Chapter 18

2K 90 13
                                        

4 Tahun telah berlalu~

Setelah ujian terakhir selesai, Jay berjalan keluar dari ruang ujian dengan perasaan lega. Dia mencari tempat untuk duduk dan akhirnya menemukan Karin yang sedang duduk di kafe kampus. Karin, yang kuliah di fakultas kedokteran, langsung menyapa Jay dengan senyuman hangat.

"Gimana ujian terakhir?" tanya Karin, membuka percakapan.

"Akhirnya selesai juga. Rasanya kayak beban hilang dari pundak," jawab Jay, menyandarkan punggungnya ke kursi dan menyandarkan tangan di meja.

Mereka tertawa sedikit, berbicara ringan tentang kuliah, rencana liburan, dan bagaimana mereka menghadapinya setelah ujian berat ini. Karin sudah cukup dekat dengan Jay, dan meskipun sering dikira pacaran, hubungan mereka tetap terjaga baik.

"Lo masih sering denger kabar soal kita yang katanya pacaran nggak?" tanya Jay, setengah bercanda, karena dia tahu Raya sering cemburu saat mereka berdua nongkrong bersama.

"Iya, Mereka selalu bilang kita itu cocok banget. Tapi, nyatanya kan kita temenan," jawab Karin, tersenyum sambil mengangkat bahu.

"Raya masih sering cemburu? Gua minta maaf soal itu deh." Jay merasa sedikit bersalah. Sebab, Karin dan Raya terkadang bertengkar karna nya.

"Udah lah, Jay. Santai aja, Kaya sama siapa aja. Lagian kalau gue deket sama Lo. Bukan berarti gue suka sama Lo. Lo juga kan cinta sama Marven."

Jay mengangguk, meskipun ada sedikit kekhawatiran yang muncul di benaknya. Sepertinya hubungan mereka semakin dekat, dan Raya-yang memang cemburu-terlihat agak terganggu oleh kedekatan mereka. Namun, mereka hanya bisa tertawa dan melanjutkan percakapan tanpa menganggapnya serius.

Setelah beberapa jam, Karin berkata bahwa dia harus kembali ke fakultas kedokterannya untuk tugas. "Jangan lupa, kita ketemu lagi nanti sore," ujarnya sambil beranjak.

"Iya, See you." jawab Jay sambil melambaikan tangan.

•••

Jay akhirnya sampai di rumah, sedikit lelah setelah seharian penuh ujian dan aktivitas kuliah. Namun, begitu dia memasuki rumah, ada yang aneh. Di depan rumahnya, ada mobil yang tidak dikenalnya terparkir.

"Ibu bawa teman?" pikir Jay dalam hati, tidak begitu memperhatikan.

Namun, ketika dia melangkah masuk ke ruang tamu, matanya langsung menangkap sosok yang sudah sangat ia rindukan-Marven. Sosok pria yang dulu sangat ia cintai, kini muncul dengan penampilan yang jauh lebih gagah dan berbeda.

"Marven..." Jay terpaku, tak bisa mempercayai apa yang dilihatnya.

Marven yang mengenakan jas hitam tersenyum lembut dan menatap Jay dengan tatapan penuh kasih.

"Hai, Sayang." sapa Marven dengan suara yang lebih dalam dan berwibawa.

Jay berdiri diam, bingung dan terkejut. Empat tahun tanpa kabar, tanpa tahu di mana Marven berada, dan tiba-tiba pria itu muncul begitu saja.

Anita, ibunya Jay, dengan bijak melihat situasi itu. "Jay, Ibu keluar dulu, kalian ngobrol dulu aja," katanya sambil melangkah keluar dari ruang tamu.

Marven bangkit dari kursinya dan melangkah mendekat ke Jay. Tanpa ragu, ia menarik tubuh Jay ke dalam pelukan yang hangat.

"Aku kangen banget sama kamu." bisiknya. Berhasil membuat tubuh Jay meremang.

Ia amat merindukan sosok ini...

Jay yang sempat terkejut, akhirnya membiarkan diri dipeluk. Rasanya semua kerinduan yang terkubur selama ini muncul begitu saja.

"Kamu kenapa baru muncul sekarang?" tanya Jay dengan suara pelan, merasa campur aduk.

Favorite Rival. (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang