Sejak Marven pergi ke Kanada, semuanya terasa berbeda buat Jay. Biasanya ada Marven yang selalu ngajak bercanda atau sekadar ngobrol soal hal-hal random. Sekarang, Jay cuma ke kantin sebentar, beli minum, terus balik ke kelas. Hidupnya terasa datar, seperti ada bagian yang hilang.
Di kelas, Jay duduk di bangku belakang bersama Karin. Mereka ngobrol soal ujian kenaikan kelas yang sebentar lagi datang. Mereka akan naik ke kelas 12 dan setelah itu lulus.
"Lu udah belajar buat ujian?" Karin membuka pembicaraan sambil menggambar sesuatu di sudut bukunya.
"Belum. Lu tau gue kan," Jay menjawab sambil tersenyum tipis, mencoba terdengar santai.
"Ih, jangan males-malesan, dong. Ujian kali ini penting banget!" Karin menatapnya serius, tapi Jay cuma mengangkat bahu.
"Ya, gue tau. Tapi belajar juga percuma kalau lagi nggak fokus," gumam Jay sambil menatap meja.
Karin memperhatikan Jay yang sejak tadi kelihatan beda. Tangan Jay terus-menerus mengecek ponselnya, jelas dia lagi nunggu sesuatu.
"Jay, lu lagi nunggu kabar dari siapa?"
Jay terdiam sebentar sebelum menjawab, "Nggak ada."
Karin nggak percaya begitu aja. Ia mengerutkan dahinya, memastikan kembali.
"Serius? Gue liat dari tadi lu kaya nggak tenang."
Jay akhirnya menutup ponselnya dan mencoba tersenyum. "Cuma ngecek doang. Nggak apa-apa kok."
Padahal, di dalam hati, dia ngerasa berat. Udah seminggu nomor Marven nggak aktif, dan itu bikin Jay nggak bisa berhenti mikirin. Karin diam saja, mungkin sadar kalau ada sesuatu yang Jay nggak mau ceritakan.
Tiba-tiba, Raya. pacar Karin datang. Dengan santai, dia langsung ngerangkul bahu Karin. "Hai, sayang. Lagi ngobrolin apa nih?" Raya tersenyum sambil melirik Jay.
Karin tertawa kecil. "Nggak jauh-jauh, soal ujian."
Raya duduk di meja depan mereka, berbalik menghadap. "Klasik banget, ya. Udah belajar belum, Jay?" tanyanya sambil bercanda.
Jay mengangguk singkat. "Ya, belajar lah, dikit-dikit."
Obrolan berlanjut jadi santai. Raya dan Karin saling bercanda seperti pasangan pada umumnya. Sesekali mereka tertawa kecil, tapi Jay cuma tersenyum tipis. Meski secara fisik ada di sana, pikirannya melayang jauh.
Dia ingat senyum Marven, cara Marven selalu berhasil bikin dia rileks meskipun lagi ada masalah. Tapi sekarang? Nggak ada yang bisa dia lakuin selain terus ngecek ponsel, berharap ada kabar dari Marven. Nihil, tetap sama.
Raya yang memperhatikan Jay mendadak nyeletuk, "Eh, Jay, lu kok diem aja? Kaya lagi mikirin sesuatu."
Jay buru-buru tersadar dan menggeleng.
"Nggak, cuma ngantuk."
Karin melirik Jay dengan tatapan ragu, tapi nggak bilang apa-apa. Sementara Raya lanjut becanda, Jay cuma bisa pura-pura ikutan, padahal hatinya terasa berat.
Oh, Fyi: Semenjak berhenti kontrak dengan Marven. Raya langsung ambil langkah buat PDKT sama Karin. Secara, dia suka Karin dari dulu. Cuman kehalang sama kata ragu dan takut di tolak. Tapi, pada akhirnya mereka justru menjalin kasih.
•••
Di ruangan sepi itu, Fabian duduk di tengah, dikelilingi oleh Arlan, Kelana, dan Javian. Wajah Fabian penuh kecemasan, sementara ketiga temannya memandangnya dengan tatapan tajam.
"Ngaku, Fab," Arlan membuka suara, dingin tapi penuh tekanan. "Barusan gue liat lu telponan sama mereka. Jangan bilang lu masih kontak sama geng brengsek itu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Favorite Rival. (END)
FanfictionNasib Jay yang malang akibat menerima taruhan dari rivalnya sendiri--Marven. Penuh percaya diri, jika dirinya yang akan menang. Namun kenyataannya justru sebaliknya. °°°° Lapak BXB! cr; pinterest, Twitter, Instagram, dll.
