sana kemari, menandakan gelisah.
"Jay sama gua. Gua yang ajak dia pergi, gua paksa dia tadi." Marven masuk ke ruang osis tanpa permisi atau pun izin. Menimbulkan suasana yang lebih mencekam. Tetapi, pria itu tak takut.
Ah, cuman anak osis.
Urusan gampang.
"Jadi karna lo."
Marven mengangguk.
"Lo ngerti kondisi gak? Situasi lagi pada sibuk gini. Seenaknya banget ngajak orang pergi. Kudunya izin dulu ke gua atau ke ketua mpk." Damian.
Okay, Jay rasanya mau menghilang saja. Situasi akan semakin buruk bila Marven muncul.
"Udah, Mar... Mending Lo pulang aja, gua bisa urus ini sendiri." Titah Jay, tetapi Marven tak menggubrisnya. Toh, untuk apa pulang? bila kekasihnya ada disini.
"Diem. Gua ada urusan sama ketos songong ini."
"Kurang ajar!" Damian meninju wajah Marven. Tepat mendarat di hidung. Hidung bangir pria tampan itu berdarah, Marven mimisan. Marven mengusap hidungnya, kasar. Ia terkekeh, geli.
"Cuman segitu?" Marven balas menonjok Damian. Perkelahian tak dapat di hindari. Keduanya saling melayangkan satu bogeman mentah satu sama lain.
Jay berusaha melerai, ia menarik Marven, menahan pria itu supaya tak menggila.
"Udah, Mar! Ayok pulang. Maaf buat Damian. Kita bahas ini besok, sekali lagi maaf."
Jay menarik paksa Marven. Membawanya ke parkiran. Sampai disana, Jay menegur pria itu atas tindakan nya.
Marven tak terima? Jelas.
Yang seharusnya di tegur adalah Damian. Pria itu juga yang memulai pertengkaran.
"Lo lihat apa yang gua lakuin gak sih? Gua lakuin ini demi lo! Lo tadi di permaluin sama Damian! Lo di kata katain kaya gitu. Lo pikir hati gua gak sakit?"
"Ini juga salah Lo! Kenapa malah narik gua ke kelas ujung itu."
Marven mengusap wajahnya, "Okay, okay! Itu salah gua." Marven mengakui tindakan nya memang salah dan gegabah.
"Lo gila tau gak sih, Mar? Lo gila! Hidup gua nggak tenang semenjak kenal Lo!"
"Maksudnya?"
"Gua nyesel kenal Lo! Lo brengsek!"
"Lo jangan bercanda." Marven.
"Gua serius!"
"Gua cuman mau lindungin Lo aja, udah! Gak lebih! Apa yang salah?"
"Cara kerja otak Lo yang salah."
Apa?
"Lo serius ngomong gitu ke gua? Yang latar belakangnya pacar Lo sendiri? Lo belain Damian? Oh, karna Lo anggota osis. Lo kudu bela ketua Lo sendiri sampai segi--"
Marven belum menyelesaikan ucapan nya, tetapi tamparan sudah lebih dulu mengenai pipi kanannya. Marven menatap ke bawah kiri, ia tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
"Ini nggak ada sangkut pautnya sama organisasi! Ini soal tanggungjawab. Anak kaya lo mana ngerti, tau nya cuman keluyuran nggak jelas!"
Baik, sudah cukup.
"Segitunya? Okay, gua minta maaf buat tadi." Marven hendak menggenggam tangan Jay. Namun, pria itu menolak. Ia menepis lengan Marven.
"Jauhin gua. Soal taruhan itu lupain aja! Jangan ke rumah gua lagi!" Sebelum pergi, Jay sempat menonjok Marven hingga tiga kali. Tapi, pria itu malah diam saja, bukan nya membalas.
Marven membeku ditempatnya. Ia mendadak tak paham dengan situasi.
Apa Marven sepenuhnya salah? Dan kesalahan nya ini tak dapat diperbaiki?
To be continued.
woy, komen sama vote!
KAMU SEDANG MEMBACA
Favorite Rival. (END)
Hayran KurguNasib Jay yang malang akibat menerima taruhan dari rivalnya sendiri--Marven. Penuh percaya diri, jika dirinya yang akan menang. Namun kenyataannya justru sebaliknya. °°°° Lapak BXB! cr; pinterest, Twitter, Instagram, dll.
