Chapter 7

6 2 0
                                        




Keesokan harinya, matahari bersinar cerah, berbeda dengan suasana hati Tasya yang masih dipenuhi ketidakpastian. Pikirannya terus terjebak pada pesan misterius yang ia terima semalam. Siapa yang mengirim pesan itu? Dan kenapa mereka memperingatkannya untuk menjauhi Vino? Semua pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya, membuatnya semakin gelisah.

Tasya memutuskan untuk mengambil jeda sejenak dari kekhawatiran tentang Vino. Pagi ini dia ada janji dengan Mita yang merupakan teman sekelas dikampus, ia mengundang semua sekelas untuk menghadiri acara kampus, sebuah festival seni tahunan yang selalu ramai dengan pengunjung. Taman di kampus sudah dihiasi warna-warni dengan stand-stand seni, pertunjukan musik akustik, dan senyum ceria para mahasiswa yang menikmati suasana.

"sya! Di sini!" Mita melambai dari salah satu stand, mengenakan kemeja denim yang dipadukan dengan topi jerami, tampak lebih santai dari biasanya. Dia terlihat sedang membantu mendekorasi sebuah galeri mini yang memajang karya-karya seni mahasiswa.

Tasya tersenyum dan melangkah mendekat. "Lo sibuk banget, ya. Nggak nyangka lo bisa dapet posisi penting di acara ini."

Mita terkekeh. "Bukan gue sih yang penting, tapi karya-karyanya! Eh, ngomong-ngomong soal seni, kok nggak ajak Alya dateng ke sini? biasanya sama lo terus."

Tasya menghembuskan nafasnya."hmm lagi sibuk banget dia, biasa tadi pagi jalan sama ayang nya"

"ckckck alya Alya" Mita berdecak heran, tapi kemudian matanya menyipit penasaran. "Eh, by the way, muka lo kok kayak kusut amat deh gak kayak biasanya. ada masalah?"

Tasya terkejut dengan perkataannya, ia dengan reflek memperbaiki penampilannya "eh apa sih yang kusut!"

Mita terkekeh. "ihh bukan penampilan lo, tapi muka lo gak kayak biasanya"

Tasya mendengus "oh hmm kirain apa, ya biasa lah banyak tugas jadi agak stres!"

Mita menyipitkan matanya, ia seakan tak percaya akan ucapan Tasya, Sebelum ia bisa membalas, tiba-tiba Revan muncul dari arah kerumunan. "hai everyone, lo berdua ngapain di sini? Acaranya seru banget, nih! eh Tasya, lo udah keliling keliling?!"

Tasya memaksa dirinya untuk tersenyum. "Gue belum keliling, tadi baru aja nyampe."

"oh yaudah ayo keliling." ajak Revan kepada keduanya.

"gue gak bisa deh, soalnya jaga stand nih" tolak Mita

Revan menganggukkan kepala "oh oke deh, ayolah sya"

mereka pun mengelilingi stand-stand galeri seni, ditengah-tengah perjalanan Revan membuka suara. "Tasya Lo udah ada kabar dari vino?

Tasya terdiam sejenak, ia ingat dengan pesan semalam yang entah dikirim oleh siapa. "gue gak ada kabar soal dia, tapi kemaren gue dapat pesan dari nomor asing. pokoknya isinya tentang jauhin vino gitu."

Revan mengerutkan kening. "gue sempet dapet kabar soal Vino. Tadi pagi gue denger dari temen, katanya ada gosip kalau keluarganya lagi terlibat masalah hukum gede. Lo tahu apa-apa soal itu?"

Kata-kata Revan membuat Tasya tertegun. "Masalah hukum? Maksud lo?"

Revan mengangguk."Iya, gue nggak tau pasti, tapi katanya ada yang serius banget. Mungkin itu sebabnya Vino menghilang tiba-tiba."

Tasya semakin bingung. Apa mungkin pesan misterius itu ada kaitannya dengan masalah keluarga Vino? Selama ini, Vino memang tidak banyak bercerita tentang keluarganya, tapi Tasya tahu ada banyak ketegangan di balik sikap dingin Vino.

"Mungkin gue harus coba cari tahu lebih jauh soal keluarganya," gumam Tasya. "Ini semua terlalu aneh."

"Tapi lo harus hati-hati. Kalau masalah ini benar-benar melibatkan keluarganya, jangan sampai lo terjebak di tengah-tengahnya."

Tasya tahu Revan benar, tapi perasaan ingin membantu Vino lebih kuat dari rasa takutnya. "Gue nggak bisa diem aja, van. Gue nggak mau ninggalin Vino sendirian dalam masalah ini."

Revan hanya bisa mengangguk, meski jelas terlihat dari raut wajah mereka bahwa mereka juga khawatir.

***

Malam harinya, setelah hari yang panjang di acara seni kampus, Tasya duduk di kamar sambil memandangi layar ponselnya. Dia belum mendapat kabar apapun dari Vino, tapi firasatnya mengatakan bahwa waktunya hampir tiba untuk bertindak. Dia mencoba mencari keberanian untuk menghubungi Vino lagi, meski mungkin tidak akan ada balasan.

Namun, sebelum dia sempat mengirim pesan, teleponnya tiba-tiba berdering. Layar menunjukkan nama yang sudah lama dia tunggu: Vino.

Dengan cepat, Tasya mengangkat teleponnya. "Vino! Kamu di mana? Kenapa nggak jawab pesan-pesanku?"

Suara Vino terdengar pelan di seberang sana, suaranya serak dan terdengar lelah. "Maaf, sya. Gue... gue nggak bisa bicara banyak sekarang. Ada hal-hal yang harus gue beresin dulu."

"Vino, gue khawatir sama lo! Lo baik-baik aja kan? Gue dengar gosip soal keluarga lo... dan kemarin ada yang ngirimin pesan aneh ke gue. Mereka nyuruh gue buat berhenti nyariin lo."

Terdengar hening di seberang telepon, sebelum Vino akhirnya berbicara lagi, lebih pelan. "Itu... itu lebih rumit dari yang lo pikir. Gue nggak mau lo ikut terseret dalam masalah ini, Tasya."

"Gue nggak peduli, Vin!" potong Tasya cepat. "Gue cuma mau lo aman. Kalau lo butuh bantuan, kasih tau gue."

Vino terdiam cukup lama sebelum akhirnya berkata, "Percayalah, sya. Ini bukan sesuatu yang bisa gue selesaikan dengan mudah. Tapi gue akan coba tetap tenang, dan lo jangan khawatir. Gue bakal balik lagi... saat semuanya selesai."

Tasya merasa frustrasi dengan jawaban samar itu. "Vino, lo nggak sendirian. Gue di sini buat lo."

Terdengar helaan napas dari Vino, seolah dia sedang menahan sesuatu yang berat. "Terima kasih, Tasya. Gue... gue janji akan jelasin semuanya nanti. Tapi sekarang, tolong jangan cari gue dulu."

Lalu, tanpa peringatan, telepon itu diputus. Tasya menatap layar ponselnya dengan bingung, merasa seolah semakin banyak pertanyaan yang tak terjawab. Apa sebenarnya yang terjadi di balik semua ini? Dan kenapa Vino terus menjauh?

***

Hari-hari berlalu, dan meski matahari terus bersinar di langit kampus, suasana hati Tasya tetap mendung. Kelas demi kelas ia jalani dengan pikiran yang melayang. Suatu siang, ketika Tasya sedang berada di perpustakaan, Revan datang menghampirinya dengan ekspresi serius.

"Tasya, lo harus lihat ini," katanya sambil menyerahkan ponselnya ke Tasya. Di layar ponsel itu, terpampang sebuah berita besar yang membuat jantung Tasya hampir berhenti berdetak.

"Skandal Keluarga Trizyan: Korupsi, Penyalahgunaan Kekuasaan, dan Investigasi yang Memanas."

Tasya menatap layar dengan perasaan campur aduk. Keluarga Vino... terlibat skandal besar? Apa ini alasan Vino menghilang? Apa ini juga alasan dia meminta Tasya untuk menjauhinya?

Revan menatapnya khawatir. "Ini lebih besar dari yang kita pikir, sya. Keluarga Vino sekarang jadi sorotan publik. Mungkin itu sebabnya dia nggak mau lo terlibat."

Tasya terdiam, otaknya sibuk mencerna semua informasi baru ini. Sekarang semuanya mulai terasa masuk akal—pesan misterius, sikap Vino yang menjauh, dan semua masalah keluarga yang selalu dia sembunyikan. Tapi meski begitu, perasaannya tetap sama: dia tidak akan meninggalkan Vino.

"Gue nggak peduli seberapa besar masalah ini," gumam Tasya dengan suara tegas. "Vino butuh seseorang, dan gue nggak akan ninggalin dia."

Revan tersenyum tipis. "Gue tahu lo bakal bilang itu."

Tasya menghela napas panjang. Dia tahu jalan di depan tidak akan mudah, tapi dia juga tahu bahwa dia tidak akan mundur.

Langit di luar masih cerah, tapi Tasya tahu badai akan segera datang. Dan ketika itu terjadi, dia sudah siap menghadapi semuanya—bersama Vino.

Bersambung...

Wahh ada skandal nihh keluarganya vino, penasaran enggak kalian,🤭
jangan lupa divotee yaaa
감사합니다

The Love SempiternalTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang