Beberapa jam setelah mereka memutuskan untuk kembali bersama, Marven tidak bisa menahan diri untuk terus menempel pada Jay. Tubuhnya seolah terpaku pada pria itu, memeluknya erat, mendusel seperti anak kecil yang enggan berpisah dari bonekanya. Kepalanya bersandar nyaman di dada Jay, mendengar detak jantung yang selalu ia rindukan.
Jay, di sisi lain, tampak kesal. Ia mencoba menahan pegal yang mulai menjalar di tubuhnya.
"Ven, sumpah, kamu berat. Pegel nih, jangan kayak anak koala, deh," keluh Jay, mencoba melepaskan pelukan Marven dengan lembut.
Namun, Marven justru mempererat pelukannya. Matanya memelas, bibirnya sedikit mengerucut. "Sebentar lagi aja, Jay... Please?" bisiknya lirih.
Jay mendesah. "Kita udah bareng lagi, kan? Kenapa kamu kayak nggak bakal ketemu aku besok?"
Marven menatapnya, matanya penuh harap. "Kamu nggak ngerti... Kehangatan ini, pelukan ini... Aku kangen banget. Aku takut kehilangan kamu lagi."
Jay menelan ludah, merasa sedikit bersalah karena nadanya tadi. Sebelum ia sempat membalas, Marven tiba-tiba menarik wajahnya dan mencium bibirnya. Ciuman itu dalam, penuh kerinduan yang tertahan sekian lama.
"Ven! Tunggu-" Jay terkejut, tapi Marven tidak berhenti. Ciuman itu berpindah ke pipi, dahi, bahkan rahang Jay.
"Kamu nggak tahu betapa aku selalu memuja kamu, Jay," ucap Marven di sela-sela ciumannya. "Aku nggak peduli berapa lama aku harus nunggu, yang penting sekarang aku punya kamu lagi."
Jay hanya bisa memejamkan mata, membiarkan pria itu meluapkan segala emosinya. Ada kehangatan yang mulai tumbuh di dadanya, meski bibirnya tetap berucap, "Ven, ini lebay banget, tahu nggak?"
Marven hanya tersenyum kecil. "Biarin aja. Aku udah terlalu lama nahan perasaan ini. Jadi, tahan dikit, ya, Jay."
•••
Fabian menghempaskan vas bunga ke lantai, pecahannya menciprat ke segala arah. Nafasnya memburu, dada naik turun seperti api yang nggak bakal padam. Mata pria itu merah penuh amarah, sementara mulutnya terus menggumamkan satu nama dengan penuh kebencian.
"Marven! Bajingan lo!" Fabian raung, sebelum nendang meja kecil di depannya hingga terguling. "Lo pikir lo keren banget ngerendahin gue di grup, hah?!"
Langkahnya terhenti di depan cermin besar di ruang tengah. Fabian menatap pantulan dirinya yang kusut, wajah merah menyala, rahang mengeras. Tangannya mengepal sampai buku-buku jarinya memutih.
"Lo nggak tau siapa yang lo hadapin, Ven. Lo kira bisa ngebongkar semua rahasia gue gitu aja, terus lolos?!" Fabian ngomong ke bayangannya sendiri, matanya menyala penuh dendam. "Gue bakal bikin lo bertekuk lutut. Gue bakal pastiin lo nyesel pernah ngelawan gue!"
Dia ngambil lampu meja dan ngebantingnya ke dinding, suaranya bikin ruangan makin kacau. Pecahan kaca berhamburan, sementara Fabian terus mengumpat nama Marven.
"Gua nggak peduli lagi, Ven. Lo mau main kotor, ayo kita lihat siapa yang bakal jatuh lebih dulu!" Tangannya mencengkram kuat rambutnya sendiri, menariknya frustasi. "Lo bakal ngelihat sendiri, Ven. Gue nggak bakal kalah."
Ruangan apartemen yang tadinya rapi kini berantakan. Fabian berdiri di tengah kekacauan itu, napasnya berat, matanya liar. Tapi satu hal jelas terpancar, dendamnya membuncah, nggak ada niat buat berhenti.
•••
Marven duduk canggung di meja makan bersama Jay dan ibunya. Awalnya, dia berencana pulang setelah mengantar Jay, tapi nyatanya dia justru kelaparan. Perutnya berbunyi pelan, dan sebelum sempat menolak lagi, ibu Jay memergokinya saat hendak pergi.
"Marven, kenapa buru-buru? Makan dulu aja, Tante udah masak banyak, kok," ujar ibu Jay dengan senyuman lembut.
Marven pura-pura ragu, tapi akhirnya menyerah. "Eh, nggak apa-apa nih, Tante? Saya kan cuma mampir..."
"Nggak apa-apa, ayo duduk," jawab ibu Jay tegas sambil menuntunnya ke ruang makan.
Sekarang, mereka bertiga duduk di meja makan, menikmati hidangan sederhana tapi hangat. Ibu Jay bertanya macam-macam, mulai dari sekolah Marven hingga kegiatannya sehari-hari.
"Jadi, Marven, kamu satu sekolah sama Jay? Gimana kelakuan Jay selama disekolah?" tanya ibu Jay, menyuapkan nasi ke mulutnya.
"Iya, Tante. Jay anaknya baik kok, Rajin juga." jawab Marven dengan sopan. Dia berusaha menjaga nada suaranya tetap tenang, meski hatinya sedikit gugup.
Jay menyahut sambil tertawa kecil, "Tapi dia sering kesiangan, Ma. Udah gitu, suka lupa bawa buku pelajaran."
"Eh, itu kan cuma sekali dua kali," Marven membalas dengan wajah protes, meski sebenarnya dia tahu Jay nggak salah.
Ibu Jay hanya tertawa kecil. "Anak muda memang begitu. Yang penting, jangan lupa belajar, ya."
Di sela-sela makan, mereka terus mengobrol santai. Sesekali ibu Jay melontarkan lelucon ringan yang membuat suasana makin cair. Marven merasa semakin nyaman, tapi perhatian utamanya tetap tertuju pada Jay.
Jay sedang memakan ayam goreng dengan santai, wajahnya tampak begitu manis di bawah cahaya lampu ruang makan. Tanpa sadar, Marven terus meliriknya, hatinya berdebar. "Gawat, gue makin suka sama dia," batin Marven sambil pura-pura sibuk dengan nasinya.
Jay yang menyadari lirikan itu akhirnya tersenyum kecil dan berbisik pelan, "Ven, kenapa ngelihatin gue terus? Naksir, ya?"
Marven langsung salah tingkah, wajahnya memerah. "Hah? Enggak kok! Gue cuma... nyari garam!"
Jay tertawa kecil. "Garam ada di situ tuh, bukan di muka gue."
Obrolan mereka pun terus berlanjut, diiringi canda dan tawa kecil yang membuat malam itu terasa begitu hangat bagi Marven.
Setelah selesai makan malam, Marven memutuskan untuk pulang. Waktu sudah menunjukkan larut malam, dan ia tak ingin membuat ibu Jay khawatir.
"Tante, makasih banyak untuk makan malamnya. Semuanya enak banget," ujar Marven sambil tersenyum sopan, menatap ibu Jay yang membalasnya dengan hangat.
"Sama-sama, Marven. Hati-hati di jalan, ya. Kalau lapar lagi, mampir aja," balas ibu Jay sambil melambaikan tangan.
Jay berdiri dari kursinya, meraih jaketnya, lalu menatap Marven. "Gue anterin sampai depan," katanya singkat, namun penuh perhatian.
Mereka berjalan keluar bersama, angin malam yang sejuk menemani langkah keduanya. Begitu sampai di depan pagar, Marven berbalik dan menatap Jay dengan senyum lebar.
"Jay, makasih ya udah ngajak gue makan di rumah. Serius, gue seneng banget malam ini," ucapnya dengan nada tulus.
Jay hanya terkekeh kecil. "Laper kan tadi? Untung aja nggak pulang duluan."
Marven ikut tertawa kecil, lalu menatap Jay lebih dalam. "Gue bakal jemput lo besok pagi, oke? Jangan kesiangan, ya. Gue nggak mau nungguin lo kelamaan."
Jay mengangguk, tersenyum tipis. "Iya, iya. Jangan lebay, Ven."
Setelah itu, Marven naik ke atas motornya. Ia memasang helm, melirik Jay sekali lagi sebelum mesin kendaraan dinyalakan. "I love you, Jay."
"I know." Balas Jay, sengaja menggoda Marven.
"Jawab yang bener, Atau gua perkosa disini? Mau nggak?" Ancamnya, hanya bercanda (Bohong, aslinya sih pengen)
"Haha, iya iya. I love you more, Ven." balas Jay, suaranya terdengar lembut.
Motor yang dinaiki Marven perlahan melaju, meninggalkan halaman rumah Jay. Jay masih berdiri di sana, memperhatikan lampu belakang motor Marven yang semakin jauh. Di sisi lain, Marven melaju dengan hati yang hangat, senyum kecil tersungging di wajahnya sepanjang jalan menuju rumah.
To be continued.
KAMU SEDANG MEMBACA
Favorite Rival. (END)
FanfictionNasib Jay yang malang akibat menerima taruhan dari rivalnya sendiri--Marven. Penuh percaya diri, jika dirinya yang akan menang. Namun kenyataannya justru sebaliknya. °°°° Lapak BXB! cr; pinterest, Twitter, Instagram, dll.
