Pagi itu, Marven datang tepat waktu, menjemput Jay untuk berangkat sekolah bersama. Begitu Jay keluar rumah, Marven langsung tersenyum lebar. "Jay, lo cantik banget hari ini," katanya sambil memandang Jay dengan kagum.
Jay langsung melotot. "Apaan sih, Ven? Gue kan cowok! Harusnya tampan, bukan cantik!" katanya dengan suara setengah kesal.
Marven terkekeh, lalu membalas, "Iya-iya, tampan. Tapi lo tetep aja cantik, Jay."
Jay mendengus, "Ya elah, lo ini, bisa aja deh."
Mereka pun berangkat bersama. Marven mengendarai motor, sementara Jay duduk di belakang, sesekali berbincang ringan di sepanjang jalan. Marven terus menggoda Jay, tidak peduli meski Jay terus mencoba menghindar.
"Lo tau nggak sih, Jay? Kalau lo jalan di depan, banyak cewek-cewek yang bakal naksir."
Padahal masih pagi...
"Gila lo, Ven. Nggak ada yang naksir gue deh."
"Serius, gue pernah lihat cewek-cewek pada ngeliatin lo waktu kita belum balikan. Lo tuh punya aura."
Jay mendengus, "Aura apaan? Lo aja yang lebay."
Mereka tertawa bersama, sampai akhirnya sampai di sekolah. Marven parkir motornya di luar gerbang, area parkir yang memang disediakan sekolah di luar komplek. Setelah memastikan motornya aman, dia segera berjalan menyusul Jay yang sudah menunggu di depan gerbang.
"Ayo cepetan, Jay. Jangan lama-lama, gue nggak sabar pengen jalan bareng."
"Lo ini kan, nggak bisa diem. Banyak yang liatin!"
"Malu apa, sih? Nanti lama-lama jadi nggak enak, tau. Ini kan cuma jalan bareng pacar."
"Bentar deh, Ven, malu banget kalau ada yang liat." Ujar Jay, tegas.
Tapi Marven nggak menyerah begitu aja. Dia tetap mencoba menggenggam tangan Jay, dan kali ini Jay nggak menepisnya. Mereka berjalan bersama, tangan Marven sedikit menggenggam tangan Jay yang sepertinya sedikit canggung, tapi akhirnya mengizinkan.
Di taman sekolah, mereka berhenti sejenak. Suasana pagi itu terasa tenang, meskipun keduanya masih canggung tapi menikmati kebersamaan. Marven terus menggoda Jay.
"Lo tahu nggak sih, gue pengen banget bisa jalan bareng terus, gini. Nggak cuma pas sekolah, tapi kapan aja."
"Yaudah, lo kalau begini terus bisa-bisa gue bosen."
"Bosen? Coba aja dulu, gue bakal bikin lo betah." Marven menyilangkan kedua lengan nya di dada, dengan ekspresi menantang.
"Yaudah deh, kita lihat nanti."
Setelah beberapa menit, mereka melanjutkan langkah menuju kelas masing-masing. Sebelum berpisah, Marven memberikan ajakan lagi.
"Gue ajak lo ketemu di kantin, ya? Nanti kita makan bareng."
Jay tersenyum tipis, "Iya, iya. Santai aja, Ven. Toh sama pacar juga."
"Sama pacar? Baru gitu dong!"
Mereka berdua pun melanjutkan hari masing-masing, meskipun jalan mereka berbeda, tapi senyum kecil tetap ada di wajah keduanya.
•••
Marven duduk di kelas, matanya tidak fokus pada pelajaran. Senyum tipis terus menghiasi wajahnya.
Sementara guru menjelaskan, pikirannya melayang, terbayang pacarnya yang lucu, Jay. Saking asyiknya, la bahkan sampai kena tegur oleh guru tiga kali.
"Marven!" suara guru yang lantang membuatnya terkejut. "Kamu kenapa? Fokus di pelajaran!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Favorite Rival. (END)
FanficNasib Jay yang malang akibat menerima taruhan dari rivalnya sendiri--Marven. Penuh percaya diri, jika dirinya yang akan menang. Namun kenyataannya justru sebaliknya. °°°° Lapak BXB! cr; pinterest, Twitter, Instagram, dll.
